Wakil Sekjen DPP Organda Maurid Siburian memukul gong tanda pembukaan acara pendidikan dan pelatihan Abdiyasa Teladan.

SERANG – PT Jasa Raharja (Persero) Cabang Banten memberikan pendidikan dan pelatihan Abdiyasa Teladan kepada 40 orang awak kendaraan angkutan umum di Banten selam dua hari, Rabu – Kamis (14-15/3), di Hotel Le Dian, Kota Serang. Selama diklat, peserta mendapatkan materi, antara lain, tentang peraturan lalu lintas dan cara menjadi pengemudi angkutan umum yang baik dari pihak Jasa Raharja, Polda Banten, dan Organda.

“Diklat ini untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan budaya sadar disiplin berlalu lintas serta menekan angka kecelakaan lalu lintas, khususnya bagi kru alat angkutan umum di darat, baik trayek AKDP maupun AKAP, di wilayah Provinsi Banten,” kata Didi Setiadi, ketua panitia pendidikan dan pelatihan Abdiyasa Teladan tahun 2018, saat acara pembukaan, Rabu (14/3). Pembukaan dihadiri oleh pejabat Dishub Banten, Polda Banten, DPP Organda, Organda Banten, dan PT Jasaraharja Putera.

Didi melanjutkan, kegiatan itu merupakan bagian dari program kerja Divisi Pencegahan dan Pelayanan PT Jasa Raharja (Persero) tahun 2018. “Selain memberikan santunan, Jasa Raharja juga punya program preventif atau pencegahan untuk menekan jumlah kecelakaan di jalan,” kata Kepala Bagian Operasional Jasa Raharja Banten ini.

Pada kesempatan itu, Kepala Cabang Jasa Raharja Banten Suhadi mengungkapkan, pihaknya merasa prihatin dengan masih tingginya angka kecelakaan di Indonesia. “Setiap jam ada 3 orang yang meningggal akibat kecelakaan,” Suhadi.

Berkaitan dengan upaya menekan angka kecelakaan, lanjut dia, sebenarnya ada lima pilar keselamaan berlalu lintas yang harus menjadi acuan. Pilar pertama manajemen keselamatan. Pilar kedua, jalan yang berkeselamatan. Pilar ketiga, kendaraan yang berkeselamatan. Pilar keempat, perilaku pengguna jalan yang berkeselamatan. Pilar kelima adalah pasca kecelakaan. “Pada pilar kelima ini menjadi tanggung jawab Jasa Raharja. Sebagai BUMN, Jasa Raharja tidak hanya memberikan santunan, juga memberikan pengetahuan kepada para pengemudi soal perilaku berkeselamatan. Bagaimana kita bersama-sama meminimalkan angka kecelakaan,” ungkapnya.

Akibat kecelakaan, lanjut dia, tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tapi ada hal lain di balik itu yaitu keluarga. Terputusnya nafkah untuk istri dan anak-anaknya bila yang menjadi korban adalah suami sebagai pencari nafkah.

“Kalau pengemudi mobil pribadi, ia bertanggung jawab atas nyawa keluarga yang menjadi penumpangnya atau bagi dirinya sendiri. Tapi kalau pengemudi angkutan umum, risikonya lebih besar lagi. Pada kasus kecelakaan, seperti di tanjakan Emen, para korbannya kami berikan santunan. Penyerahan santunan diberikan secara cepat. Rata-rata Jasa Raharja memberikan santunan sekitar 2,3 hari setelah kejadian kecelakaan, yang didukung oleh pihak kepolisian,” ungkapnya. (Aas)