Yang namanya manusia, pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Namun, apa yang dialami Konah (42) nama samaran, membuat sang suami, sebut saja Tole (45) kebingungan menjelaskan peristiwa yang menimpa sang istri tercinta, disebut anugerah atau musibah.

Soalnya, berbeda dari wanita atau manusia pada umumnya, Konah memiliki kemampuan yang jarang dimiliki orang awam. Bisa melihat dan berinteraksi dengan makhluk di dunia lain, terkadang membuatnya tak sadar dan malah kesurupan. Oalah, seram amat sih, Kang!

“Duh, Kang, bukan seram-seram lagi. Saya sampai bosan manggil ustaz dan orang pintar kalau dia lagi kesurupan,” curhat Tole kepada Radar Banten.

Seperti diceritakan Tole, sang istri sebenarnya terlahir dari keluarga yang taat beribadah. Bahkan, alasan mengapa ia memilih Konah pun karena sang istri memang terkenal sebagai wanita solehah. Tak pernah menanggalkan kerudung dan sering memakai pakaian muslimah, Konah sukses membuat Tole jatuh cinta.

Maklumlah, sejak kecil Konah sudah dimasukkan ke sekolah agama. Tak hanya itu, bahkan ketika remaja, ia tinggal di asrama di salah satu pesantren modern ternama di daerahnya. Meski memahami betul bagaimana konsep agar terhindar dari hal-hal yang berbau mistik, pada kenyataannya tetap saja ia sering kesurupan.

“Wih, ngajinya mah rajin, Kang. Siang malam dia zikir terus. Tapi, ya memang sudah keturunannya begitu sih!” kata Tole. Hah? Keturunan bagaimana maksudnya, Kang?

“Jadi, uyut dia dulunya memang orang yang juga bisa lihat begituan dan bisa ngobatin orang. Nah, katanya istri saya juga sebenarnya bisa sekalian ngobatin orang yang kena begituan, tapi dia enggak mau,” terang Tole.

Singkat cerita, bertemulah Konah dengan Tole. Lewat peran seorang teman, mereka yang awalnya tampak malu-malu kucing, akhirnya tak bisa membohongi perasaan. Tole yang sudah ngebet ingin meminang wanita, menemukan pelabuhan cinta.

Tole sebenarnya berasal dari keluarga berada. Ayah pekerja di perusahaan ternama, ibu memiliki usaha warung di depan rumah. Meski begitu, mereka tetap bersikap sederhana. Tapi, lingkungan tempat tinggal yang masuk daerah kota membuat masa kecil Tole tidak terlalu intens dalam mempelajari agama.

Nah, karena hal itulah, ketika hendak mencari calon istri, atas saran orangtua dan keluarga, ia diminta mencari wanita solehah dan paham agama. Katanya sih agar bisa saling membimbing ke jalan yang benar. Pucuk dicinta ulam pun tiba, seolah diwujudkan keinginannya, Tole mendapat kekasih baik dan salehah.

Tak menunggu waktu lama, seolah tak ingin kehilangan sang wanita, Tole beserta keluarga datang ke rumah Konah. Membawa cincin berlian serta niat ikhlas menuju pelaminan, mereka dipersatukan dalam ikatan pertunangan. Sambil merencanakan tanggal pernikahan, kedua keluarga saling berinteraksi mengenal latar belakang masing-masing.

Dua bulan kemudian, hari yang ditunggu-tunggu pun datang. Menyebar undangan ke seluruh penjuru kampung bahkan sampai ada yang ke luar kota, halaman rumah Konah ramai dipenuhi tamu. Mengikat janji sehidup semati, Tole dan Konah resmi menjadi sepasang suami istri.

Pada awal pernikahan, semua berjalan lancar dan tak ada tanda-tanda yang janggal. Tole bersikap baik, mengayomi istri, dan menafkahi. Konah pun melayani suami sepenuh hati. Hubungan dengan kedua keluarga terjalin sempurna. Dengan ekonomi yang mumpuni, keluarga Tole sering membawakan sesuatu setiap silaturahmi ke rumah keluarga sang istri.

Hingga berjalan tahun kedua pernikahan, mereka dikaruniai anak pertama. Bayi laki-laki lucu dan menggemaskan, membuat hubungan keduanya semakin mesra. Tak ayal, sang ibu pun sering datang ke rumah, bermain dengan sang cucu tercinta, rumah tangga mereka diselimuti kebahagiaan.

Sampai suatu malam, sambil melepas lelah sepulang kerja, ketika Tole sedang asyik bermain bersama sang anak, ia dikagetkan dengan suara keras meja yang dipukul dari arah dapur. Penasaran dengan apa yang terjadi, berkali-kali memanggil sang istri. Anehnya, tak ada jawaban atau sahutan sedikit pun.

Tole pun menidurkan anaknya, ia melangkah menuju dapur dengan perasaan waswas. Perlahan, dibukanya pintu dan melihat sang istri tertelungkup dengan tatapan kosong. Tak hanya itu, dengan rambut acak-acakan, Konah mengerang mengeluarkan suara aneh.

Bingung dengan apa yang terjadi, Tole berulang kali menenangkan sang istri. Bukannya membaik, Konah malah semakin keras menjerit. Dipanggillah ustaz yang kebetulan tinggal samping rumah. Tak lama kemudian, satu per satu keluarga termasuk orangtua ikut menenangkan Konah. Sampai satu jam berlalu, setelah diobati, barulah Konah sadar dengan tubuh lemas.

Parahnya, keesokan harinya hal serupa terjadi lagi sampai berkali-kali. Lantaran mengira Konah tak cocok tinggal di rumah baru bersama Tole, ia pun dipindahkan untuk tinggal bersama orangtua. Anehnya, semua sia-sia. Dalam waktu sebulan, ia bisa lima kali kesurupan. Sampai suatu ketika, mungkin lelah dengan apa yang terjadi terhadap anaknya, ibunda Konah berbicara sesuatu yang menyakitkan Tole. Aih, memang ngomong apa, Kang?

“Katanya, dulu sebelum nikah enggak sampai begini banget, tapi setelah nikah dan punya anak, kok kesurupannya makin parah,” kata Tole meniru ucapan sang ibu mertua.

Tole tak terima, ia marah tapi tidak berani mengungkapkan. Akhirnya, diam-diam ia pulang ke rumah orangtua dan menceritakan semua yang terjadi. Masalah rumah tangganya memang aneh, sang ibu pun ketakutan. Bahkan, mungkin karena takut jika terjadi sesuatu menakutkan pada Tole, ia menyarankan anaknya untuk menceraikan. Astaga.

Beruntung hal itu dicegah sang ayah. Tole dinasihati agar tetap kuat bertahan. Dengan penuh wibawa, ia memberi solusi agar dibawa ke orang pintar yang sudah terkenal bisa menyembuhkan hal-hal semacam itu. Tole pun lekas kembali pulang. Besoknya, bersama kakak ipar dan beberapa saudara, ia mengobati istri ke luar kota. Hebatnya, meski terkadang masih mengalami hal serupa, rumah tangga mereka tetap berjalan sempurna.

Sabar ya Kang. Kasihan Teh Konah kalau sampai diceraikan. Yang penting rajin ibadah dan berdoa, insya Allah, hidup bahagia! (daru-zetizen/zee/dwi)