Jimly: Jangan Jadi Politisi Kampungan

Jimly Asshiddiqie.

SERANG – Panasnya situasi politik pada perhelatan pemilu hal yang biasa. Masyarakat jangan sampai terlalu baper (bawa perasaan). Sementara, para elite politiknya jangan menjadi politisi kampungan.

Mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqie menilai, isu yang didasarkan pada sentimen suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) memang masih sulit dihindari dalam praktik politik di Indonesia. “Tapi kalau dia tokoh atau ditokohkan orang, kita anjurkan jangan menggunakan isu SARA dalam kampenye. Tapi kalau warga biasa, kan susah. Jadi, lebih baik kita jangan baper, jangan ditanggapi,” katanya di Kota Serang, Selasa (30/10).

Kata dia, jadikanlah momentum pemilu untuk mendewasakan diri sebagai masyarakat politik yang demokratis. Elite politik dan para tokoh harus memberikan keteladanan kepada masyarakat umum. “Jangan jadi elite politik ikut-ikutan menyebar (SARA). Kalau masih banyak, istilah saya kampungan. Kita jangan jadi politisi kampungan,” kata Jimly.

Lebih baik, menurut Jimly, masing-masing kelompok berikan dukungan pada calonnya dan promosikan yang baik-baik darinya. Jangan urusi calon lain yang tidak disuka. “Begitu Anda mengurusi calon lain, Anda akan tergerak untuk mencari jeleknya maka kampanye berubah jadi negatif. Kalau sudah dua tiga hari kampanye negatif, nanti ngomongnya jadi kampanye hitam,” ujarnya.

Agar pemilu menjadi ajang demokrasi yang mencerahkan masyarakat, Jimly menyarankan, para elite, tokoh dan tim sukses memberikan keteladanan kepada masyarakat. Gunakan waktu kampanyenya untuk mengenalkan tokoh yang didukungnya. “Mari kita membangun budaya demokrasi bermartabat, berbudaya menyenangkan dan mencerahkan,” seru Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) ini.

Dalam beberapa kesempatan, organisasi pergerakan mahasiswa di Banten juga menyerukan agar Pilpres 2019 yang diikuti dua pasangan, Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menjadi perang gagasan. Para simpatisan harus lebih bisa mengontrol diri, sedangkan elitenya lebih mawas diri.

Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Banten Asep Rahmatullah mengatakan, pilpres menjadi hajat bersama bangsa Indonesia untuk menghasilkan pemimpin sesuai cita-cita bangsa. “Prosesnya harus dilakukan secara ideal. Mulai dari pihak penyelenggara, parpol, tim sukses kedua belah pihak, juga masyarakat secara luas,” katanya.

Kata dia, pilpres harus menjadi ajang adu gagasan dari pasangan calon dan juga seluruh komponen pendukungnya.

Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Serang Arman Maulana mengatakan, yang lebih penting bagi masyarakat adalah menjadikan momentum pilpres ini sebagai titik baru perubahan sejarah. “Perhelatan demokrasi besar ini harus jauh dan steril dari isu SARA dan tetap menjaga persatuan bangsa,” katanya.

Senada dikatakan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Serang Abu Jihad Amin. Menurutnya, pemilu harus bisa memberikan pendidikan politik ke masyarakat agar demokrasi menjadi sehat. Para calon dan timnya haru harus bisa mengampanyekan program nyatanya.

“Jangan sampai pipres atau pilpres cuma jadi seremonial pemilihan tanpa ada perdebatan gagasan,” ujarnya. (ken/dwi)