Yuli (kanan) mendapatkan pelayanan dari pegawai Klinik Khusus Ginjal Hemodialisis, Kota Cilegon.

CILEGON – Yuli, salah satu peserta Jaminan Kesahatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) asal Tegalwangi, Kota Cilegon sangat bersyukur dengan adanya program JKN-KIS yang dikelola oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Dengan program itu, persoalan finansial yang dihadapinya dalam setiap pengobatan penyakit gagal ginjal bisa teratasi.

Yuli sejak tahun 2014 menderita gagal ginjal. Ginjal bagian kanannya tidak berfungsi dengan baik sehingga membuat kondisi kesehatan tubuhnya terus menurun.

Agar tetap bisa bertahan hidup dan beraktivitas, hemodialisa menjadi pilihan satu-satunya yang harus dilakukan Yuli. Ia juga harus secara rutin mengkonsumsi obat serta melakukan hemodialisa agar aliran darahnya tetap bersih.

Untuk menikmati pelayanan medis itu bukan perkara mudah dan murah. Fasilitas kesehatan (faskes) di Kota Cilegon yang mampu melayani pengobatan penyakit itu hanya 2 (dua) rumah sakit. Karena banyak penderita penyakit gagal ginjal dan keterbatasan alat, pasien harus menunggu lama. Sedangkan pilihan lain harus dirujuk ke rumah sakit di Jakarta.

Beruntung, di awal tahun 2016 ada Klinik Khusus Ginjal Hemodialisis hadir di Kota Cilegon dan membuka layanan baik untuk umum maupun peserta JKN-KIS. Sejak saat itu, secara rutin, Yuli berobat dan melakukan cuci darah di klinik yang berada di Bonakarta tersebut. “Saya seminggu dua kali cuci darah, Rabu sama Sabtu. Kebayang kalau harus bulak balik ke Jakarta. Selain menghabiskan biaya, juga tenaga dan waktu,” ujar Yuli.

Yuli mengaku bersyukur adanya klinik tersebut di Kota Cilegon, terlebih klinik itu pun bekerja sama dengan BPJS Kesehatan sehingga ia bisa menikmati layanan kesehatan dari program JKN-KIS.

Kata Yuli, tidak bisa membayangkan berapa banyak biaya yang harus ia keluarkan selama tiga tahun terakhir untuk berobat. Suatu waktu ia pernah berobat tanpa program JKN-KIS. Saat itu, untuk biaya obat dan konsultasi harus mengeluarkan Rp 400ribu. Sedangkan untuk cuci darah saja Rp850 ribu.

“Sudah tidak tahu lagi seberapa banyaknya uang yang harus saya keluarin kalau tidak ada JKN-KIS. Alhamdulillah sudah tiga tahun ini berangsur baik,” kata Yuli.

Di klinik tersebut, selama tiga tahun ini Yuli mengaku tidak pernah mendapatkan pelayanan yang berbeda dengan pasien umum. Menurutnya, klinik tidak membeda-bedakan pasien.

Yuli mengaku berterima kasih kepada pihak klinik, BPJS Kesehatan, juga kepada seluruh peserta JKN-KIS. Menurutnya, pelayanan medis yang dinikmatinya selama ini untuk tetap bisa beraktivitas, tidak terlepas dari bantuan seluruh peserta JKN-KIS yang rutin membayarkan iuran.

“Makanya saya juga bilang ke temen-temen kantor yang gak pernah pakai kepesertaan JKN-KIS-nya, mereka itu dapat pahala karena sudah membantu saya dan pasien lain,” ujarnya. (Adv/Bayu M)