Jadi Tempat Pengoplos Miras, Dua Rumah Digerebek di Ciomas

Ditemukan Bunker Penyimpanan Miras

SERANG – Dua buah rumah di Kampung Nagrek, Desa Siketug, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Serang, digerebek polisi, Senin (14/5). Kedua rumah itu diduga digunakan sebagai lokasi mengoplos minuman keras (miras) berbagai merek.

Informasi yang diperoleh, rumah milik Has alias Udin dan Mul itu digerebek polisi sekira pukul 14.00 WIB. Saat digeledah, polisi menemukan ratusan botol miras, bahan baku miras, dan alat pres tutup botol. “Setelah dicek lokasi, tempat yang dicurigai oleh masyarakat untuk produksi miras oplosan, ditemukan ada dua rumah yang terdapat ratusan botol berbagai merek dan alat seadanya,” kata Kapolres Serang Kota Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Komarudin ditemui di lokasi.

Polisi menemukan sebuah bunker dari kediaman Mul. Pintu bunker itu ditutupi menggunakan sebuah kasur. Ruangan itu diduga kuat dijadikan sebagai lokasi peracikan miras. Ratusan botol miras, bahan baku, serta alat pres tutup botol ditemukan. “Di salah satu rumah ditemukan sebuah bunker. Di bawah itu dijadikan tempat produksi miras,” jelas Komarudin.

Di rumah Has alias Udin, polisi menemukan ratusan botol miras di bagian belakang rumah. Sedangkan bahan baku serta alat pres tutup botol ditemukan berada di dalam kamar belakang. “Produksinya sangat tradisional, campuran tanpa ada takaran dan langsung diedarkan di pasaran. Bahan baku ada alkohol, campuran gula, ada bahan kimia. Untuk membuktikan berbahaya atau tidak (bahan kimia-red), tentunya kami akan ajukan ke laboratorium lebih dahulu,” beber Komarudin.

Polisi masih mendalami keterangan kedua pelaku terkait peracikan dan peredaran miras yang diakui belum berlangsung lama. “Pengakuan masih baru. Tapi, itu boleh saja (pengakuan-red). Kita akan kembangkan, di mana peredarannya. Kebetulan tinggal di sini sudah dua sampai tiga tahun,” kata Komarudin.

Namun berdasarkan pengakuan kedua pelaku, miras oplosan itu didistribusikan ke sejumlah warung dan toko yang ada di Kabupaten dan Kota Serang. “Sampai saat ini masih didalami terus. Tersangka masih dalam pemeriksaaan,” kata Komarudin.

Atas perbuatan tersebut, kedua pelaku terancam dijerat dengan Undang-Undang Perdagangan dan Undang-Undang Kesehatan. “Pembuatan oplosan tentu tidak berizin dan sangat tradisional,” kata Komarudin.

Popon, warga sekitar mengaku, tidak mengetahui kedua tetangganya memiliki bisnis ilegal. Sebab, tidak terlihat aktivitas mencurigakan dari kedua rumah tersebut. “Saya mah enggak open (mengurusi-red). Kalau Udin, kerjanya mah sales. Kalau Bos Mul mah punya warung jamu,” ucap Popon.

Berbeda dengan Sahroji. Warga Desa Siketug itu mengaku, sudah lama mencurigai kedua pelaku. Tetapi, dia tidak memiliki bukti atas kecurigaannya. “Kami sangat berterima kasih (penggerebekan-red). Curiga sih ada. Tapi, enggak punya bukti. Sekarang baru ketahuan, dia (Mul-red) juga orangnya tertutup,” kata Sahroji.

Dikatakan Sahroji, selama ini, warga tidak pernah melihat kedua pelaku mengangkut barang-barang mencurigakan ke dalam rumah. “Kalau pulang malam (Mul-red), pakai mobil APV (minibus-red). Kan enggak mungkin, mau diberhentikan sama kita,” kata Sahroji. (Merwanda/RBG)