Jelang Pra PON, KONI Banten Bentuk Tim Monitoring

Ketua KONI Banten Rumiah Kartoredjo (tengah, berhijab) foto bersama pengurus KONI dan cabang olahraga, saat berlangsungnya RAT (rapat anggota tahunan) KONI Banten 2019, Sabtu (16/3).

SERANG – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Banten membentuk tim monitoring untuk memastikan persiapan Pra PON 2019 sesuai perencanaan. Tim monitoring wajib melaporkan perkembangan cabang olahraga (cabor) kepada Ketua KONI Banten Rumiah Kartoredjo.

Tim monitoring dibentuk usai salinan surat keputusan (SK) KONI Pusat diterima KONI Banten pada Munas KONI Pusat pekan lalu. SK tersebut berisi tentang 47 cabor yang dipertandingkan di PON Papua 2020.

Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi KONI Banten Hengky S Breemer mengatakan, tim monitoring juga bertujuan mempercepat persiapan setiap pengurus provinsi (pengprov) dalam program pelatda jangka panjang (PJP) dan pelatda PON.

“Kami ingin semua pengprov yang akan tampil di Pra PON maupun PON berkomitmen bersama-sama mengawal PJP dan pelatda secara optimal,” kata Hengky usai rapat pleno pengurus KONI Banten, Selasa (30/4) malam.

Nantinya, sambung Hengky, tim monitoring dapat mengambil langkah antisipasi, jika ditemukan kendala dalam pelaksanaan PJP maupun pelatda PON.

“Kami tidak ingin ada masalah yang menggangu persiapan atlet dan pelatih. Kami ingin atlet dan pelatih tugasnya hanya menyiapkan diri sebaik-baiknya. Soal lainnya, biar KONI dan pengprov yang menghadapinya. Fokus atlet hanya berlatih untuk mencapai target yang ditetapkan,” jelas Hengky.

Ketua Umum KONI Banten Rumiah Kartoredjo mengakui pembentukan tim monitoring untuk menguatkan sinergi antara pengprov, atlet, dan pelatih serta KONI. “Saya ingin tim monitoring ini benar-benar intens melakukan pemantauan dan harus cepat memberi laporan jika ada kendala di lapangan. Kalau ada atlet yang cedera segera laporkan dan kita tangani, atlet harus benar-benar diperhatikan,” tegasnya.

Rumiah mewajibkan tim monitoring memberikan laporan satu bulan sekali. Sehingga, persiapan Pra PON berjalan lebih efektif dan akurat. “Sebagian besar cabor sudah menjalankan pelatda sejak awal tahun, sejak Januari. Ini harus terus dalam pantauan, karena potensi kita lolos PON atau tidak, terlihat dari pelaksanaan pelatda,” beber Rumiah. (rbs/nda/ags)