Isyroqi Nur Muhammad Limi’roji, Penyandang Tunanetra Hafal 30 Juz Alquran Lima Tahun

0
53

JAKARTA – Pesantren Darunnajah Jakarta menggelar Musabaqoh Hifzhul Quran yang ke-3 Antar-Pondok Pesantren se-Indonesia. Kegiatan ini terselenggara dari hasil kerjasama Pesantren Darunnajah dengan Lembaga pendidikan Alquran, Doha, Qatar. Peserta acara ini berasal dari seluruh kota Indonesia berjumlah sebanyak 426 hafidz dan hafidzoh.

Salah satu pesertanya Isyroqi Nur Muhammad Limi’roji. Keterbatas fisik tak menghalangi santri asal Pondok Pesantren Bidayatul Hidayah, Mojokerto, ini untuk mengikuti perlombaan.

Santri penyandang tunanetra berusia 17 tahun yang kini masih duduk di kelas 3 Madrasah Aliyah itu semenjak kecil memiliki cita-cita untuk menjadi penghafal Alquran seperti ayahnya yang dulunya juga seorang hafiz. Selain cita-cita tersebut, wasiat sang ayah sebelum meninggal agar ia menjadi seorang penghafal Alquran semakin menumbuhkan semangatnya untuk menjadi seorang penghafal.

“Saya mulai menghafal Alquran ketika saya berumur 8 tahun dan alhamdulilah selesai di umur 13. Saya ingin mengamalkan wasiat ayah saya yang telah berpulang ke rahmatullah terlebih dahulu. Saya ingin menjadi seorang hafiz seperti almarhum ayah saya yang juga seorang hafiz. Dulu almarhum pernah menjadi juara tahfiz di Jakarta,” kata Isyroqi dikutip dari siaran pers, Minggu (29/10).

Perjuangannya untuk mampu menghafal Alquran tidaklah mudah. Metode yang ia tempuh untuk menghafal menggunakan metode sima’ah. Ia harus mendengarkan ibunya membacakan kalimat per kalimat ayat – ayat Alquran. Ia juga menggunakan rekaman suara untuk menghafalkan ayat-ayatnya. Bahkan ia sampai menangis saat sang ibu tetap memaksanya ketika ia sedang malas menghafal.

“Ketika pertama kali saya membaca Alquran, saya harus mendengarkan ibu saya ketika beliau mendiktekan kepada saya kalimat per kalimat ayat – ayat Alquran. Saya juga menggunakan rekaman suara untuk menghafal. Ketika saya sedang malas-malasnya, ibu tetap memaksa saya untuk tetap menghafal, hingga akhirnya saya menghafalkan Alquran sambil menangis,” lanjut Isyroqi.

Isyroqi berpesan kepada generasi penerus bangsa untuk selalu bersemangat dalam menghafal Alquran dan selalu mengimbangi antara usaha dan doa. Di akhir perkataannya, juga berpesan agar bukan hanya sekadar menghafal tapi juga lancar dalam menghafal.

“Saya berpesan agar mereka selalu bersemangat dalam menghafal Quran, jangan mudah menyerah, dan imbangi selalu antara usaha dan doa, serta usahakan bukan hanya sekadar menghafal, namun juga lancar dalam menghafalkan Alquran,” tukas Isyroqi. (Aas Arbi)