Jalin Hubungan Terlarang dengan Janda Anak Dua, Diamuk Istri Tercinta

Yuk yak yuk Shay. Selingkuh lagi selingkuh lagi. Demen banget. Pada enggak sadar kali ya, serapat-rapatnya menyimpan bangkai, pasti tercium baunya. Sepandai-pandainya bersandiwara, harum parfum selingkuhan pasti tercium juga. Kira-kira begitulah kalimat yang cocok mengawali kisah rumah tangga Jaed (46) nama samaran. Menjalin hubungan terlarang dengan janda anak dua, Jaed diamuk sang istri tercinta, sebut saja namanya Junah (46).

Ditemui Radar Banten di Kecamatan Cikande, Jaed tampak duduk di sebuah warung sambil santai menyeruput kopi. Lelaki yang berprofesi sebagai sopir angkot jurusan Serang-Mauk itu tampak sedang menanti waktu jemput karyawan pabrik.

Jaed bercerita, awalnya ia bertekad tak akan mengkhianati ketulusan cinta Junah. Tapi, apalah daya, bosan dengan keluhan sang istri tentang rumitnya masalah ekonomi. Jaed memilih menyegarkan pikiran dan perasaan dengan mendatangi rumah selingkuhan.

“Ya pusing banget setiap pulang dengar omelan istri. Mending main ke selingkuhan, disuguhi makan dan kopi, diperhatiin lagi,” aku Jaed sambil tertawa.

Namun, Jaed mengaku, sejak menjalin hubungan dengan sang janda, meski hidupnya menjadi lebih bahagia, tapi keuangan semakin tak terkendali. Ya iyalah, kan setorannya dobel.

Anehnya, Jaed mengaku, rayuan sang janda ketika meminta uang padanya jauh lebih menggoda ketimbang saat Junah menagih uang untuk makan sehari-hari. Iyalah, janda dilawan.

Jaed bercerita, pertemuannya dengan Junah berawal ketika keduanya menghadiri acara pengajian Maulid Nabi di masjid kampung. Sejak awal ceramah sampai akhir acara, Jaed tak bisa melepaskan pandangannya dari Junah yang duduk di kursi tempat wanita. Junah yang merasa diperhatikan, hanya bisa tersipu malu membalas tatapan Jaed.

Hingga acara selesai, saat jamaah bergegas pulang, Jaed justru menghampiri Junah dan mengajak mengobrol sambil jalan pulang. Hingga mereka dipisahkan persimpangan jalan, Jaed pun meminta nomor telepon Junah. Tapi, saat itu Junah tak punya telepon. Jadilah mereka berpisah tanpa menyimpan kontak yang bisa dihubungi. “Saya mah yakinnya waktu itu kita bakal ketemu lagi,” aku Jaed.

Sampai di rumah, Jaed tak bisa melupakan bayang cantiknya wajah Junah. Sosoknya yang baik dan salihah, membuat Jaed jatuh cinta pada pandang pertama. “Dia cantik, tapi enggak sombong. Itu tipe perempuan yang saya cari,” kata Jaed.

Jaed termasuk lelaki gagah. Meski wajahnya tak terlalu tampan, tetapi postur tubuhnya yang kekar dan ideal, dengan kulit cokelat dan tampak otot-ototnya, mampu menarik perhatian kaum hawa di kampungnya.

Keesokan harinya, apa yang diyakini Jaed jadi kenyataan. Ketika Jaed melintasi jalan lewat depan pasar, ia berjumpa dengan Junah. Saat itu keduanya tampak malu-malu. Sejak saat itu, Jaed yang mengantar Junah sampai ke rumah, menjadi sering berkunjung dan berkenalan dengan kedua orangtua sang wanita. Sebulan menjalankan masa pendekatan, keduanya pun pacaran. Ciyeee.

Tapi, lantaran status Jaed sebagai pengangguran. Ayah Junah menunjukkan sikap cuek padanya. Hal itu berbeda dari ibu dan seluruh keluarga sang kekasih yang lebih santai. Akhirnya, lantaran keinginan menikahi Junah sudah tak terbendung lagi, Jaed pun mulai bekerja menjadi kenek angkot.

Sebulan kemudian, setelah Junah merengek minta menikah, sang ayah langsung meminta Jaed melamar anaknya. Dengan uang seadanya, Jaed pun menikahi Junah dengan pesta pernikahan sederhana. Hanya mengundang saudara dan tetangga, mereka resmi menjadi sepasang suami-istri.

Di awal pernikahan, keduanya tinggal di rumah Junah. Setahun kemudian Junah pun melahirkan anak pertama. Membuat hubungan keduanya semakin mesra dan bahagia. Jaed pun semakin semangat bekerja.

“Ya pas anak pertama lahir saya pokoknya bertekad buat bahagiakan istri,” akunya.

Seiring berjalannya hari, kehidupan rumah tangga Jaed dan Junah dipenuhi beragam tantangan. Mulai dari masalah ekonomi, sampai hal-hal kecil tentang kebiasaan Jaed yang malas mandi sepulang narik angkot. Junah pun sering marah karena tak bisa tidur lantaran bau badan suami.

“Ya habisnya badan sudah terlanjur capek banget, bawaannya pengin langsung tidur,” kilahnya.

Hingga suatu hari, desakan ekonomi menambah keruh suasana rumah. Setiap pulang narik, Junah yang awalnya sabar perlahan mulai menunjukkan sikap aslinya. Sering marah pada suami menuntut uang yang tak mencukupi, membuat Jaed tertekan dan tak betah di rumah.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, Jaed yang tampak murung dan tak semangat mencari penumpang, ditawari teman untuk berkenalan dengan janda anak dua yang katanya sedang kesepian. “Awalnya saya iseng-iseng doang penasaran pengin ketemu doang,” aku Jaed.

Tapi, ya ibarat kucing dikasih ikan teri, saat berkenalan dan mendapat kesan baik dari sang janda, Jaed jadi ketagihan dan malah sering berkunjung menemui. Apalah daya, sejak saat itu, Jaed pun memutar otak membagi penghasilan. Tapi, meski dibuat pusing menafkahi dua cinta, Jaed merasa bahagia karena sang janda memberi perhatian lebih. “Waktu itu dia kasih saya parfum, wanginya enak banget,” ungkap Jaed.

Sejak saat itu, Jaed pun selalu harum. Berangkat kerja pakai parfum, pulang kerja juga selalu harum. Tapi, tak disangka, lantaran harum parfum Jaed yang berlebihan, hal itu justru membuat sang istri timbul kecurigaan. Hebatnya, dengan sandiwara tingkat dewa, setiap pertanyaan Junah bernada curiga tentang parfum, mampu diselesaikan Jaed dengan mudah.

“Ya saya sih biasa saja. Saya jawab, kan ini supaya kamu nyaman sama aku,” kata Jaed mencontohkan ucapannya kepada Junah sambil cekikikan.

Namun, apalah daya, pada akhirnya kebohongan pun terbongkar juga. Jaed tak bisa menolak keinginan sang janda yang ingin ikut narik angkot. Di tengah perjalanan, layaknya suami istri, sang janda begitu perhatian pada Jaed yang sedang menyetir mobil. Mengelap keringat di dahi, memberi minum, dan menyalakan rokok di mulut, keduanya seolah sedang membawa mobil pribadi.

Apesnya, suatu ketika ada tetangga Jaed yang naik ke angkotnya. Jaed mulai merasa tak nyaman. Parahnya, hal itu tak disadari sang janda. Ya sudah, terbongkarlah rahasia hitam perselingkuhan Jaed. Sepulang ke rumah, Junah langsung mengamuk. Sebulan kemudian, keduanya pun resmi bercerai.     

Astaga, lagian Kang Jaed ada-ada saja, sudah susah malah selingkuh, ya tambah susah. Jadikan ini pelajaran ya, Kang. (Haidaroh/RBG)