Jejak Serang Ibukota Residen Banten: Antara Saung Sawah dan Tepi Sungai

0
990 views
Lukisan eks gedung Residen Banten akhir abad ke-18. Lukisan itu memperlihatkan aktivitas di Serang masa lalu.

Sejak era Banten Girang hingga Kesultanan, pusat kekuasaan selalu di tepi sungai. Tak terkecuali masa Residen Banten yang menempatkan pusat pemerintahannya di tepi sungai.

Monumen Perjuangan 45 Masyarakat Banten berdiri membelah Alun-alun barat dan timur Kota Serang. Tugu diresmikan Gubernur KDH TK I Jawa Barat H A Kunaefi pada 24 September 1980.

Di atas tugu itulah, dulu terdapat bulakan. Sumber mata air yang banyak dimanfaatkan warga Serang tempo itu. Air dari bulakan juga dimanfaatkan warga untuk keperluan sehari-hari. Tak terkecuali, sumber mengairi hamparan sawah.

Konon, sawah milik Sultan Banten membentang luas. Dari ruas Jalan Veteran hingga ruas Jalan Ahmad Yani. Kawasan yang kini banyak berdiri objek diduga cagar budaya (ODCB) di Ibukota Banten.

Seratus meter ke arah barat dari bulakan, berdiri bangunan dengan delapan tiang penyangga. Gedung Residen Banten namanya. Di seberangnya, berdiri gedung Pendopo Bupati. Juga sekolah khusus orang Eropa, di belakang Pendopo.

Penampakan gedung itu sudah berbeda jauh. Sudah berkali-kali direnovasi. Bahkan, beralih fungsi dari masa ke masa. Kini, dikenal sebagai Museum Negeri Banten.

Pelataran gedung eks Residen Banten masih terhampar luas. Ditumbuhi rumput hijau. Pepohonan rindang masih mengitari gedung. “Gedung Residen itu dulunya saung sawah,” kata Abah Yadi, pegiat sejarah di Forum Klinik Pusaka Banten.

Saung Sawah tempat para pekerja di sawah Sultan beristirahat. Di lokasi itu juga, dulunya ada gudang penyimpanan gabah dan beberapa hasil pertanian lain.

Sungai Cibanten masih tampak dari Saung. Airnya jernih. Warga banyak mendapat manfaat. Sungai pada masa itu menjadi sarana lalu lalang pengiriman logistik antardaerah.

“Seba juga ke lokasi itu,” kata Yadi.

Tak heran, setiap kali digelar Seba banyak warga Baduy memanfaatkan sungai di belakang Residen. Untuk bebersih badan atau sekadar cuci muka. “Pendirian gedung tak lepas dari digunakannya Saung sebagai lokasi Seba,” kata Yadi.

Peneliti Banten Heritage Dadan Sujana kurang sependapat dengan Yadi. Menurutnya, lokasi Seba dahulunya di Surosowan. Hanya saja, ada ritual khusus yang dilakukan masyarakat Baduy di sepanjang Sungai Cibanten.

Tradisi itu sudah ada sejak masa Banten Girang. Bahkan, ada beberapa orang yang secara khusus ke gua di bekas pusat Banten Girang.

Sungai, bagi orang Baduy punya makna penting. Bukan sekadar air, tapi mata air kehidupan yang menyucikan. “Makanya, orang Baduy sangat peduli sungai. Tidak seperti kita,” ujar Dadan.

Dalih itu jadi alasan pemusatan kota di tepi sungai. Sejak masa Banten Girang. Bahkan masa Kesultanan hingga pemerintah kolonial.

Dadan lalu menunjukkan lukisan karya orang Belanda. Lukisan yang memperlihatkan aktivitas di sekitar eks gedung Residen. Perkiraannya, sekira akhir abad ke-18.

Lukisan menampakkan dua pejabat berbincang. Seorang pengawal mengiring memayungi si pejabat. Di tengah perbincangan, dua anak kecil mengulurkan sesuatu kepada si pejabat. Dan, dua orang lainnya, duduk menunggu perbincangan tersebut.

Di sekitaran gedung juga terlihat aktivitas warga lainnya. Tiga orang warga berbincang. Mereka mengenakan celana pendek, tanpa baju di tubuhnya. Satu menutupi badannya dengan sarung. Lengkap dengan topi caping di kepalanya. Tampak pula seseorang melintas, membawa gerobak yang ditarik kerbau. Orang itu membawa hasil pertanian.

Saat Radar Banten memperhatikan lukisan itu, Dadan memperlihatkan gambar di belakang gedung, di tepi sebelah kanan. “Coba perhatikan gambar ini,” ujar Dadan.

Gambar itu semacam tiang besar. Antara tiang bendera dan tiang kapal. Dugaan Dadan, tiang kapal yang melintas Sungai Cibanten. Tepat di belakang gedung. “Jangan lihat Sungai Cibanten sekarang,” katanya tertawa.

Soal dugaan itu pernah menjadi perdebatan. Dadan meyakini, itu tiang kapal. Sementara, lawan bicaranya menyebut sebagai tiang bendera. “Jika benar tiang bendera kenapa di belakang, bukan di depan?” tanyanya. Dugaan Dadan, butuh penelitian lebih lanjut.

Tapi yang pasti, sungai-sungai di Serang butuh normalisasi. Memfungsikannya lagi sebagai penyambung antarwilayah. Sungai bukan sekadar aliran air. Banyak tempat di Banten diambil dari kata Ci yang berarti air. Dan, dari sungai, manusia belajar mencintai alam sekitarnya. (KEN SUPRIYONO)