Janda Kaya Penyebab Derita

Ibarat peribahasa, bergaul dengan tukang minyak wangi pasti akan jadi wangi, hal itu juga diharapkan Udin (29) nama samaran, yang menikahi janda kaya, sebut saja Ine (41), akan menjadi orang kaya. Tapi, harapannya pupus karena mertua termasuk orang pelit, rumah tangga yang belum genap setahun pun kandas. Astaga.

Ditemui Radar Banten di Kecamatan Tunjungteja, Udin siang itu baru selesai makan siang di salah satu warung nasi padang. Sambil main ponsel, Udin bercerita soal pengalamannya menikah dengan janda.

Udin mengaku menyesal memilih Ine sebagai istrinya. Soalnya, waktu itu ia sudah dijodohkan orangtua dengan gadis tetangga, sebut saja Leli (28). Tapi karena terlalu memikirkan urusan ekonomi, ia memilih Ine yang sudah mapan karena keluarganya punya banyak sawah. Sedangkan Udin cuma pegawai bank biasa di Kota Serang. “Saya mikirnya supaya habis nikah tuh bisa bahagiain orangtua dan biayain adik-adik sekolah,” katanya.

Diceritakan Udin, pertemuannya dengan Ine bermula di salah satu minimarket  di Tunjungteja. Malam itu hujan deras, Ine dan anaknya tidak bisa pulang karena tidak bawa jas hujan. Udin yang pulang kerja, meminjamkan jas hujan. “Waktu itu saya belum tahu kalau dia janda,” katanya.

Ine meminta nomor telepon Udin agar mudah komunikasi untuk mengembalikan jas hujan. Besoknya Ine pun datang ke rumah Udin, waktu itu hujan dan mereka mengobrol tentang latar belakang masing-masing. “Orangnya asik juga, enggak kaku diajak ngobrolnya,” kata Udin.

Udin yang baru tahu kalau Ine janda anak satu, merasa kaget sekaligus penasaran. Biasalah, hasrat kelelakiannya muncul dengan ingin kenal lebih dekat. Apalagi, Ine termasuk wanita cantik. Bentuk tubuhnya juga seksi karena sering memakai pakaian ketat dan bermerek. “Gayanya mah kayak masih gadis gitulah,” katanya.

Udin tak kalah rupawan. Wajahnya ganteng, badannya bagus dan tinggi, setiap bekerja juga selalu mengenakan kemeja dan dasi. Ditambah lagi gaya rambutnya yang selalu klimis dan tersisir rapi. “Kan tuntutan kantor harus rapi,” katanya.

Singkat cerita, kedekatan mereka semakin intens. Udin sering main ke rumah Ine bertemu keluarga, begitu pun sebaliknya. Sampai akhirnya, mereka sepakat untuk menikah.  “Nah, besoknya, bapak bilang mau jodohin saya sama anak gadis tetangga,” katanya.

Udin awalnya merasa bimbang, antara memilih Ine si janda kaya, atau Leli anak gadis tetangga yang baru selesai sekolah di pondok pesantren. Kebingungannya bertambah setelah melihat langsung sosok Leli yang tak kalah cantik dari Ine. Tapi, kemudian, Udin berpikir lagi, kalau ia menikah dengan Leli pasti harus usaha lebih keras lagi supaya ekonomi tercukupi. “Kalau sama Ine mah kan sudah tinggal enaknya saja, keluarganya kaya,” pikir Udin waktu itu.

Akhirnya keputusannya pun bulat untuk menikah dengan Ine. Meski bapaknya sempat tidak merestui, tapi Udin teguh dengan keputusannya. Pernikahan berlangsung meriah, Udin dan Ine berbahagia menikmati hari-hari baru dalam rumah tangga.

Mengawali rumah tangga, Udin dan Ine tinggal bersama keluarga mempelai wanita. Waktu itu sih enggak ada masalah, semuanya lancar-lancar saja. Udin dan Ine saling menyayangi, mereka bulan madu di Bandung selama tiga hari. “Pokoknya, senang banget, saya juga bisa langsung belajar jadi bapak,” ungkapnya.

Seiring berjalannya waktu, Udin mulai tahu karakter keluarga Ine. Katanya, meski punya banyak uang, Ine dan keluarganya termasuk orang yang pelit. Hal itu terbukti dengan makan sehari-hari yang porsinya dibatasi. “Awalnya saya mengira mereka cuma hemat, eh ternyata pelitnya kebangetan,” katanya.

Udin semakin merasa tidak nyaman saat ia dilarang memakai fasilitas mobil milik keluarga Ine. Padahal Udin cuma meminjam sebentar untuk memindahkan barang-barang dari rumah. “Saya juga sering disindir penghasilannya kecil, enggak bisa nafkahi istri,” keluhnya.

Bukan hanya keluarga, Ine yang ia anggap perempuan baik, ternyata memiliki sikap sama. Ya kan buah jatuh enggak jauh dari pohonnya.

Kata Udin, sudah pelit, permintaannya belanjanya juga besar, beli inilah, itulah. “Boro-boro mau bantu adik sekolah, uang tabungan saya habis buat modalin istri belanja,” katanya.

Udin tidak tahan, sejak itu ia mulai jarang pulang. Udin bercerita kepada bapaknya soal masalah rumah tangga, tapi ia dimarahi. Udin semakin bimbang, akhirnya, sembilan bulan usia pernikahan, Udin menggugat cerai Ine. “Mending udahanlah, pusing, kalau diterusin bisa stres saya,” katanya.

Ya ampun, sabar ya, Kang Udin. Makanya, lain kali jangan lihat cewek dari hartanya. (mg06/zee/ira)