Oleh: Ken Supriyono, Jurnalis Radar Banten

Piala Dunia dan Pilkada dua hal berbeda. Tapi, uforianya telanjur melanda Pilkada. Ada: TPS (tempat pemungutan suara), angkat tema Piala Dunia. Didesain ala-ala sepak bola. Gambar pemain idola dan negara peserta, jadi ornamennya.

Kang Emil (Ridwan Kamil) sampai ikutan. Hari pencoblosan, pakai jersey tim Piala Dunia, Spanyol. Istrinya, Atalia Praratya, pakai jersey tim Portugal. Juga anaknya, Emmiril Khan Mumtadz, pakai jersey tim Inggris.

Kang Emil emang juara. Bikin klepek-klepek pemilih milenia. Gila bola. Pakai-pakai jersey raih simpati massa. Postingan foto di akun twitternya, sampai banjir pujian netizen. Kecuali, hatters yang selalu bernada minor.

Usai pencoblosan di TPS 21, Jalan Cigadung Selatan 7, Bandung: tempat Kang Emil mencoblos langsung tersorot media. Didampingi istrinya, ia angkat bicara: pemilihan jersey yang dikenakannya. “Tadinya mau pakai jersey Jerman. Ternyata bajunya enggak ada,” candanya.

Statmen itu, berkelindan hasil pertandingan Piala Dunia malamnya. Jerman kalah dua gol dari Korea Selatan: Juara bertahan tumbang. Gagal melenggang pertahankan tahta.

Malam itu, tim RINDU (akronim Ridwan Kamil-Uu Rishanul Ulum) diumumkan menang: versi hitung cepat. Quick count lima lembaga sekaligus: LSI, SMRC, Charta Polica, Populi Center, dan Litbang Kompas.

Perolehan suaranya (32-33 persen). Kalahkan tiga pasangan pesaingnya: Tb Hasanuddin-Anton Charliyan (11-12 persen), Sudrajat-Ahmad Syaikhu (27-30 persen), dan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (25-26 persen).

Ini baru sementara, sampai ada ada real count versi KPU. Juga Piala Dunia, yang baru final, pada 15 Juli nanti.

Ah, Kang Emil. Seperti tak memahami kesedihan pendukung Den Panzer, yang baper-an. Pakai segala acara: pidato kemenangan.

Itu analisa serasa cocoklogi. Kebetulan saja. Tapi, dalam karakteristik budaya: pola pikir jawa disebut ‘othak-athik mathuk’. Oleh Prof Suwadi Endraswara, disingkat OAM. Pola pikir yang dinilainya jenius. (Baca: Falsafah Hidup Jawa).

Tradisi OAM memang rumit. Dugaannya sejak zaman Jawadwipa dan Ajisaka. Tafsirnya dari aksara jawa. Untuk yang tidak mengenal aksara jawa, pasti rumit. Saya buatkan ringkasnya.

Begini: tafsir aksara jawa-nya. Ha-na-ca-ra-ka: ha-na itu ‘nyata ada’, mengiaskan ilmu ‘kasunyatan’ (kekuatan). Ca-ra-ka: menyiratkan ‘cipta, rasa, karsa’: kelengkapan hidup manusia.

Aksara: da-ta-sa-wa-la: mengiaskan zat yang datasawala. Zat yang tidak pernah salah–zat Tuhan–: yang memberi salah satu sifatnya kepada manusia. Pa-dha-ja-ya-nya: sama jayanya. Dan, ma-ga-ba-tha-nga: ma itu sukma. Ga itu (angga): badan. Maksudnya: jika sukma masih bersatu dengan badan: manusia masih hidup. Jika tidak, tinggal: ba-tha-nga: yakni jasadnya. Dan, sukma kembali ke Tuhan.

Kang Emil bilang: mau pakai jersey Jerman tidak ada. Tidak ada itu hilang ruh: Jerman tumbang dari 16 Piala Dunia. Bermain tanpa ruh: gen juara. Dari ca-ra-ka (kasunyatan:kekuatan:totalitas) Korea Selatan.

Kang Emil pilih jersey Spanyol, dan istrinya Portugal. Juga anaknya Inggris. Ketiga-tiganya lolos fase grup 16 juara. Fakta sejarahnya: Spanyol punya rekor juara ciamik. Mengawinkan dua gelar juara: Piala Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010. Itu beda dengan tetangganya, yang baru hanya raih juara Piala Eropa. Mungkin untuk mengiaskan bupati tetangganya (Purwakarta).

Dua jersey itu, dipasangkan Kang Emil dan Atalia. Dilengkapi jersey tim Inggris: kutup sepakbola modern Eropa. Tapi hanya selalu jadi hiburan. Juga liganya, yang lebih dominan sebagai industri hiburan, ketimbang perkuat prestasi sepak bola negaranya.

Semua itu, memang jersey tim-tim yang pernah raih juara. Seirama dengan tagline “Jabar Juara”. Tageline kampanye Kang Emil di Pilkada. Tagline, yang juga hantarkannya menang di Kota Bandung (walikota dua periode).

Juara (menang) itu nyata/ada: ha-na. Diraih dengan modal ca-ra-ka. Kekuatan: cipta: prestasi selama jadi walikota (figuritas). Rasa: soliditas tim dan relawan pendukung (jaringan). Juga, karsa: kreativitas dan kematangan strategi (logistik+sumberdaya).

Pola pikir jawa itu, banyak kritiknya. Terlihat minor. Cemoohannya bahkan sinis: terlalu mengada-ada. Rumit dimengerti, dan tidak logis.

Ada analisa yang lebih modern. Pendekatan “ilmu tanda”. Teorinya disebut semiotika. Anak komunikasi pasti lebih paham detail. Ketimbang saya sebagai lulusan epidemiologi (cabang ilmu kesehatan masyarakat). Apalagi, salah satu tokohnya, Ferdinand De Saussure: pemikir struklaris komunikasi, pengikutnya Saussurean. Ia yang kategorikan teori tanda lewat struktur bunyi dan bahasa.

Teori tanda sudah lama ada: sejak masa Plato (427-347 SM) hingga masa modern (era pengetahuan positivisme). Plato peletak dasarnya. Era kaum Stonik (300-200 SM) lebih perjelas. Konsepnya, dikaitkan pada tiga komponen pembentuk: material atau penanda (signier), makna atau petanda (signified), dan objek eksternal.

Sederhananya, penanda dan objek didefinisikan sebagai entitas material. Sedangkan makna dianggap sebagai sesuatu yang diinkorporasikan atau dimasukan ke dalamnya. Tanda dibagi menjadi tanda commemorative dan indicative.

Teori ini terus berkembang. Ke masa kaum Epicurean: pemikir epistemologi materialisme. Menurutnya, segala sesuatu yang kita rasakan adalah kesan yang diperoleh pikiran: lewat gambaran atom dari permukaan objek nyata (dari materi ke konsep). Tanda sebagai data alamiah: mempresentasikan sesuatu yang tak dapat dilihat atau ditangkap indrawi. Dan, masa pemikiran modern (positivisme): timbulah ilmu melalui eksperimental dan matematis.

Definisinya, semiotika: ilmu yang mempelajari dan memproduksi sistem tanda. Seperti bahasa, kode, sinyal, dan ujaran manusia: digunakan untuk menyampaikan informasi kepada orang lain.  Penggunana jersey tim juara Kang Emil memproduksi tanda. Mengomunikasikan simbol, sinyal, dan kode: JUARA.

Seorang penganut Saussurean, Lousi Hjelmslev mengatakan, tanda tidak hanya mengandung hubungan internal: antara aspek material (penanda) dan konsep mental (petanda). Juga, mengandung hubungan antara dirinya dan sebuah sistem yang lebih luas di luar dirinya.

Dari penanda itu, kita mengenal bentuk fisik. Juga mental psikis. Piala Dunia dan Pilkada adalah satu aspek berbeda. Keduanya tidak berkaitan, tapi punya mental/psiksis yang sama. Harus ada yang menang dan kalah. Harus ada yang keluar sebagai pemenang: juara.

So, ini hanya analisa biasa. Seperti juga prediksi para pengamat sepakbola. Bisa tepat, bisa meleset. Yang pasti: semua harus junjung supportivitas. Fairplay. Itu juga sudah ditunjukan Tb Hasanuddin dan Dedi Mulyadi: memberi selamat untuk Kang Emil yang terbaik. Demokrasi yang mendewasakan.

Terakhir: seperti kata teman sejawat, Fauzan Dardiri: Sehat selalu, jangan lupa bahagia. Mari, tetap dukung Tim Nasional (U19) berjuang di laga AFF Cup 2018. Sambut JUARA penuh gembira.