Kisah rumah tangga Ipeh (48), nama samaran, bisa dibilang mengenaskan. Mencari nafkah demi keberlangsungan rumah tangga sampai ke luar negeri, malah dikhianati sang suami, sebut saja Oji (50). Dua tahun bekerja keras, bahkan rutin kirim uang setiap bulan, pulang-pulang malah disambut wanita yang diketahui istri baru Oji. Astaga.

Ditemui Radar Banten di Kecamatan Lebakwangi, ibu tiga anak itu bersikap ramah dan baik. Sambil mengupasi bawang merang, Ipeh yang siang itu mengenakan daster cokelat bermotif batik dengan kerudung abu-abu, bercerita tentang kisah masa lalunya.

Seperti diceritakan Ipeh, kisah cintanya bersama Oji dimulai sejak kedua orangtua menjodohkan mereka. Katanya, meski saat itu Ipeh tak mencintai Oji, begitu pun sebaliknya, rencana perjodohan mereka tak bisa diganggu gugat karena orangtua sudah sepakat. “Ya namanya tradisi orang dulu mah begitu, Kang. Nikah ya nikah saja meski enggak cinta,” kata Ipeh.

Ipeh mengaku, Oji sebenarnya lelaki baik. Namun lantaran penampilan serta wajahnya yang tak terlalu tampan, membuat Ipeh tak begitu tertarik. Terlebih, saat itu Oji berstatus pengangguran. Itu membuat Ipeh semakin tak bersemangat menikah. Meski begitu, ada satu hal yang membuat Ipeh gemas pada Oji. Yakni, postur tubuh kekar dengan otot yang menimbul.

“Ya katanya sih dia memang sering mencangkul dan angkat padi di sawah. Suka aja lihatnya gemas,” aku Ipeh.

Diceritakan Ipeh, Oji terlahir dari keluarga sederhana, ayah petani dan ibu sibuk mengurus rumah, Oji anak ketiga dari empat bersaudara. Katanya, Oji temasuk lelaki pekerja keras. “Selain badannya kekar, dia juga berkulit hitam legam gitu,” aku Ipeh.

Lain Oji lain pula dengan Ipeh. Katanya, wanita berkulit sawo matang dan berbadan gemuk itu, saat muda termasuk wanita cantik. Saat itu keluarga Ipeh tengah jaya lantaran hasil panen yang selalu bagus. Ipeh yang merupakan anak terakhir dari dua bersaudara, selalu dimanja dan dituruti kemauannya. Namun, tetap saja, kalau urusan jodoh, sang ayah yang berkuasa.

Singkat cerita, Ipeh dan Oji pun melangsungkan pernikahan. Dengan pesta sederhana, mereka tampak bahagia. Alunan musik dangdut pun menambah semarak hari bersejarah bagi keduanya. Meski awalnya mengaku tak cinta, jika sudah di atas pelaminan, Ipeh dan Oji tampak berbahagia.

Di awal pernikahan, baik Ipeh maupun Oji saling menjaga perasaaan. Mereka tinggal bersama keluarga Ipeh di Kampung Tirem. Saat itu, kehadiran Oji sangat membantu ayah Ipeh menggarap sawah. Ia menjadi menantu andalan yang dibanggakan.

“Ya namanya sudah rumah tangga, lama-lama rasa cinta bisa tumbuh sendiri,” kata Ipeh.

Setahun kemudian, Ipeh pun melahirkan anak pertama. Hubungannya dengan Oji semakin harmonis. Rumah tangga mereka diselimuti kebahagiaan. Kehidupan rumah tangganya dengan Oji di awal pernikahan sangat menggairahkan. Aih, menggairahkan bagaimana maksudnya, Teh?

“Ya begitulah, Kang. Masa harus diceritain,” kata Ipeh sambil tertawa geli. Ya enggak apa-apa diceritain sedikit mah, Teh.

“Ya pokoknya dia bikin saya ngos-ngosan gitu, kang. Tahan lama pas di ranjang,” aku Ipeh.

Seiring berjalannya waktu, kehidupan rumah tangga keduanya mulai memasuki fase penuh tantangan. Kebutuhan ekonomi yang semakin hari semakin mencekik, membuat hubungan antara Ipeh dan Oji merenggang. Terlebih, sang suami yang tak punya pekerjaan pasti alias serabutan, hanya bisa menafkahi untuk makan sehari-hari.

“Penghasilan suami enggak menentu, kadang kalau lagi ada kerjaan panggilan jadi kuli angkut barang di Ciruas, paling cuma Rp200 ribu sampai lima Rp500 ribu sebulan,” curhat Ipeh.

Parahnya, keadaan semakin tak menentu saat Ipeh kembali melahirkan anak kedua. Lantaran suami yang tak berdaya saat kebutuhan sehari-sehari tak terpenuhi, Ipeh beberapa kali sempat meminjam uang pada tetangga. “Duh, kalau dibilang malu mah malu, Kang. Tapi, ya keadaannya begini,” keluh Ipeh.

Hingga sang anak mulai beranjak balita, Ipeh nekat mendaftarkan diri menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri. Meski sempat mendapat larangan dari keluarga dan suami, tetapi keputusan Ipeh sudah bulat. Tiga bulan setelah pendaftaran, Ipeh pun berangkat menuju Arab Saudi untuk mengais rezeki.

Setiap bulan rutin mengirimkan uang kepada Oji, ekonomi rumah tangga mereka meningkat. Bahkan hebatnya, setelah tiga tahun kemudian, berkat tabungan uang hasil kerja keras Ipeh, Oji membangun rumah sederhana tak jauh dari rumah orangtua Ipeh. “Alhamdulillah saya dapat majikan baik di Arab, Kang,” kata Ipeh.

Empat tahun bekerja, Ipeh pulang setahun sekali. Hingga suatu hari, saat memasuki tahun kelima di negeri perantauan, Ipeh pun pulang untuk menenguk suami dan kedua buah hati yang selama ia kerja diurus sang nenek. Namun, apalah daya, saat sampai di rumah, Ipeh disambut pelukan penuh derita dari ibunya. Sang ibu mengatakan sesuatu yang membuat Ipeh terbakar emosi. Aih, apa katanya, Teh?

“Katanya, sabar ya, Nak. Suamimu sudah menikah lagi sebulan lalu,” kata Ipeh meniru ucapan sang ibu.

Sontak Ipeh langsung menjerit tak terima pada kenyataan. Ia mencari Oji. Setelah tahu lokasi rumah Oji yang dibangun hasil jerih payahnya menjadi TKI, Ipeh berlari menghampiri. Benar saja, ketika menggedor pintu, Oji sedang asyik berduaan menonton televisi bersama istri barunya. Keributan pun tak dapat dihindari. Aih-aih.

Seminggu kemudian, lantaran tak ada solusi terkait masalah rumah tangga Ipeh dan Oji, keduanya pun resmi bercerai. Ipeh mengambil alih hak rumah dan mengusir Oji. Kini, Ipeh masih sendiri, sedangkan Oji pergi dari kampungnya entah ke mana.

Ya ampun, sabar ya Teh Ipeh. Semoga segera mendapat suami lagi. Amin. (Haidaroh/Hilal)