Jiman, Duda Setia Kebal Digoda

Ilsutrasi pixabay.com.

Menjalin tali silaturahmi tentu bisa dengan siapa saja, termasuk dengan teman lama. Tapi, bagaimana jadinya kalau niat baik beramah-tamah malah ditanggapi dengan harapan bisa menjalin rumah tangga. Padahal sang wanita, sebut saja Boneng (40), sudah punya suami dan beranak tiga.

Aih, ini beneran, Kang?

“Saya juga bingung, sikap dia itu aneh ke saya. Padahal saya mah biasa saja,” kata Jiman (47) bukan nama sebenarnya kepada Radar Banten.

Ah itu mah Kang Jimannya saja kali yang kepedean.

“Aih, sembarangan. Kalau saya enggak punya iman, beuh, sudah saya jadikan dia bahan pelampiasan,” ungkapnya.

Wih, serem amat sih, Kang.

Jiman mengaku, ia sudah lama hidup menduda. Semenjak kematian istri tercinta, ia tak pernah sekali pun memiliki niatan untuk mencari pengganti. Meski saudara dan anak-anaknya menyarankan agar menikah lagi, tapi entah mengapa, sepertinya ia tidak lagi berhasrat untuk membangun bahtera rumah tangga.

Anehnya, meski dari segi ekonomi mencukupi, ayah empat anak itu bisa mengadang semua godaan wanita yang datang. Katanya, bukan cuma Boneng yang mencoba merayu, ada banyak wanita yang sering ditolaknya, atau mungkin lebih tepatnya tidak ditanggapi dan berujung sakit hati. Widih, keren amat sih, Kang!

“Enggak akan ada yang bisa menggantikan posisi almarhum istri di hati saya. Mau wanita cantik, seksi, dan kaya sekali pun. Tetap saja, saya enggak mau,” katanya bangga. Duh jadi penasaran nih sama kisah cinta Kang Jiman dan istri, kok bisa sih sampai bikin kakang jadi kayak begini.

Mendengar pernyataan itu, Jiman mengubah posisi duduknya. Di salah satu warung kopi di daerah Palima, Kota Serang, ia menghirup kopi yang baru diantar penjaga warung. Tak lama kemudian, barulah ia mulai bercerita tentang petualangan cintanya bersama sang istri.

Jiman dan almarhum istri sebenarnya berasal dari keluarga berada. Sejak kecil mereka sering bermain bersama. Namun, lantaran ayah sang istri yang berprofesi sebagai tentara dipindahtugaskan ke luar kota, jadilah mereka berpisah. Membuat masa kecil Jiman kehilangan teman bermain.

Hingga Jiman beranjak remaja, ia tak lagi bertemu dengan teman kecilnya itu. Sampai akhirnya bisnis sang ayah bangkrut, Jiman tak bisa lagi melanjutkan sekolah. Keluarganya yang terlilit utang di mana-mana, membuat mereka pindah ke Tangerang.

Dan di sanalah, Jiman kembali bertemu dengan wanita teman kecilnya. Namun, saat itu status sosial mereka berbeda. Jiman anak orang miskin, sedangkan sang istri anak orang kaya yang juga sekolah di SMA ternama. Setiap hari pulang pergi dengan kendaraan pribadi.

Duh sedih banget sih, Kang. Kok kayak sinetron gini ya ceritanya.

“Ya memang begitu. Saya sampai sempat diusir satpam pas mau deketin dia di gerbang sekolah,” curhat Jiman.

Singkat cerita, lantaran kedekatan yang terjalin antara Jiman dan sang teman kecilnya itu masih kuat. Ia nekat sering mengajak makan berdua. Jadilah mereka saling mencinta. Hebatnya, Jiman memberanikan diri main ke rumah sang wanita.

Seperti apa yang dikhawatirkannya, kedua orangtua sang wanita tidak merestui hubungan mereka. Tapi beruntungnya, setelah Jiman mengenalkan diri, nenek sang wanita masih mengingat Jiman. Berceritalah sang nenek kalau dahulu keluarga Jiman sangat baik terhadap mereka. Jiman pun tersenyum bahagia.

Dan keberuntungan itu datang untuk kesekian kalinya, lewat peran seorang teman, Jiman bisa bekerja di salah satu perusahaan ternama. Entah bagaimana caranya, ia bisa masuk bekerja dan memiliki gaji lumayan besar. Ya, namanya juga nasib. Jiman pun mampu mengangkat ekonomi keluarga.

Tiga tahun berlalu, merasa sudah punya penghasilan dan mampu membiayai hidup sang kekasih, Jiman melamar sang wanita. Meski tidak sepenuhnya direstui orangtua sang istri, pernikahan tetap terjadi. Mengikat janji sehidup semati, akhirnya Jiman dan teman kecilnya itu resmi menjadi sepasang suami istri.

Di awal pernikahan, rumah tangga mereka berjalan sempurna. Lima tahun berlalu, keduanya sudah karuniai anak tiga. Seolah tak henti-hentinya diberi nikmat, sang istri mengandung anak keempat. Namun, apalah daya, saat itu sang nenek meninggal dunia. Parahnya, sejak saat itu perlakuan orangtua sang istri terhadap Jiman menjadi berubah.

Hingga tragedi itu terjadi, lantaran sering dimarahi oleh ayahnya, sang istri depresi. Bukan hanya itu, ia juga dibujuk untuk menceraikan suami. Parahnya, saat itu Jiman tidak diberi tahu sama sekali atas apa yang dilakukan mertuanya kepada sang istri. Aih-aih.

Hingga Tuhan berkehendak lain, mungkin lantaran tak kuat atas tekanan yang terjadi, sang istri menghembuskan napas terakhirnya saat Jiman sibuk bekerja. Katanya, ia terkena serangan jantung mendadak. Saat dibawa ke rumah sakit, nyawanya sudah tiada.

Innalillahi, sabar ya Kang Jiman.

“Sekarang sih saya mencoba jaga kepercayaan dia saja kalau saya enggak bakal berpindah ke lain hati,” kata Jiman.

Tapi, ya namanya juga kehidupan. Sosok Jiman yang tampan rupawan, dengan harta melimpah. Terlebih ia memiliki anak-anak yang sukses dan mau merawatnya di masa tua, membuat banyak wanita datang menghampiri. Seperti yang terjadi dengan Boneng, teman lama yang sudah punya keluarga.

Di siang hari yang terik, Boneng datang mengetuk pintu rumah Jiman. Masuklah ia ke ruang tamu dan mengobrol banyak hal. Saking tak nyamannya Jiman lantaran sering didatangi, tanpa ragu ia menyampaikan pertanyaan,

“Memangnya suami kamu tidak marah kalau tahu kamu sering main ke rumah saya?” tanya Jiman penasaran.

Bagai tersambar petir di siang bolong, Jiman tak menyangka dengan jawaban Boneng. Seperti wanita yang tak memiliki hati, ia justru membuat Jiman emosi.

Aih memang dia ngomong apa, Kang?

“Masa dia bilang, saya sudah enggak suka sama suami, maunya sama Kang Jiman. Nikahin saya sih, Kang. nanti saya ceraikan suami saya,” ucap Jiman meniru perkataan Boneng. Sambil membentak dengan sebutan “Gila kamu!”, ia pun mengusir dan meminta Boneng untuk tidak mendatanginya lagi.

Subhanallah, keren amat sih Kang. Cerita Kang Jiman ini menjadi bukti kalau enggak semua lelaki itu bejat. Bahkan cinta istri yang sudah meninggal pun selalu dijaga. Luar biasa. (daru-zetizen/zee/ags/RBG)