Istri Pemarah Adalah Cobaan

Love Story

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

Kadang mempertahankan harga diri bukan segala-galanya saat sang anak menjadi prioritas utama. Meski menjadi bulan-bulanan sang istri, Tejo (40), nama samaran, tetap bertahan. Ia pun harus memperbanyak stok sabar.

Cacian dan makian dari sang istri karena uang yang diberikan untuk kebutuhan harian dirasa tidak cukup, menjadi alasan utama sang istri menjadi sosok yang tak ia kenali lagi. Apa sebabnya? Begini ceritanya.

Dalam ajaran agama manapun, istri memang harus patuh dan taat kepada suami, selagi suaminya berada di koridor yang baik. Istri pun harus menjadi pendorong dan penyemangat suami dalam mencari nafkah, juga menjaid penyejuk sang suami saat segala masalah datang bertubi-tubi.

Namun pada realitanya, masalah yang menerpa kadang membuat seseorang berubah. Tidak ada lagi romantisme yang muncul seperti saat masa pacaran atau baru pertama kali menikah. Ikrar yang terucap saat menikah 26 tahun lalu, seakan sirna tak tersisa. Surti (35), bukan nama sebenarnya semakin hari menjadi tak terkendali. Tak ada hal lain yang dikeluhkan selain uang yang tak cukup. Jangankan untuk membeli pakaian dan perhiasan, untuk makan ia dan ketiga anaknya saja ia harus rela berhutang pada tetangga.

Dahulu, Surti adalah tipe istri idaman Tejo. Sifatnya yang lembut dan penuh perhatian, menjaid daya tarik bagi Tejo. Namun kini Surti menjadi pemarah dan acuh terhadap anak dan suami. “Jangankan perhatian, masak nasi saja jarang. Setiap hari ngomel mulu nggak ada bosennya, malah bikin kepala pusing serasa mau pecah,” curhat Tejo.

Tejo yang berprofesi sebagai tukang servis elektronik bilang, perubahan sifat istrinya diakibatkan dari penghasilannya yang tak seberapa. “Yah namanya juga tukang servis, kalau lagi ramai ya hasilnya lumayan, tapi kalau lagi sedikit ya hasilnya juga sedikit. Penghasilan yang seadanya kadang nggak cukup untuk memenuhi kebutuhan ekonomi,” katanya.

Faktor ekonomi memang menjadi alasan dari perubahan sifat Surti menjadi istri pemarah dan cuek terhadap suami. Penghasilan Tejo yang tidak menentu kadang tidak cukup untuk menghidupi ketiga anaknya yaitu Sarman (25), Tika (13), dan Aceng (7). Ketiganya bukan nama sebenarnya.

“Mau gimana lagi, kemampuan saya hanya servis elektronik. Barang yang selesai diservis pun belum tentu langsung dibayar. Terima nggak terima ya harus siap kena omel, meski kadang nggak tahan terlalu pusing,” ungkapnya.

Dengan perilaku istrinya yang menyebalkan itu, Tejo mengalami titik jenuh. Ia sempat memilih menjalin hubungan dengan wanita lain karena merasa tidak tahan dengan perilaku istrinya yang semakin hari semakin menjadi.

“Meski harga diri sebagai suami sering tidak dihargai, saya memilih bertahan. Kasihan anak-anak jika rumah tangga bubar, dan saya terlanjur sayang meski harus sakit hati setiap hari karena merasa tidak dihargai,” tambahnya.

Tejo mengaku, sebagai solusi untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia memutuskan untuk meminjam uang ke bank dan diberikan kepada istri untuk dijadikan sebagai modal usaha kecil-kecilan. “Sebetulnya pinjam uang ke bank ini jadi beban tambahan untuk saya. Tapi mau gimana lagi, dengan begitu istri saya tahu kalau nyari uang sekarang susah, beda dengan dulu saat awal menikah,” akunya.

Namun dengan usaha kecil-kecilan yang dijalani Surti saat ini, belum mengubah perilakunya yang suka mengomel dan selalu merasa kurang untuk menutupi kebutuhan ekonomi. Meski hingga saat ini Surti masih uring-uringan, Tejo mengaku tidak akan meninggalkan wanita yang telah melahirkan anak-anaknya itu. Ia menyadari, mungkin Tuhan mengirimkan istri semacam itu untuk menambah pahala dan menjadi tiket ke surga kelak.

“Saya selalu berdoa, semoga istri saya berubah dan menjadi wanita yang akan mendampingi saya di surga nanti,” pungkasnya. (Wivy-Zetizen/Radar Banten)