Jejak Perjuangan Arsyad Thawil, dari Geger Cilegon hingga Pengasingan

0
714
Cicit KH Arsyad Tawil Helldy Agustian bersama rombongan saat melakukan ziarah ke Makam KH Arsyad Thawil di Lawangirung, Manado, pada 2014 lalu.

Peristiwa 1888 atau yang terkenal sebagai Geger Cilegon, tercatat sebagai tapak sejarah heroisme para ulama Banten. Dari peristiwa itu, banyak ulama yang diasingkan Pemerintah Kolonial. Tak terkecuali KH Arsyad Thawil sebagai tokoh kunci yang sampai akhir hayatnya ada di tanah pengasingan.

KH Arsyad Thawil

SERUAN takbir menggema di sudut-sudut perkampungan Cilegon dan sekitarnya. Semangat jihad melawan kolonial sudah terpatri. Tak ada keraguan lagi bagi ulama memimpin barisan massa.

Pekik takbir menggugah semangat tempur. Perjuangan meletus pada 8 hingga 30 Juli 1888. Dengan gagah berani, KH Arsyad Thawil bersama ulama lainnya, berada pada barisan massa mengobarkan jihad mengeyahkan antek-antek Belanda di Cilegon.

Peristiwa tersebut puncak dari rangkaian proses konsolidasi para ulama sejak Februari sampai Mei, di Serang, Cilegon, dan Tanara. Laporan Penasehat Pemerintah Kolonial Snouck Horgronje mencatat, delapan kali rapat persiapan pemberontakan dilakukan. Enam kali dihadiri Arsyad Thawil.

Rapat-rapat itu dilaksanakan berpindah-pindah tempat. Dua kali di rumah H Marjuki Tanara dan dua kali di rumah H Wasid Beji-Bojonegoro, Serang. Selebihnya di rumah H Asngari Terate, H Iskak Saneja-Cilegon, H M Sangadeli Kaloran-Serang, dan H Asnawi Bendung-Lempuyang Tanara.

Sayangnya, perjuangan terencana dan penuh heroisme hingga titik darah penghabisan itu kandas. Bala tentara Belanda berhasil memukul mundur. KH Arsyad Thawil dan tokoh-tokoh kunci lainnya tertangkap.

Sartono Kartodirjo yang meneliti peristiwa Geger Cilegon mencatat, KH Aryad Thawil bersama 204 pasukannya yang tertangkap. Mereka pun diajukan ke dalam Pengadilan dengan tuduhan makar.

Pengadilan Belanda memutuskan, 89 orang dihukum kerja paksa selama 15 sampai 20 tahun. Sebelas orang dihukum mati, dan hanya 94 orang yang kembali dibebaskan. Sementara, KH Aryad Thawil bersama tujuh orang lainnya diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara.

BERDAKWAH DI PENGASINGAN
Selama di pengasingan, penguasaan KH Arsyad terhadap agama yang komplit menjadi bekalnya. Sepanjang hayat hidupnya di pengasingan, tercurah untuk mendawahkan nilai-nilai Islam.

Di daerah Airmadidi, Kabupaten Minahasa Utara, pula ia menikahi seorang wanita beranak satu dari keluarga Runtu, atau tokoh pendeta yang bernama Liena Runtu. Liena Runtu lantas masuk Islam dan berganti nama menjadi Tarchimah. Sikap ini diikuti anaknya, Maria Runtu yang berganti nama menjadi Maryam. “Konon untuk hidup di pengasingan, Ki Arsyad berjualan cincau sirup dan agar-agar di depan rumahnya,” kata Sejarawan Banten, Mufti Ali.

Keluasan ilmu, pengalaman, dan kearifan, membuat KH Arsyad disegani masyarakat Airmadidi. Tak jarang masyarakat yang berkonflik di sekitar tempat tinggal berkonsultasi kepada kiai karismatik, kelahiran 12 dzulqa’dah 1255 H, di Tanara, Kabupaten Serang.

Sosiolog Banten HS Suhaedi menyebut KH Arsyad sebagai tokoh pemersatu saat terjadi konflik-konflik lokal. Ketokohannya, tidak semata-mata diakui komunitas agama Nasrani sebagai agama mayoritas. Akan tetapi juga dari penganut keyakinan lokal lain yang tumbuh di Manado.

“Arsyad dipandang sebagai sosok yang sanggup mencari soslusi dalam menengahi dan menyelesaikan konflik-konflik sosial di Manado,” ungkapnya.

Bahkan seorang Kapiten Tionghoa di Manado, Tjin Bie, terkesan dengan kepribadian KH Aryad. Keduanya bersahabat baik. Dan Tji Ben-lah yang mula-mula mengajak KH Arsyad pindah dari Airmadidi ke Manado.

Pengakuan atas kepribadian KH Arsyad dari masyarakat lokal membuatnya tidak mengalami hambatan berarti dalam mengembangkan dakwahnya di Manado. Ia mampu membangun harmoni dalam keragaman kepercayaan tanpa mengganggu budaya masyarakat lokal.

Masjid Lawangirung yang dibangunnya menjadi tempat relasi sosial keberadaannya. Jejak spiritual itu terasa pada Suhaedi, yang beberapa waktu lalu berkesempatan meneliti diaspora (penyebaran) orang Banten di Manado.

Saat penelitian tersebut, ia sempat bertemu dengan tokoh agama lokal dan pendeta Nasrani. Dari pengakuan pendeta dan tokoh setempat, Suhaedi menemukan adanya sikap toleransi yang tumbuh kembang dengan baik sejak masa kehadiran KH Arsyad.

“Ya, Tomohon (salah satu Kota di Manado) itu menjadi jejak historis yang kini bisa memberikan penjelasan bagaimana ketokohan humanis ajaran agama dari Arsyad Thawil,” ujar Suhaedi mengenang pengalaman risetnya.

Selain Masjid Lawangirung, KH Arsyad juga membangun masjid di Kumaraka. Tujuh bulan setelah membangun masjid ini, tepatnya pada 20 Maret 1934, KH Arsyad menghembuskan nafas terakhir.

Ia dikebumikan di Pemakaman Lawangirung berdampingan dengan makam Gusti Ratu Sekar Kedaton, Permaisuri Sri Sultan Hamengku Buwono V Yogyakarta, yang juga dibuang Belanda ke Manado. Istrinya, Tarchimah, juga menyusul almarhum tiga tahun berselang.

Makam itu pun kini ramai dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah. Tak terkecuali dari Banten yang masih dalam silsilah darahnya. Ziarah itu bukan saja mendoakan, namun mengenang kepahlawan KH Arsyad. “Pada 2014 rombongan dari Cilegon menapak tilas ke Manado. Momen itu ternyata bisa menyambungkan keluarga di sana. Juga keluarga dari Cibeber (Ki Asnawi-red) yang sudah 126 tahun tidak bertemu. Itu sungguh haru,” kenang Cicit KH Arsyad Thawil, Helldy Agustian yang kini tinggal di Cilegon.

Baginya, Arsyad punya kepribadian yang lengkap. Ia sosok ulama, pedagang, sekaligus pejuang. Perjuangannya memimpin perlawanan pada peristiwa Geger Cilegon menjadi jejak sejarah yang tak bisa dihilangkan. “Mestinya itu diperingati agar kita tidak melupakan sejarah perjuangan ulama-ulama kita,” katanya.

Dalam catatan Snouck Horgronje yang terbit dalam bentuk buku berjudul Mekka In the Latter Part of the 19th Century, KH Aryad tercatat mampu berbicara bahasa melayu dengan sangat fasih. Kemampuan bahasa arabnya kurang fasih, namun ratusan santri dari Sumatera, Priangan, Jawa, dan Banten banyak menimba ilmu darinya selama di MekkaH

Sanad keilmuan Arsyad pun cukup panjang. Sejak kecil mempelajari Alquran hingga hafal dari ayahnya, Imam As’ad bin Mustafa bin As’ad. Ayahnya juga meletakan dasar ilmu ilmu fikih dan nahwu sebelum akhirnya diberangkatkan ke Makkah.

Di tanah suci, ulama masyhur Syekh Nawawi Albantani, Syekh Ahmad bin Zaini Dahlan, Abu Bakar Sharta al-Dimyati tercatat pernah mengasuh KH Arsyad. Kedalaman ilmu hadisnya ditempa dari asuhan ulama hadis Syekh Muhammad bin Husain al-habsyi al-Makki, dan Syekh Husain. Sementara, kedalaman ilmu fikihnya didapat dari bimbingan Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki. (Ken Supriyono)