Kisah rumah tangga Komuk (31) nama samaran bisa dibilang pahit tapi enak. Bagaimana tidak, menikahi gadis anak juragan durian, sebut saja namanya Enjum (30), membuat ekonomi dan martabat meningkat. Tapi, karena perilaku Komuk yang tak mau bekerja keras dan hanya mau enak saja, ia dibenci keluarga istri. Akibatnya, perceraian pun terjadi. Aih.

Ditemui Radar Banten di wilayah Kecamatan Mancak, Komuk tampak sibuk menata letak durian dagangannya. Dari penampilannya, terlihat kalau Komuk sosok lelaki yang mengikuti tren perkembangan zaman. Pakaiannya modis dengan jeans biru dan kemeja kancing terbuka, Komuk begitu pede meski wajahnya tak cocok dengan fashion gaya anak muda. Hehe. Komuk pun menceritakan kisah masa lalunya.

Komuk adalah warga Jakarta yang memilih tinggal di Serang mengikuti keluarga istri. Katanya, masa kecil Komuk penuh tantangan dan perjuangan. Terlahir dari keluarga miskin, membuatnya menekuni segala macam pekerjaan mulai dari tukang parkir, pedagang kaki lima, sampai pernah menjadi calo tiket bus di terminal Pasar Senen.

Hingga suatu hari, lantaran tak ada perubahan hidup di ibukota, Komuk sempat pergi ke beberapa daerah bersilaturahmi kepada teman berharap dapat pekerjaan. Tibalah hari dimana Komuk mengunjungi Kota Serang, saat itulah ia dikenalkan dengan Enjum oleh temannya.

“Pas pertama ketemu sih biasa saja. Tapi setelah kenal dekat dan tahu kalau dia tipe perempuan yang enggak mandang harta, baru deh perasaan cinta itu muncul,” terang Komuk. Ciyee.

Intens berhubungan melalui telepon, Komuk dan Enjum semakin hari semakin dekat. Saling curhat-curhatan sampai pada tahap sayang-sayangan, setahun kemudian mereka pun resmi jadian. Menjalankan hubungan jarak jauh alian LDR-an, Enjum dan Komuk tak sanggup berlama-lama menjalani status pacaran.

Singkat cerita, tiga bulan kemudian, Komuk pun mengajak sang wanita pujaan hatinya menuju hubungan lebih serius. Mengikat janji sehidup semati, Komuk dan Enjum resmi menjadi sepasang suami istri. Dengan pesta pernikahan meriah, tamu undangan tampak ikut berbahagia.

Di awal masa pernikahan, Komuk bersikap penuh perhatian. Seraya menjaga kelakuan agar terlihat baik di depan keluarga sang istri, Komuk selalu mengajak keluarga istri jalan-jalan ke Jakarta. Berbagai tempat hiduran dikunjungi, Komuk jadi menantu yang sering dipuji.

“Ya dibawa ke Monas, Dufan, dan Ancol saja senangnya luar biasa. Kalau keluarga bahagia, istri juga pasti bakal kasih kebahagiaan ke saya,” kata Komuk.

Seiring berjalannya waktu, sang istri tercinta pun melahirkan anak pertama. Membuat hubungan mereka semakin mesra. Berkat kehadiran sang buah hati, Komuk pun menjadi lebih leluasa tinggal bersama keluarga istri. Ia tak canggung lagi. Alhasil, Komuk sering dapat jatah bagian penjualan durian jika musimnya tiba.

“Hehe, ya alhamdulillah, Kang. Lumayan buat beli kaus dan sepatu mah ada,” aku Komuk.

Kalau sudah begitu, biasanya Komuk mengajak sang istri jalan-jalan ke Jakarta. Sekalian menjenguk keluarga, Komuk mengaku, sering mengajak Enjum ke hotel-hotel berbintang. Dengan berbekal uang hasil jual durian dan surat pernikahan, mereka bebas memilih hotel favorit di ibukota. Wih, ngapain, Kang?

“Ya biasalah, menikmati hidup dengan cara begituan di tempat mewah,” aku Komuk. Widih, ngeri amat sih Kang Komuk ini.

Namun, kenikmatan hidup bergelimang harta, nyatanya membuat Komuk lupa daratan. Mentang-mentang di rumah Enjum banyak pegawai yang bekerja di kebun durian, Komuk malah bersikap layaknya bos yang berkuasa. Mulai berani menyuruh ini dan itu pada karyawan, Komuk mulai tidak disuakai keluarga istri. Aih.

Parahnya, kemarahan Enjum dan keluarga terjadi saat musim panen durian besar-besaran. Saat itu Komuk mendapat tugas berjualan duren di salah satu wilayah di Kota Serang. Hasil jualan durennya laku keras, hampir seminggu sekali ia meminta kiriman duren satu mobil losbak. Dua bulan kemudian, bukannya menyetor uang kepada ayah Enjum, Komuk malah pergi ke Jakarta. Astaga.

“Ya waktu itu saya khilaf, Kang. Namanya sudah megang uang puluhan juta, dibawa ke Jakarta ya habis buat foya-foya,” aku Komuk. Oalah.

Dua minggu kemudian Komuk pun pulang ke rumah Enjum. Ketika ditanya uang hasil penjualan durian, Komuk menjawab sejujurnya kalau uangnya habis dengan alasan ada keperluan keluarga. Namun, hal itu justru membuat keluarga Enjum kecewa. Apalah daya, mungkin karena malu dan kecewa, Enjum pun memarahi Komuk di depan keluarganya.

Tak disangka, bukannya sadar akan kesalahan dan meminta maaf, Komuk malah berbalik emosi. Ia tak terima pada sikap Enjum yang tak membela. Saat itulah sikap aslinya keluar. Membentak-bentak Enjum dan keluarga, Komuk pergi entah ke mana.

Sejak saat itu, hubungannya dengan Enjum bagai air dan minyak. Tak pernah menyatu dan berlawanan. Sebulan kemudian, mereka pun resmi bercerai. Komuk pun diberi jatah lima buah pohon durian untuk modal menghidupi satu anak.

Sebulan kemudian, Enjum menikah lagi dengan lelaki anak rekan sang ayah. Sedangkan Komuk, sampai hari ini masih menikmati hidup sebagai duren alian duda keren.

Oalah. Makanya lain kali jangan bawa kabur uang jualan dirian, Kang. Ya, semoga cepat dapat istri ya, Kang. (mg06/zee/ags)