Jelang Pilkada Pandeglang, Pers Berperan Bentuk Perilaku Politik Masyarakat

Peserta diskusi yang diselenggarakan Komunitas Focus Pandeglang.

PANDEGLANG – Menjelang Pilkada Kabupaten Pandeglang, Komunitas Focus Pandeglang yang berisikan anak-anak muda dan dikomandoi Samsuri melakukan diskusi terarah mengenai Peran Pers dalam Pilkada yang Berintegritas di Caffe Samatha, Mandalawangi , Minggu (22/12).

Hadir sebagai pemantik pertama Muhaemin selaku pengurus PWI Pandeglang. Dia mengemukakan bahwa Indonesia sebagai negara demokrasi haruslah memiliki pilar demokrasi yang kokoh. Setidaknya ada empat pilar yang menopang demokrasi. Semuanya harus saling menopang. Bila satu pilar cacat, maka akan berdampak terhadap kinerja pilar lainnya. Empat pilar itu adalah lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, dan kebebasan pers.

Muhaemin mengungkapkan, pers dapat melahirkan pemimpin-pemimpin populer dan berintegritas, juga dapat menghasilkan pemimpin yang tidak berkualitas. “Kekuatan pers dapat membentuk opini publik dan memiliki pengaruh besar dalam men-frame sesuatu hal,” kata Muhaemin dikutip dari siaran pers.

Di tengah diskusi yang mulai menghangat hadir juga sebagai pemantik kedua, Teguh Fachmi. Akademisi UIN SMH Banten ini lebih menyoroti peran pers dari sudut pandang psikologi. Dia membahas mengenai bagaimana peran pers dalam membentuk perilaku politik masyarakat atau political behavior. Political behavior dianggap sebagai hal yang dapat mempresentasikan bagaimana pandangan politik, ideologi, dan tingkat partisipasi politik seseorang.

Teguh menambahkan bahwa di tengah pesatnya arus informasi, saat ini pers dihadapankan pada tantangan yang lebih rumit, bertebarannya informasi bohong atau hoax dan hebatnya pengaruh media sosial membuat kekuatan media mainstream sedikit terdistorsi. Teguh menambahkan bahwa dunia saat ini sedang berada pada era kebohongan, atau post-truth era dimana hoax merejalela dan semua orang tiba-tiba bisa menjadi ahli dalam hal tertentu. “Fenomena semacam ini sering juga disebut sebagai the death of expertise, era matinya era kepakaran,” ungkapnya.

Menurutnya, hoax memiliki daya ubah yang luar biasa. Dapat membuat suatu hal yang baik menjadi buruk dan yang buruk dapat menjadi baik. Hoax terjadi karena kebenaran objektif terlampuai oleh kepercayaan pribadi atau personal belief, dan kepentingan kelompok. Hoax juga erat kaitannya dengan pilkada, Teguh mendorong agar pers bisa menjadi counter terhadap bertebarannya hoax, bukan malah ikut-ikutan merayakannya menjadi penyebar hoax.

Di penghujung diskusi hadir pula Samsuri, Komisioner KPU Pandeglang. Dia mengungkapkan bahwa filter diri sendiri merupakan kunci di tengah gempitanya informasi. Meningkatkankan kesadaran, dan kesensitifitasan masyarakat mengenai pemilu menjadi sangat urgen. “Pers berperan penting di sini, hadirkan pemberitaan yang objektif pada setiap ruang-ruang diskursus publik. Karena sejatinya tuan media massa adalah civil society. Kenyataannya pers kerap kali bergerak di bawah bayang-bayang pemilik modal, dan intervensi pesanan politik,” ungkap Samsuri.

Dalam kaitan itu, Focus Pandeglang mendorong pers bisa menjaga independensi agar dapat kembali ke khittah-nya sebagai kekuatan civil society masyarakat. Focus Pandeglang juga mengimbau agar penyelenggara dan pers dapat bekerja sama dan mampu menciptakan iklim demokrasi yang sehat di Pandeglang. (aas)