Jampi-jampi Biar Benci Ortu Sendiri (Bag 1)

Love Story

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

Pertengkaran antara menantu perempuan dan ibu mertua bukan hal aneh. Bahkan tidak jarang persoalan ini berlanjut hingga perang jampi-jampi. Setidaknya ini terjadi dalam keluarga Timan (30), nama samaran. Ia diduga dijampi Sutini (34), nama samaran istri Timan, agar Timan bersikap dingin kepada Minten (69), nama samaran ibu Timan.

Dugaan ini muncul karena Timan tiba-tiba berubah sikap kepada ibunya. Bahkan dugaan tersebut semakin kuat ketika Timan kembali bersikap normal setelah keluarga Timan meminta bantuan kepada seorang kyai. “Sepertinya saya memang diguna-guna. Karena secara tiba-tiba saja saya merasa benci kepada ibu saya sendiri. Padahal saya tidak punya permasalahan apa-apa dengan ibu,” kata Timan.

Berdasarkan petunjuk sang kyai, sebuah benda aneh di dalam kasur menjadi perantara guna-guna tersebut. Benda itu pun disita dan dijadikan alat bukti untuk menyudutkan Sutini. “Waktu saya tanya tentang benda itu, Sutini tidak bisa berkata-kata. Artinya, dia memang diduga kuat mengguna-guna saya agar benci kepada ibu,” tutur Timan.

Menurutnya, hubungan Sutini dengan Minten memang tidak akur sejak awal. Ini terpicu dari jenjang usia Sutini yang jauh lebih tua dari Timan. “Ibu khawatir kalau Sutini akan menguasai saya. Karena usia Sutini jauh lebih dewasa, sehingga saya tidak bisa menjadi kepala keluarga yang baik. Itu yang membuat ibu tidak suka,” jelasnya.

Sepertinya yang memulai persoalan ini memang Minten. Kekhawatiran yang berlebihan memicu sikap yang tidak mengenakan dari Minten kepada Sutini. Minten kerap terlalu mengatur Sutini dalam menjalankan rumah tangga. Ini membuat Sutini merasa kehilangan kebebasan, baik sebagai seorang istri maupun ibu rumah tangga.

Tidak bisa dipungkiri, menantu wanita yang tinggal satu atap dengan ibu mertua sangat rentan konflik. Apalagi ketika mertua terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya. Kenapa itu bisa terjadi? Karena tanpa tidak disadari telah terjadi perebutan kekuasaan antara menantu wanita dan ibu mertua. Seperti pada kasus rumah tangga Timan, Minten tidak rela jika ada ibu rumah tangga kedua di dalam rumahnya.

“Menurut saya, ibu tidak suka kalau Sutini bersikap seperti ibu rumah tangga. Yah, seperti ingin atur ulang ruang tamu, ganti warna gorden, cat tembok, dan lain-lain,” tuturnya.

Dugaan ini terjadi ketika Sutini sempat mengganti gorden ruang tidur, dari warna biru menjadi pink. Keesokan harinya, gorden tersebut kembali berwarna biru karena Minten tidak suka dengan warna pink. “Pernah suatu waktu, Sutini perang dingin dengan ibu gara-gara masalah gorden. Sutini sudah beli gorden baru, tapi ibu tidak suka dengan warna gorden itu,” jelas Timan.

Tidak hanya itu, Minten sering mengkritisi cara memasak Sutini. Kritikan Minten tidak membangun karena dilontarkan tanpa memberikan solusi. “Sutini juga sering mengadu, kalau dia dimarahi ibu karena tidak bisa memasak. Padahal ia biasa masak di rumah, hanya resepnya berbeda dengan masakan di rumah kami,” ujar Timan.

Seperti halnya memasak sayur asem, kata Timan, Sutini terbiasa membuatnya dengan dicampur bumbu cabai. Sementara Minten tidak pernah memasukkan bumbu cabai pada sayur asem. Begitu pula ketika memasak semur daging. Sutini mencampur bumbu-bumbu semur dengan cabai sehingga seperti rabeg. Padahal Minten terbiasa memasak semur daging yang hitam kental dan manis.

Perbedaan-perbedaan ini membuat Sutini dan Minten sulit akrab. Bahkan ketika pernikahan mereka mencapai usia keenam, mantu dan mertua ini sering terlibat pertengkaran. Awalnya Timan sering mendamaikan kedua perempuan yang ia sayangi itu. Namun seiring waktu, pertengkaran mereka semakin sulit diatasi. Bersambung…