Jangan Anggap Remeh Pendidikan untuk Masyarakat Pesisir

Ilustrasi.

Indonesia memiliki jumlah Pulau mencapai 17.508 Pulau. Itu artinya semua orang dibelahan dunia tahu kalau Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan kekayaan alam yang sangat melimpah tentunya. Kemudian pertanyaan besarnya apakah masyarakat di pesisir (penghuni) pulau-pulau kecil sadar akan sumber daya alam atau potensi baharinya? Nah penulis akan membahas tentang Pendidikan Masyarakat Pesisir terutam masyarakat pesisir di Pulau Tunda, Serang Banten.

Pedidikan di masyarakat pesisir terutama masyarakat Pulau yang jauh dari akses, penting untuk diperhatikan, sebab mereka adalah orang-orang “penjaga” sekaligus penghuni perairannya dari negara-negara tetangga (pencuri ikan) sebut saja salah satunya adalah nelayan Malaysia yang sedang marak belakangan ini tertangkap oleh Tentara Negara Indonesia, Angkatan Laut (TNI-AL) lantaran mencuri ikan diperairan Indonesia. Sebetulnya hanya di perairan pulau-pulau tidak berpenduduk yang memiliki potensi besar ikannya dicuri nelayan asing.

Menurut hemat penulis sebaiknya TNI-AL tak perlu repot-repot patroli untuk mengejar, menagkap nelayan ilegar (nelayan negara asing) bahkan mengebom perahu nelayan Malaysia itu. Baiknya adalah Pemerintah pusat bekerjasama dengan pemerintah daerah khusunya kabupaten, kecamatan, dan kelurahan atau pemerintah desa dan masyarakat setempat untuk membangun sumber daya manusianya yang ada di pesisir. Terutama membuka wawasan kebangsaan, wawasan tentang kelautan, pentingnya menjaga sumber daya alam demi keberlangsungan hidup mereka (masyrakat pesisir), dan pemberdayaan lainya yang sesuai kebutuhan masyrakat pesisir. Dengan demikian masyrakat pesisir akan sadar pentingnya menjaga kekayaan alam yang dimilikinya. Supaya turut menjaga NKRI, kelestarian alam, dan memanfaatkannya dengan bijaksana.

Maka penting memberdayakan masyrakat pesisir di Indonesia. Terutama memberikan pelayanan pendidikan supaya tidak tertinggal dan atau tidak dapat dibodohi oleh siapa pun. Sebab kita ini adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Belum lagi pulau-pulau yang memiliki potensi alam yang baik, ini jangan sampai masyarakat pesisir (Pulau) tidak mengetahui akan potensi sumber daya alam yang dimiliknya.

Sekarang kita ambil contoh masyarakat pesisir yang ada di Pulau Tunda, Kalau kita amati masyarakat pesisir terutama di Pulau Tunda, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, dari potensi alamnya memiliki potensi yang besar terutama di wisata bahari. Cocok untuk dijadikan salah satu destinasi wisata alam (snorkeling, diving dan wisata edukasi hutan mangrove-nya) sebab keadaan terumbu karang dan hutan mangrove-nya masih dalam keadaan baik. Masyarakat di Pulau Tunda mayoritas pekerjaanya adalah nelayan pancing dan rata-rata pedidikannya lulusan Sekolah Dasar (SD) atau Sekolah Menengah Pertama (SMP). Luas Pulau Tunda diperkirakan mencapai 300 hektar, dihuni 1500 jiwa lebih.

Nah bagamaimana kalau kita tanyakan ke masyarkat Pulau Tunda mengapa pendidikannya hanya tamat sampai SD atau SMP? Barangkali mereka akan menjawab seperti ini: sebeb untuk menjadi nelayan tidak perlu ijazah atau sekolah tinggi-tinggi. Kemudian untuk bekerja menjadi nelayan tak perlu juga repot-repot melamar membawa map yang berisikan riwayat hidup atau ijazah bahkan tak sekolah pun bisa bekerja menjadi nelayan. Kemudian alasan lainya adalah minimnya sumber daya manusia ditingkat pendidikan di Pulau Tunda, dikarenakan akses yang sulit dijangkau oleh para pemuda yang ingin sekolah. Sebab itulah yang menjadi perhatikan, sekaligus penghambat terbesar bagi masyrakat Pulau Tunda. Sedangkan fasilitas pendidikan di Pulau Tunda hanya ada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), SD, SMP dan Madrasah Diniyah. Jika ada pemuda yang hendak melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas (SMA) atau ke Perguruan Tinggi mereka harus keluar, ke kota Serang. Lalu mereka menyebrang menggunakan transportasi umum (Kapal) yang tiap minggunya hanya tiga kali, yaitu senin, rabu dan sabtu. Selama sekolah, mereka harus nge-kost atau ngontrak rumah. Otomatis biaya yang dikeluarkan bertambah. Sementara, itupun yang menjadi penghambat orang-orang tua masyarakat Pulau Tunda untuk menyekolahkan anaknya. Sebab penghasilan menjadi nelayan pancing tak seberapa jika dibandingkan dengan pekerja-pekerja buruh pabrik dan lainnya yang memilili gajih tetap.

Itu artinya bukan karena tak berkeinginan masyarakat di Pulau Tunda membangun sumber dayanya sendiri. Hal ini dikarenakan fasilitas pendukung yang belum memadai. Oleh sebab itu pemerintah harus mendukung dan memfasilitasi aktivitas masyarakat di pesisir, terutama fasilitas pendidikan. Tentunya bukan hanya di Pulau Tunda saja. Melainkan seluruh pulau-pulau kecil berpenduduk di seluruh Indonesia.

Jika sumber daya manusia masyarakat pesisir itu sudah baik. Kemudian sudah mengetahui potensi sumber daya alamnya, maka akan ia kelola menjadi sumber ekonomi. Lantas secara tidak langsung masyarakatnya sendiri yang akan menjaga kelestarian alamnya. Masayarakat tidak hanya mengelola dan memanfaatkan alamnya saja, akan tetapi mejaga, dan memanfaatkannya dengan baik dan bijaksana. Demi keberlangsungan hidup anak cucunya.

Dengan demikian masyarakat pesisir tidak hanya memiliki pekerjaan sebagi nelayan pancing atau semacamnya. Tetapi juga memilik pekerjaan lain yang dapat ia ciptakan secara kelompok atau individu dengan mandiri. Sehingga menjadi masyarakat pesisir yang mandiri dan sejahtera. Kemudian dapat menyekolahkan anak-anaknya ke SMA atau Perguruan Tinggi tanpa mengkhawatirkan beban biaya lagi, sebab sudah punya penghasilan lebih.

Oleh sebeb itu pendidikan adalah modal utama untuk pengetahuan, mendapatkan gagasan atau ide-de baru, mengetahui dunia baru untuk pendewasaan diri, supaya dapat berpikir maju dikemudian hari dan dapat diterapkan dikehidupan sehari-hari. Penting, terutama untuk masyarakat pesisir yang jauh dari akses. Sebab sumber daya alam yang baik tanpa didampingi oleh sumber daya manusia yang baik pula, lama kelamaan sumber daya alam itu akan hancur, baik disadari atau tidak. *


Penulis Husaini Bayusegara, lahir di Pulau Tunda, 28 Agustus 1991. Alumni Untirta Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pengagum ketinggian dan kedalaman juga puisi. Ketua Hima Diksatrasia Untirta 2013. Presidium FAM Untirta 2014. Berigiat di Kubah Budaya, Belistra Unitrta, Taman Bacaan Pulau Tunda, dan Gerakan Pemuda Maritim Indoneia. E-mail: husanibayusegara@yahoo.co.id.