JAKARTA — Satu persatu relawan Presiden Joko Widodo mengungkapkan kekecewaan di 100 hari masa pemerintahan Jokowi-JK. Pasalnya, Jokowi-JK dianggap mengeluarkan kebijakan yang kontradiktif dengan apa yang dijanjikan saat pemilu.

Salah satu yang mengeluhkan itu adalah relawan Jokowi-JK, Ferdinand Hutahaean. Ia bahkan mengaku menyesal memilih mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut.

“Saya gemas sekali. Rasanya saya mau dukung Prabowo. Tapi pilpresnya sudah lewat,” ujar Ferdinan melalui keterangan pers yang dikutip JPNN, Kamis (29/1/2015).

Ferdinand kecewa karena menilai Jokowi belum benar-benar berdaulat dalam menggunakan kekuasaan yang ada digenggaman tangannya. Alias masih dikendalikan partai.

Selain itu, Ferdinand juga mengkritik saat presiden memilih Sudirman Said menjadi Menteri ESDM. Menurutnya, banyak langkah Sudirman yang tak pro rakyat. Sudirman dianggap mafia dalam Kabinet Kerja Jokowi-JK. Terutama dalam menjalan UU Minerba yang berhubungan dengan pembangunan smelter.

“Saya kira dia bagian dari mafia. Karena tidak tegas Ketika UU Minerba ini berpihak kepada rakyat dimana mewajibkan para petambang membangun pengolahan (smelter) agar kita tahu berapa hasil tambang yang didapat perusahaan tambang di Indonesia,” paparnya.

Menurutnya komitmen Freeport untuk membangun smelter hanyalah omong kosong belaka lantaran smelter akan dibangun di Gresik, Jawa Timur.

“Aneh kalau Freeport mau membangun smelter di lahan sewa milik semen gresik. Ini wacana yg menipu. Seolah-olah mereka ada niat padahal hanya bohong dan omong kosong,” tegasnya.

Bahkan, Ferdinand menuding perpanjangan izin operasi yang diberikan pemerintah sengaja dilakukan ditengah kegaduhan pencalonan Kapolri.

“Freeport ini polemik besar. Terbungkus rapi disela pencarian calon Kapolri,” ujarnya. Namun, kini izin itu telah ditandatangani sehingga sebagai relawan ia hanya bisa mengungkapkan kekecewaan pada Jokowi-JK. (flo/jpnn)