Jejak Sejarah yang Minim Fasilitas, Situs Batu Lingga di Desa Sidamukti

0
1025
Pjs Kades Sidamukti Saidan bersama Bripka Hari Krisyono dari Polsek Baros dan sejumlah warga berfoto di Situs Batu Lingga, Desa Sidamukti, Senin (28/10)

Konon disebut tempat sabung ayam pada zaman kesultanan antara Sultan Maulana Hasanudin dan Prabu Pucuk Umun, Situs Batu Lingga menjadi jejak sejarah yang sering dikunjungi peziarah serta peneliti dari Banten maupun luar negeri. Namun, situs cagar budaya di Kampung Lingga, Desa Sidamukti, Kecamatan Baros itu masih minim fasilitas.

HAIDAR – Serang

Mendung menggelayut di langit pada Senin (28/10) siang di Kecamatan Baros, tetapi tidak menghambat kunjungan Radar Banten bersama aparat Desa Sidamukti ke Situs Batu Lingga. Tidak sulit untuk menemukan situs bersejarah itu, dari Pasar Baros berbelok ke kiri menuju arah Kecamatan Petir. Hingga menemukan Kantor Desa Sidamukti, sekira dua ratus meter masuk ke gang Kampung Lingga menuju areal persawahan.

Berdasarkan data yang dihimpun Radar Banten, Situs Batu Lingga merupakan peninggalan tradisi megalitikum dengan bentuk segi lima. Terdapat tujuh batu dengan ketinggian bervariatif mulai dari 100 sentimeter hingga 195 sentimeter. Setiap batu sudah diberi pagar dan atap yang melindungi dari sinar matahari dan hujan.

Diceritakan Sobari, salah satu tokoh masyarakat setempat, Situs Batu Lingga dahulunya merupakan patok yang digunakan untuk mengikat ayam-ayam aduan. Termasuk ayam aduan milik Sultan Maulana Hasanuddin, putra dari Syarif Hidayatullah dengan Prabu Pucuk Umun atau Arya Surajaya, putra Prabu Surasowan, mereka bertarung lewat adu ayam.

Waktu itu terjadilah perjanjian, jika ayam jago Prabu Pucuk Umun kalah, maka Sultan Maulana Hasanuddin bebas menyebarkan agama Islam di Banten. Sebaliknya, jika ayam Prabu Pucuk Umun menang, Sultan Maulana Hasanuddin wajib menghentikan kegiatan dakwahnya di Banten.

Pada akhir dari pertandingan adu ayam tersebut, ayam Maulana Hasanuddin berhasil mengalahkan ayam prabu Pucuk Umun. Sebagai tanda mengakui kekalahannya, Prabu Pucuk Umun menyerahkan golok dan tombaknya, serta pergi ke tanah Kanekes, Kabupaten Lebak, bersama empat puluh orang pengikutnya.

Namun, meski kondisi Situs Batu Lingga sudah terawat, tetapi fasilitas pendukung seperti lahan parkir, toilet umum, serta kursi untuk berteduh pengunjung belum tersedia. Hal itu membuat Situs Batu Lingga belum terlalu diminati. “Akses jalan hanya bisa ditempuh kendaraan roda dua, di sini memang masih minim fasilitas,” kata Masnun, juru pelihara Situs Batu Lingga.

Pejabat Sementara (Pjs) Kades Sidamukti Saidan bersama sejumlah warga berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang melakukan upaya peningkatan Situs Batu Lingga menjadi kawasan wisata religi dengan pembangunan fasilitas pelengkap seperti toilet dan tempat berteduh pengunjung. “Situs ini berpotensi menjadi wisata yang banyak diminati,” katanya

Selain itu, kata Saidan, pihaknya juga berharap, dengan memaksimalkan potensi wisata pada Situs Batu Lingga, mampu meningkatkan perekonomian masyarakat setempat dan mengurangi angka pengangguran. “Kita juga berencana memanfaatkan program badan usaha milik desa (BUMDes) untuk memaksimalkan situs Batu Lingga ini,” pungkasnya. (*)