Jarang Layani Istri, Jono Sukanya sama Lelaki

KALAU masalah ekonomi mungkin sudah biasa, Jono (39) dan Nina (38), keduanya nama samaran, sudah melewati masa-masa kritis dalam membangun bahtera rumah tangga. Tapi, memiliki hidup sejahtera nyatanya tak membuat mereka bahagia.

Bisnis sang suami yang semakin hari semakin maju, ternyata menyimpan borok dalam diri Jono yang membuat sang istri murka. Bagaimana tidak, kebiasaan sang suami bolak-balik Jakarta mengurusi bisnis justru membawa pengaruh buruk bagi kepribadiannya. Hah, maksudnya bagaimana, Teh?

“Saya enggak menyangka, pantas saja dia jarang mau saya ajak begituan, ternyata nafsunya sudah bukan lagi ke perempuan,” kata Nina kepada Radar Banten.

Hal itu diawali dengan sikap dan cara berpakaian Jono yang mengalami perubahan. Sang suami yang dulu senang mengenakan kaos santai, kini jadi lebih rapi serta paling waswas soal kebersihan. Menganggap itu hal biasa, Nina santai saja menjalani hidupnya.

Parahnya, bukan hanya sikap dan penampilan, Jono pun tak pernah lagi bermesraan dengan Nina. Setiap pulang bekerja, seolah menganggap istri pelayan rumah tangga, datang hanya untuk makan, tidur, lalu pergi lagi. Hubungan dengan Nina diibaratkan sebatas pertemanan biasa.

“Saya sih awalnya mengira mungkin dia terlalu capek kerja, jadi pas pulang sudah lemas duluan,” tutur Nina.

Hingga suatu waktu, Jono jadi sering pergi bahkan tak pulang sampai berhari-hari. Anehnya, ia tak berdusta, Jono meminta izin kepada Nina akan menginap di Jakarta. Mengerti kemauan suami, Nina pun mengizinkan, waktu itu masih belum ada kecurigaan.

Sampai akhirnya, lantaran rindu dan hendak menanyakan kabar, ia menelpon suami. Betapa kaget hati Nina ketika yang mengangkat justru bukan Jono, tapi suara lelaki. Namun, tak lama kemudian Jono mengambil ponselnya dan berbicara dengan Nina. Ketika ditanya, ia mengaku sedang rapat dan ponselnya dipinjam teman.

“Dari situ saya sempat curiga, Kang. Soalnya suara lelaki itu kayak dimirip-miripin suara cewek gitu, ya suara banci begitulah,” ungkapnya. Waduh.

Peristiwa itu pun terjadi juga, Jono pulang ke rumah dengan wajah berbinar-binar seraya membawa oleh-oleh untuk kedua anaknya. Besoknya, datang tamu seorang lelaki, ia mengaku dari Jakarta. Nina pun menyambut dengan hangat.

Namun ketika ia pergi ke belakang untuk menyuguhkan minuman, diam-diam sang suami duduk di sebelah tamunya. Ketika kembali membawa gelas minuman, betapa kagetnya Nina, dari samping tembok yang membatasi ruang tamu dan dapur, ia melihat sang suami saling pegang dengan sang tamu.

Antara bingung dan jijik, Nina berulang kali melihat dengan mata kepala sendiri. Betapa Jono yang ia cintai, tak berusaha sedikit pun menolak ketika tangan sang tamu menggerayangi tubuhnya. Ia pun tak langsung melabrak, mencoba bersikap biasa, Nina masuk dan terlihat betul kedua lelaki di hadapannya itu kaget luar biasa.

“Ih, pokoknya mah saya bingung waktu itu, kesal, jijik, enggak percaya, pokoknya campur aduk,” ungkapnya. Lagian, kenapa enggak langsung dilabrak saja, Teh?

“Bingung sayanya, Kang. Bagaimana sih kalau orang kaget dan enggak menyangka, enggak bisa berbuat apa-apa,” katanya.

Seperti diceritakan Nina, sejak muda, sang suami termasuk lelaki perkasa. Tak ada tanda-tanda ia menyukai sesama jenis. Bergaulnya pun dengan lelaki normal dan menjalin asmara dengan wanita layaknya pemuda pada umumnya. Apalagi dengan wajah tampan dan bentuk tubuh ideal, Jono sempat jadi pujaan kaum hawa di kampungnya.

Nina pun termasuk wanita cantik. Dengan kulit putih serta tubuh tinggi semampai, ia banyak diperebutkan lelaki. Terlahir dari keluarga berada, Nina tentu bisa membeli apa saja yang ia mau. Termasuk peralatan kecantikan. Hingga bertemu dengan Jono, keduanya memadu kasih.

Tiga bulan menjalin hubungan, merasa ada kecocokan, keduanya sepakat menuju jenjang pernikahan. Dengan pesta yang digelar meriah, mengundang tamu dari berbagai kalangan, Jono dan Nina mengikat janji sehidup semati, mereka pun resmi menjadi sepasang suami istri.

Di tahun pertama, Jono menjadi suami yang baik. Begitu pun halnya dengan Nina, ia melayani sang suami dengan sepenuh hati, hingga berjalan tiga bulan, terdengarlah kabar mereka akan mendapat keturunan, membuat hubungan keduanya semakin mesra.

Tiga tahun usia pernikahan, mereka mempunyai dua anak menemani hidupnya. Saat itu, ekonomi rumah tangga sedang berada di titik terendah. Jono dipecat dari tempatnya bekerja, Nina pun hanya berstatus sebagai ibu rumah tangga. Hingga akhirnya, Jono pun terjun ke dunia bisnis bersama teman-temannya di Jakarta.

“Duh, kalau inget waktu itu tuh suka sedih, kita lagi susah-susahnya, bahkan sampai pinjam uang ke tetangga, dicaci maki karena telat bayar. Pokoknya mah menderita,” curhat Nina

Hingga ekonomi perlahan mulai meningkat, Jono semakin gigih bekerja. Seminggu sekali harus pergi ke ibukota untuk mengontrol bisnisnya bersama teman-teman, ia membuka usaha laundry dan berjualan alat-alat olahraga. Meski sering keluar rumah, Jono tetap setia pada sang istri tercinta. Itu dugaan Teh Nina dulu.

Hingga akhirnya, peristiwa itu menghancurkan segalanya. Rasa sayang Nina pada sang suami hancur begitu saja. Jono terjumus dalam dunia LGBT. Setelah sang tamu pergi, Nina mulai mempersiapkan diri untuk menegur sang suami atas apa yang tadi dilihatnya.

Namun, seolah tak kuat menahan emosi, malam itu juga Nina mengamuk memarahi Jono. Meski awalnya sempat mengelak, sang suami akhirnya mengakui juga, ia telah menjalin hubungan dengan seorang pria. Keributan pun terjadi di antara keduanya.

“Kesel saya, kang. Apa dia enggak sadar perbuatannya itu salah. Ih, pokoknya waktu itu serasa ingin bunuh diri,” tukas Nina. Wuih, jangan Teh, dosa.

Keesokan harinya, Nina melaporkan kejadian itu pada kedua orangtua dan keluarga. Maka atas keputusan bersama, ia pun mengajukan perceraian. Nina dan Jono mengakhiri rumah tangga. Astaga.

Ya, mungkin ini sudah takdirnya. Lain kali kalau cari lelaki jangan cuma lihat ketampanan dan kekar tubuhnya saja, Teh. Tapi, lihat juga kepribadian, kalau perlu kejantanannya, hehe. (Daru-Zetizen/RBG)