JLU Diduga Picu Banjir, 30 Hektare Sawah Terendam

0
676 views

GROGOL – Banjir pada Senin (27/1) lalu tidak hanya menerjang permukiman warga di Kelurahan Grogol, Kotasari, dan Rawa Arum. Namun juga merendam sekira 30 hektare sawah di Kelurahan Grogol.

Selain karena curah hujan tinggi, serta terjadinya pendangkalan di sungai yang melintas dari Lingkungan Cikebel ke Ciore, warga pun meyakini konstruksi Jalan Lingkar Utara (JLU) yang membentang tepat di tengah areal persawahan menjadi penyebab banjir.

Pantauan Radar Banten di lokasi, lahan JLU di Kelurahan Grogol sudah dimatangkan. Di bagian kiri dan kanan jalan berdiri tembok fondasi dengan ketinggian berkisar dari setengah hingga satu meter. Sayangnya, belum ada saluran air yang disediakan. Demikian juga tidak ada gorong-gorong yang dibuat selain jalur sungai utama. Itu pun kondisinya masih dangkal.

Tembok yang membentang di kiri dan kanan JLU yang tidak disertai gorong-gorong diyakini warga menjadi salah satu penyebab banjir yang merendam areal pertanian. Air hujan tak bisa langsung ke sungai tapi tertahan oleh tembok tersebut.

Saniin, salah seorang warga yang sawahnya terendam mengaku sedih sebab dirinya belum lama menanam padi. Akibatnya ia harus menanam ulang bibit padi. “Enggak pernah separah ini, banjirnya kemarin tinggi,” ujar Saniin disela-sela menanam bibit padi, Rabu (29/1).

Kata Saniin, biasanya saat hujan, air hujan maupun yang berasal dari perkampungan dan bukit langsung ke sawah dan mengalir ke sungai. Namun hal tersebut tak terjadi saat hujan deras mengguyur lingkungan tersebut pada Senin (27/1).

Menurut Saniin dan sejumlah warga yang sedang beraktivitas di area persawahan tersebut, seharusnya pemerintah memperhatikan akses air menuju sungai. Selain itu, pemerintah pun harus melakukan normalisasi sungai terlebih dahulu. “Mumpung belum dibeton, JLU ini harus ditinjau ulang. Harus ada saluran air yang jelas,” ujar Saniin.

Penuturan warga pun diamini oleh Lurah Grogol Suhaemi. Wilayahnya baru kali ini diterjang banjir separah itu.  Kata Suhaemi, warga sudah meminta adanya saluran air sebelum proyek itu dibangun, tetapi  rupanya permintaan warga yang telah direspons baru sebagian.

“Saluran itu baru perencanaan. Kalau sekarang ini belum sampai ke dimensi yang diharapkan, tapi alhamdulilah tidak terjadi banjir diatasnya (Ciore Jaya). Harapan ketikan nanti dibangun diberikan saluran yang sesuai, sehingga tidak kembali lagi banjir,” ujar Suhaemi.

Menurut Suhaemi, ada sekira 30 hektare sawah yang terendam banjir. Sawah tersebut terletak di Lingkungan Ciore Wetan dan Ciore Kwista. Paling luas sawah yang terendam di Ciore Wetan, di sana sekira 20 hektare sawah yang menjadi korban luapan air.

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Kota Cilegon Erik Erlangga serta anggota DPRD Kota Cilegon dari Dapil Grogol-Pulomerak Aam Amrullah berencana meninjau lokasi JLU untuk memastikan jika pengerjaan jalan tersebut sesuai dengan perencanaan dan juga hasil kajian analisis dampak lingkungan (amdal).

Keduanya kompak menjawab akan meninjau lokasi Senin (3/2) mendatang. Jika memang pada hasilnya ditemukan kesalahan maka ia meminta kepada pemerintah untuk meninjau ulang pelaksanaan proyek tersebut. “Pada prinsipnya kita akan kordinasi dengan pihak terkait untuk mengambil prencanaan yang tidak merugikan masyarakat,” ujar Aam.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas PUTR Kota Cilegon Ridwan menjelaskan, proses pembangunan JLU dilakukan secara bertahap. Menurutnya pembangunan sistem saluran air baru akan dilakukan bersamaan dengan betonisasi.

Soal banjir yang merendam sawah, ia meyakini bukan karena konstruksi badan jalan, melainkan kondisi sungai yang sudah tidak bisa menampung debit air besar. Namun pihaknya berjanji akan menangani masalah tersebut. “Sungainya harus ada TPT-nya biar gak meluap, paling nanti dari sungainya kita tangani,” ujarnya. (bam/ibm/ags)