Memang benar kata pepatah, semakin tinggi sebuah pohon, semakin besar angin menerpa. Kehidupan Jarwo (46) yang semakin meningkat berkat diangkat menjadi orang kepercayaan saudagar kaya, membuatnya lupa diri sampai sang istri, sebut saja Munah (41), merasa sakit hati.

Sejak saat itu, Munah merasa sang suami bukanlah Jarwo yang dulu. Jarwo yang bersikap ramah, sopan, penyayang, lembut, dan segala kebaikan lainnya. Jarwo yang sekarang adalah Jarwo yang mengerikan di mata keluarga. Selain kasar, sang suami juga kerap pulang malam. Astaga, kok bisa begitu, Teh?

“Dulu itu Kang Jarwo bukan siapa-siapa, tapi karena dia orang yang mudah bergaul, tekun, ulet, jujur, jadi bisa dipercaya sama bosnya,” kata Munah kepada Radar Banten.

Tetap saja meski memiliki semangat yang tinggi dalam bekerja jika tidak kuat menahan godaan harta, takhta, dan wanita, Jarwo pasti akan jatuh juga. Begitulah kiranya yang ada dalam benak Munah. Jadi kaya bukannya tambah mesra, ini malah menimbulkan derita.

“Kalau tahu bakal begini jadinya, mending dulu saya larang dia bergaul sama orang kaya itu,” curhatnya.

Munah adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Sebagai anak tertua, Munah memiliki peran besar dalam keluarga. Tumbuh sebagai anak yang dididik dengan baik, Munah menjadi wanita yang mandiri.

Munah tak malu berjualan makanan ringan. Di kalangan teman-teman, ia terkenal perempuan yang ramah dan mudah bergaul. Pokoknya, kalau sudah kenal dengan Munah, serasa kayak saudara. Orangnya terbuka dan tidak perhitungan.

Soal wajah sih relatiflah ya. Munah memang tidak terlalu cantik. Tapi, setidaknya dengan penampilan menarik, ia mampu membuat lelaki mudah terpesona. Apalagi, lekuk tubuhnya yang sangat menggoda. Pokoknya, siapa pun dijamin terpesona melihatnya.

Lain Munah lain pula dengan Jarwo. Lelaki bertubuh kekar tinggi itu terlahir dari keluarga miskin. Ayahnya hanya petani biasa, ibunya tak bekerja. Meski sama-sama anak pertama, Jarwo dan Munah memiliki karakter yang berbeda. Sejak muda, Jarwo tak mau bekerja, apalagi kalau diminta berdagang. Bisa dibilang ia orang yang gengsian. Sebenarnya mau, tapi karena malu, Jarwo lebih memilih menikmati kekurangan. Aih-aih.

Tapi, Jarwo termasuk lelaki yang tampan. Di mata orang-orang, ia juga terkenal sopan dan sederhana. Meski penampilannya biasa, kalau sudah diajak ngobrol berdua, wanita akan mudah hanyut terbawa obrolan yang asyik. Maklumlah, Jarwo juga lelaki humoris alias pandai melucu.

Singkat cerita, entah bagaimana awalnya, Jarwo dan Munah menjalin asmara. Saat itu ekonomi keluarga Munah sedang sekarat. Meski Jarwo atau Munah tak pernah mempermasalahkan soal ekonomi, keduanya sempat berandai-andai akan memiliki masa depan cerah. Widih, masa sih, Teh?

“Ya maklumlah Kang, namanya juga orang pacaran, kita juga punya cita-cita besar,” ungkap Munah.

Setahun lebih menjalin asmara, keduanya mengaku siap menikah. Lantaran keluarga Munah yang sederhana dan tidak menilai orang dari harta, Jarwo pun dengan mudah diterima. Pernikahan berlangung meriah. Para tamu undangan turut memberi kebahagiaan bagi Munah dan Jarwo yang resmi menjadi sepasang suami-istri.

Di awal pernkahan, Jarwo menjadi suami yang perhatian. Meski belum punya pekerjaan, setidaknya ia mampu memberi kenyamanan untuk sang istri tercinta. Setahun kemudian, lahirlah anak pertama membuat hubungan semakin mesra. Pokoknya, rumah tangga mereka diselimuti awan kebahagiaan.

Dalam kehidupan bermasyarakat, Jarwo dapat dengan mudah beradaptasi. Sering salat berjamaah dan ikut pengajian rutin mingguan, ia diterima baik oleh masyarakat. Hebatnya, seolah tak membatasi pergaulan, ia juga akrab dengan orang-orang yang sering menongkrong di warung kopi.

Setelah melewati proses panjang berganti-ganti pekerjaan mulai dari kuli bangunan sampai sopir angkot, Jarwo menemukan titik terang kehidupan. Seiring pertumbuhan anak yang beranjak dewasa, ia kembali dianugerahi dua anak menemani kehidupan bahtera rumah tangga, Jarwo terus berusaha.

Sampai suatu hari, mungkin bersimpati dengan kehidupan Jarwo yang belum memiliki pekerjaan tetap, salah satu orang kaya di kampung yang juga sering nongkrong, memanggil dan memintanya datang ke rumah. Malamnya, bertamulah Jarwo ke rumah sang orang kaya. Saat itu juga, ia resmi bekerja. Wah, kerja apa itu Teh?

“Jadi, si orang kaya itu memang biasa ajak orang-orang buat kerja sama dia. Uh, rumahnya gede, Kang. Kang Jarwo disuruh nyetir, cuci mobil, antar anak dia sekolah, kadang juga nyopirin ke luar kota. Macam-macam gitu kerjanya,” ungkap Munah.

Tak terasa, setahun lebih Jarwo bekerja, ia sudah bisa merenovasi rumah, membeli peralatan elektronik, membeli kendaraan pribadi. Pokoknya, kehidupan mereka meningkat. Tapi, setiap kenikmatan yang didapat, pasti ada konsekuensi yang harus diterima. Jarwo jadi jarang pulang ke rumah. Waduh.

“Ya jadi si bosnya tuh senang disopirin Kang Jarwo dan sering pergi ke luar kota ngurus bisnisnya. Biasanya pulang seminggu sekali, kadang juga pulang cuma nengok anak, malamnya pergi lagi,” curhat Munah.

Hingga suatu sore, ketika Munah sibuk menyiapkan makan untuk anaknya, seorang lelaki tak dikenal datang mengetuk pintu. Ketika  masuk, sang lelaki menolak dan mengaku sedang buru-buru. Dalam obrolan singkat di teras rumah itu, Munah mendapat kabar menyakitkan tentang suaminya.

“Dia ngaku teman sekerja Jarwo dan merasa kasihan ke saya. Dia nunjukin foto Kang Jarwo sama cewek-cewek dan bilang kalau suami saya sering pulang ke rumah salah satu cewek di foto itu,” ungkap Munah. Ya ampun, sabar ya Teh.

Sejak itu Munah sering menangis sendirian. Lantaran curiga, ibunya menegur. Berceritalah Munah tentang suaminya. Sang ibu murka, Jarwo diamuk keluarga Munah. Beruntung, mungkin karena cinta, Munah lebih banyak diam seolah pasrah pada keadaan. Jarwo meminta maaf, rumah tangga mereka berjalan seperti biasa.

Sabar ya Teh Munah, semoga Kang Jarwo sadar dan tidak mengulangi kesalahan lagi. Yang penting tetap mesra dan bahagia, insya Allah sejahtera. Amin. (daru-zetizen/zee/dwi)