Tak ada hal yang jauh lebih indah selain jalan-jalan bersama pasangan. Begitulah kalimat yang jadi kunci keharmonisan antara Cimeng (41) dan Amoy (40), keduanya nama samara. Menjalin asmara sejak muda, mereka saling mencintai dan mengerti kemauan satu sama lain.

“Banyak yang bilang kita pasangan romantis yang enggak pernah cekcok atau ribut urusan rumah tangga. Sebenarnya enggak gitu juga, semuanya sama, bahkan mungkin ributnya parahan kita. Tapi, ada cara ampuh biar bisa kembali mesra,” kata Cimeng menggoda. Wih, memang bagaimana caranya, Kang?

“Karena saya dan istri punya hobi sama, yaitu senang jalan-jalan, jadi ya kalau ada masalah, ajak saja jalan, nanti juga kelar urusan,” tutur Cimeng kepada Radar Banten.

Seperti diceritakan Cimeng. Meski ia dan istri memiliki hobi jalan-jalan, bukan berarti mereka berasal dari keluarga berada. Justru sebaliknya, ayah dan ibu berprofesi sebagai guru honorer, masa kecil Cimeng berlangsung penuh tantangan. Sering mengalami perundungan lantaran tidak memiliki apa yang dimiliki teman-teman, Cimeng kecil termasuk anak cengeng.

“Wah, kalau ngomongin masa kecil, saya suka sedih. Teman-teman beli sepeda, saya cuma bisa lihat doang. Yang lain pakai sepatu baru, saya masih sepatu lama yang bolong-bolong,” terang Cimeng mengenang masa lalu.

Meski begitu, Cimeng tidak menyerah pada keadaan. Beranjak remaja, ia diminta membantu usaha paman dan diberi upah. Sepulang sekolah rutin bekerja, Cimeng menabung untuk membuka usaha. Sampai lulus SMA, bukannya melanjutkan kuliah, ia malah berdagang.

Apesnya, entah karena belum rezeki atau memang tidak mempunyai kemampuan berbisnis, usaha Cimeng hancur berantakan. Uang tabungan yang selama ini dikumpulkan ludes tak tersisa. Apalah daya, mencoba bangkit dari keadaan, Cimeng memutuskan bekerja di salah satu perusahaan ternama di Cilegon.

Dan saat itulah Cimeng mulai menemukan sang belahan jiwa. Berkat peran seorang teman, ia dikenalkan dengan Amoy yang merupakan wanita asli Cilegon. Memiliki perasaan sama, tiga bulan melakukan pendekatan, mereka resmi jadian.

“Haha, waktu itu bete saja pulang kerja enggak ada yang diajak jalan. Jadi, ya sudah deh pacaran. Dan kebetulan langsung merasa nyaman sama dia,” curhat Cimeng malu-malu.

Singkat cerita, tak kurang dari setahun menjalin asmara, Cimeng dan Amoy sepakat menuju pelaminan. Dengan pesta sederhana dan mengundang teman serta sanak saudara, keduanya resmi menjadi sepasang suami istri. Atas kesepakatan bersama, Cimeng pun tinggal di rumah sang istri dan keluarga.

Di awal pernikahan, Cimeng berusaha beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Mencoba mendapat hati keluarga sang istri, setiap gajian ia membeli makanan dan barang-barang keperluan rumah. Pokoknya, selagi ada uang demi kenyamanan hidup menumpang, apa pun Cimeng lakukan.

Berjalan dua tahun usia pernikahan, Cimeng dan Amoy dikaruniai anak pertama, membuat hubungan bersama keluarga semakin harmonis dan mesra. Dengan kehadiran bayi laki-laki nan lucu, seluruh keluarga menjadi akrab dengan Cimeng. Ia bahagia luar biasa.

Apesnya, seperti banyak dialami karyawan perusahaan pada umumnya, kontrak kerja Cimeng habis di waktu yang tidak tepat. Dengan sisa uang tabungan yang tak seberapa, Cimeng memutar otak mencari penghasilan baru. Hingga sebulan tak juga menemukan jalan keluar, akhirnya Cimeng dan Amoy memutuskan pindah ke Serang.

Tinggal bersama keluarga, kini giliran Amoy yang beradaptasi. Suami tak punya pekerjaan tetap, Amoy kerap mengeluh. Hingga akhirnya Cimeng mencoba membangun usaha bersama teman. Mulai dari bisnis laundry sampai berjualan pulsa dan token listrik, perlahan ekonomi sehari-hari mulai terpenuhi.

Seiring berjalannya hari, keadaan tetap tak berubah, semua usaha yang dilakukan seperti jalan di tempat. Setiap pemasukan per bulan pasti habis untuk kebutuhan. Lantaran terpengaruh dengan lingkungan dan perkembangan zaman, di usia kelima pernikahan, Cimeng dan Amoy mengalami masa-masa sulit penuh tantangan.

“Ya, waktu itu posisinya sudah ada dua anak. Sedangkan usaha gitu-gitu saja. Ya meski enggak sampai mengutang, tapi susahnya bikin pusing dan kadang malah jadi ribut sama istri,” curhat Cimeng.

Sampai suatu sore selepas asar, ketika Amoy baru selesai memandikan kedua buah hati, Cimeng pulang dengan wajah lemas bagai orang tak semangat menjalani hidup. Amoy yang melihat suami seperti itu, lekas menyuruh salat dan mandi. Setelah selesai dan wangi, Amoy pun mendekati sambil berkata halus.

“Semangat ya, Kang! Usahanya yang sabar, insya Allah, nanti juga ketemu jalannya,” kata Cimeng meniru ucapan sang istri.

Setelah diperlakukan seperti itu, bagai mendapat energi baru, Cimeng tersenyum, ditatapnya wajah sang istri dan kedua buah hati. Sambil memasang wajah ceria, Cimeng mengajak jalan-jalan sore. Sontak kedua anak yang masih balita berjingkrak kegiarangan.

Menikmati suasana sore di alun-alun kota dan bertegur sapa dengan masyarakat, membuat Cimeng dan Amoy terlihat berbahagia. Anehnya, sejak saat itu jalan-jalan sore minimal seminggu sekali seolah menjadi jadwal rutin yang selalu mereka lakukan. Hingga sepuluh tahun berjalan, sang anak pun sudah beranjak remaja, dengan kekuatan atas keharmonisan yang dibangun bersama istri tercinta, usaha Cimeng perlahan meningkat.

Kini ia dan istri, mungkin sebulan atau dua bulan sekali, rutin pergi berlibur bersama keluarga. Meski harus menanbung dan menyisihkan uang yang tak seberapa, bagi Cimeng, berlibur mampu memberi kebahagiaan dan keharmonisan yang tak bisa dibayar dengan uang.

“Ya walau cuma ke tempat-tempat di sekitar Kota Serang seperti kolam renang, pantai atau taman-taman, tapi bagi saya dan istri itu sudah cukup membuat bahagia. Yang penting kan kebersamaannya,” kata Cimeng.

Subhanallah, ya semoga Kang Cimen dan keluarga bisa terus jalan-jalan ke tempat yang lebih jauh supaya tetap harmonis. Amin. (daru-zetizen/zee/dwi/RBG)