Jangan Suka Sedih, Karena Sedih Bisa Bikin…

0
514 views
Ilustrasi (Dite Surendra/jawa pos/jawapos.com)

Pernahkah merasakan kesedihan mendalam hingga tubuh jatuh sakit? Ada penjelasan kesehatan mengenai hal itu, termasuk cara untuk bertahan melewati masa-masa buruk dalam hidup tersebut.

KITA sering mendengar tentang seseorang yang menanggung duka mendalam setelah kepergian sosok yang dicintai hingga kondisi fisiknya melemah. Yang terburuk, ada yang menyusul berpulang tak lama kemudian. Dr dr Minarma Siagian MS AIFM, staf pengajar Departemen Fisiologi FK Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa sebenarnya tubuh memiliki kemampuan untuk menghadapi kondisi apa pun. ”Yang mengatur adalah otak, yaitu pada sistem limbik,” ujarnya, dilansir JawaPos.com.

Sistem limbik terdapat di bawah korteks otak. Termasuk di dalamnya ada talamus, hipotalamus, dan hipokampus. Unsur emosi seperti sedih, senang, takut, marah, serta kenangan ada pada sistem limbik tersebut. ”Nah, sistem limbik kadang bisa lepas kendali,” ucap dr Minarma.

Apa yang terjadi pada tubuh saat stres datang? Tubuh sebetulnya dilengkapi alarm yang akan bereaksi saat muncul stres. Ada dua mekanisme pertahanan tubuh terhadap stres, yaitu fight or flight. Mengatasi stres atau kabur/menyerah.

Ada aksis hipotalamus-hipofisis serta korteks adrenal untuk membantu tubuh mengatasi stresor-stresor tersebut. Antara lain, gula darah dinaikkan, hormon-hormon yang meningkatkan tekanan darah dikeluarkan sehingga tubuh mampu melawan stres atau emosi yang muncul.

Stres fisik maupun emosi merangsang produksi hormon kortisol yang diperlukan tubuh sebagai penyedia energi dan pengendali stres. Namun, efek sampingnya berpotensi melemahkan sistem imunitas tubuh. Itulah mengapa ketika mengalami tekanan, seseorang mudah terkena flu, demam, sakit perut, dan gangguan kesehatan lainnya.

”Dalam kondisi ketika emosi yang dihadapi terlalu hebat, semua sistem yang disiapkan tubuh itu gagal,” papar ahli fisiologi senior tersebut. Seolah organ tubuh mendapat ”perintah” dari otak untuk menyerah. Flight (kabur/menyerah) dalam arti makin lama fungsi organ-organ tubuh menurun hingga kondisi terburuknya, meninggal. Atau, mengalami depresi. Kemungkinan lain, menjadi manic. ”Itu, antara lain, akibat dari kegagalan mengatasi stres,” urainya. Maka, sejatinya organ yang paling berperan adalah otak, sedangkan hati merupakan organ sasaran dari otak.

Sementara itu, ketika seseorang jatuh cinta, mata akan melebar, debar jantung meningkat, dan wajah memerah. Hal itu merupakan kerja hormon-hormon yang dikendalikan hipotalamus pada otak, bukan hati. Melalui hipotalamus, otak memberikan sinyal pada kelenjar hipofisis untuk mengatur hati. ”Otak memberi perintah, eh, bikin gulanya ditinggikan, nih orang perlu energi untuk ujian atau mau melamar pacar,” bebernya.

Peran hati lebih banyak berkaitan dengan sistem imunoglobulin. Ketika patah hati atau berduka atas kepergian sosok tercinta, manifestasi kesedihan itu berpengaruh terhadap fisik. ”Satu per satu kemampuan organnya menurun,” jelas dr Minarma. Terutama pada lansia, kemampuan untuk bertahan dari stresor semakin lemah. (nor/c7/ayi/tia/JPG)