Vihara Avalokitesvara di Banten Lama, Kasemen.

Senin, 8 Feburari 2016, tahun baru Imlek 2567 Kongzili. Seperti biasanya, warga keturunan Tionghoa di Indonesia merayakannya, tak terkecuali di Banten. Di Banten sendiri, kata Direktur Bantenologi IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten Dr Mufti Ali, warga Tionghoa merupakan bangsa yang sangat tua. Mereka datang ke Banten sejak abad kesepuluh.

“Pada abad ke 10 masehi, saat masa kerajaan Banten Girang. Rombongan masyarakat Tionghoa saat itu datang dengan motif perokonomian. Mereka berada pada posisi midle atau masyarakat menengah ke atas. Masyarakat Tionghoa tidak hanya singgah di Banten, juga di daerah-daerah lain di Nusantara,” kata Mufti Ali kepada radarbanten online, Minggu (7/2/2016).

Menurut Mufti, kedatangan masyarakat Tionghoa di Banten memberikan dampak positif terhadap perekonomian di Banten. Saat itu, lanjut Mufti, hasil bumi masyarakat Banten seperti rempah-rempah dan lainnya banyak dibeli oleh masyarakat Tionghoa.

“Abad ke 16, mereka eksistensinya makin kuat, khususnya pada gula, khususnya di daerah Kelapa Dua. Dibilang ini karena mereka memiliki pabrik untuk memproduksi gula. Saat itu, gula merupakan ekspor penting dari Banten ke negara-negara lain. Dan banyak kebutuhan gula di negara lain di pasok dari Banten,” kata Mufti.

Mufti melanjutkan, berabad-berabad, masyarakat Tionghoa telah menjadi bagian dari kerajaan Banten, bahkan mempunyai peranan penting terhadap kemajuan perekonomian masyarakat Banten pada zaman kesultanan khususnya hingga masa Sultan Ageng Tirtayasa.

“Pada zaman kesultanan, kemampuan berdagang masyarakat Tionghoa mendapatkan perhatian dari Sultan, sehingga tidak jarang mereka dimintai pendapat oleh para Sultan,” ujarnya. (Bayu)