Bekas gedung Bioskop Serang Plaza.

Gedung eks bioskop masih ada. Jejaknya pun masih meninggalkan cerita dari masa ke masa. Konon di gedung itu, orang-orang menghilangkan kepenatan sekaligus mengekspresikan budaya.

Senja baru berkembang. Ramai lalu lalang pejalan kaki di gang Jalan P Purbaya, Pasar Lama, Kota Serang. Gang kenangan, tempat eks Gedung Bioskop Pelita berdiri.

Gedung sejarah yang namanya tinggal kenangan. Setidaknya bagi Mak Malik, pedagangan paruh baya yang menjajakan kopi di halaman gedung tua itu. “Buka warung mah sejak ada biliar sampai sekarang tutup,” ujarnya kepada awak Radar Banten.

Asap tipis pun menguap dari secangkir kopi hitam seduhan Mak Malik. Seperti menguapnya cerita esk Bioskop Pelita yang gedungnya tak lagi terawat, terbengkalai. Hanya dijadikan tempat menyimpan gerobak pedagang di sekitar Pasar Lama, pasar tertua yang dipunya Ibukota Banten.

Cat dinding gedungnya memudar. Bersamaan dengan memudarnya jejak eks
gedung bisokop yang konon sudah berdiri sejak masa Hindia Belanda itu. Cerita
asal-usul gedungnya pun samar.

Tak ada lagi catatan dokumentasi lengkap. Orang-orang hanya tahu dari mulut ke mulut. “Saya dulu pernah punya fotonya, tapi entah disimpan di mana,” aku Iwan Subekti, warga Serang yang masa kecil hingga remajanya banyak
menghabiskan waktu di sekitar Bioskop Pelita.

Kapan berdirinya, Iwan tak tahu pasti. Yang diingatnya, hanya ada bioskop. Namanya berganti-ganti. Mulai dari Banten Park di era 1950-an, Sampurna pada 1960-an. Terakhir, nama Pelita pada 1970-an hingga tutup pada 1997. Masa itu, gedung itu juga menydiakan meja billiar. Dua tahun lalu, biliar itu juga tutup.

Cerita yang berkembang di masyarakat menyebut Pelita dahulunya dijadikan sebagai gedung opera. Tempat pertunjukan orang-orang Belanda. Dugaan itu terlihat dari struktur bangunannya. Pada sisi kanan dan kiri ada anak tangga untuk menaiki panggung, yang digunakan untuk meletakkan layar bioskop. Sementara, di belakang layar ada dua ruangan. “Sepertinya ruang ganti dan rias,” kata Iwan.

Cerita soal Gedung Pelita sebagai tempat opera atau pertunjukan masa Hindia Belanda dibenarkan Peneliti Bantenologi Yadi Ahyadi. Namanya Banten
Teater. Pendirinya seorang pengusaha Tionghoa pada sekira 1920-an.

“Itu terlihat dari bentuk arsitektur bangunannya,” kata Yadi.

Pengusaha Tionghoa membaca peluang bisnis, ramainya warga Serang sebagai Ibukota Keresidenan Banten.

Sayangnya, bentuk arsitekturnya sudah tidak dikenali lagi. Konon, gedung yang masih terpampang nama ‘Pelita Billyard’ itu sudah tiga kali mengalami renovasi. Kini, kepemilikannya pun tak jelas. Milik pribadi atau masuk cagar budaya.

Dekade 1920 sampai 1935, Banten Teater banyak diberitakan di koran De Banten Bode dan koran-koran lokal Banten masa itu. Pemerintah kolonial punya kebijakan khusus, setiap kota keresidenan wajib memiliki gedung hiburan. Berlaku pula untuk Serang sebagai Ibukota Keresidenan Banten.

Banten Teater mulanya dikhususkan bagi warga Belanda. Itu berbeda dengan Royal Park (nama awal Bioskop Merdeka) yang berdiri lima tahun sesudahnya. Warga pribumi masih ikut menikmati pertunjukan yang dipentaskan.

“Banten Teater sejak masa opera sampai bioskop banyaknya cerita Eropa, karena memang untuk tontonan kelas bangsawan Eropa,” kata Yadi.

Namun, pasar peminat tak bisa dibendung. Opera kolosal China pun sering dipentaskan. Apalagi komunitas Tionghoa di Serang yang cukup besar. Jumlahnya mencapai 40 persen. Jauh lebih besar dari warga Belanda yang hanya sebesar 15 sampai 20 persen.

Seiring waktu, dunia film mulai berkembang. Gelombang film dari Batavia dan Surabaya merambah ke Banten. Antusiasme warga tak bisa dibendung. Pemilik Banten Teater pun melebarkan bisnisnya. Membuka operasi sekaligus bioskop.

Puncaknya saat kependudukan Jepang. Tak ada lagi gedung bioskop atau pertunjukan. Banten Teater beralih fungsi menjadi ruang tahanan politik tentara sekutu yang tertahan Jepang.

Baca juga: Jejak Bioskop di Serang (1): Dari Teater hingga Ruang Kosong

Meski berakhir kelam, kehadiran ruang pertunjukan atau bioskop menjadi warna di Serang. Bioskop bukan hanya sekadar hiburan. Gedungnya menunjukkan ruang ekspresi budaya. Tak heran, pemerintah Hindia Belanda mewajibkan adanya gedung pertunjukan. Baik dikelola swasta atau pemerintah.

Untuk kepentingan, kata Yadi, mempropagandakan budaya Belanda. Lalu, menjaga perputaran ekonomi agar tidak keluar daerah. Terlebih, masa itu banyak pegawai dan pedagang tinggal di Serang. Dalam aktivitas yang padat, mereka butuh saluran hiburan.

“Fasilitas itu akan membuat ekonomi berputar di tempat,” ujar Yadi.

Yang tidak kalah penting, gedung pertunjukan menjadi arena mengekspresikan budaya. Menjadi saluran merawat dan mengembangkan budaya anak bangsa. Dan, Banten adalah tempat persemaian budaya dari berbagai belahan dunia. “Gedung pertunjukan bagi sebuah kota itu wajib, sebagai sarana ekpresi budaya,” cetusnya.

Bahkan sejak masa Sultan Banten, ruang pertunjukan sudah berkembang. Tempatnya di panayagan (tempat bermain musik) di pelataran Surosowan. “Dari situ banyak kisah tentang kesatria yang menjadi cikal bakal pendidikan karakter,” kata Yadi. Jangan heran, setiap kota tua yang berkaitan dengan kesultanan atau kerajaan akan memiliki gedung bioskop. Bagaimana dengan Banten masa kini? (Ken Supriyono/tulisan kedua dari tiga tulisan/bersambung)