Setelah menjalani rumah tangga selama tiga tahun, Imah, (48) nama samaran, akhirnya dihantui rasa penyesalan pasca perceraiannya dengan suami, sebut saja Cueng (51). Imah baru sadar jika Cuenglah sosok suami yang ia cari selama ini. Meski Cueng bukan pria pilihannya untuk dijadikan pasangan sehidup semati.

Radar Banten pun menemui Imah di kawasan Cikande. Parasnya menawan. Bodinya juga menjanjikan untuk dijadikan model. Imah saat itu terlihat murung dan kurang bersemangat sehingga sedikit memudarkan kecantikannya. Setelah ditanya, usut punya usut ternyata Imah mempunyai masalah dalam rumah tangganya. Beruntung Imah mau berbagi kisah rumah tangganya.

Diceritakan Imah, ia terlahir dari keluarga sederhana. Imah merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Tetapi, Imah mempunyai sifat buruk, dari sejak kecil wataknya sedikit keras kepala. Kendati demikian, Imah termasuk sosok yang bisa bikin nyaman orang untuk curhat. Lantaran itu, Imah memiliki banyak kawan di mana-mana. Tak sedikit kaum adam yang tergoda dan jatuh cinta pada kesan pertama mengenal Imah. Didukung sifat percaya diri, tak pelak Imah jadi sering ganti-ganti pacar. Bahkan yakin dengan dirinya sendiri jika suatu saat bisa menikah dengan artis. Pede tingkat dewa nih! Jangan percaya diri terlalu tinggi Mbak, nanti jatuhnya sakit.

“Ya begitulah Mas. Kayaknya enak kalau punya suami artis, bisa diajak main film,” ucapnya. Film kartun mau, Mbak?

Salah satu teman masa remaja Imah yang sudah menyadari kalau Cueng di masa-masa sekolahnya dulu sudah lama mengejar cinta Imah. Namun, Imah tidak tertarik dengan perhatian super yang diberikan Cueng. Maklum, Imah kan seleranya tinggi. Artis. Lain dengan Cueng yang menjalankan usaha kecil dan lahir dari keluarga petani. Pasti beda kasta dong. Perjuangan Cueng untuk mendapatkan hati Imah pun sia-sia. Berkali-kali cinta Cueng ditolak Imah dan lebih memilih untuk menjalin pertemanan biasa.

Nasib baik Cueng tiba berkat jasa orangtua. Kedua orangtua mereka ternyata bersahabat hingga akhirnya mereka sepakat untuk menjodohkan Imah dan Cueng. Nah, ini nih ibarat kata kalau sudah punya niat baik pasti dikabulkan.

“Jadi, bapak dia (Cueng) tuh teman baik bapak saya. Mereka sudah membuat rencana untuk menikahkan saya sama Cueng,” curhatnya.

Singkat cerita, Cueng datang bersama kedua orangtuanya untuk melamar Imah. Awalnya Imah menolak. Namun karena bujukan orangtua dan tidak mau disebut anak durhaka, Imah akhirnya mengalah meski sempat terjadi perseteruan sengit bak perang dunia kedua. Belum puas menikmati masa muda, Imah pun merelakan hatinya dipinang Cueng.

“Ya bukannya sombong atau sok cantik menolak Cueng Mas. Saya cuma enggak mau menyesal nantinya. Saya cuma ingin punya suami sesuai kriteria, itu aja,” tukasnya.

Melihat kesungguhan Cueng, Imah luluh juga demi kebahagiaan keluarga. Kebahagian itu pun tiba. Mereka menikah dan mengikat janji sehidup semati. Mengawali rumah tangga, Imah tetap menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Cueng. Imah tak pernah menghiraukan perhatian yang diberikan Cueng selama menjalani bahtera rumah tangga.

Cueng yang memang tidak ingin kehilangan Imah pun menjadi sosok suami takut istri, mau menuruti apa yang diminta Imah. Sejak itu, Imah semakin jemawa dan berbuat seenaknya terhadap Cueng. Di ranjang juga Imah melayani suami semaunya, hanya jika lagi mood saja. Oalah. Sabar ya Mas Cueng.

“Ya bagaimana lagi. Waktu itu saya merasa enggak bahagia aja nikah sama Mas Cueng. Namanya juga enggak cinta, ya susah juga dipaksa,” akunya.

Kendati tak cinta, Imah tetap memberikan kebahagiaan buat Cueng dengan lahirnya anak pertama. Sejak dikaruniai anak, Cueng semakin perhatian dan menumpahkan kasih sayangnya terhadap Imah. Namun, Imah tetap pada pendiriannya, bersikap semena-mena terhadap Cueng. Imah menyia-nyiakan kasih sayang dan kesetiaan yang telah diberikan Cueng. Sampai akhirnya rumah tangga berjalan tiga tahun, sikap Cueng mulai berubah.

Cintanya mulai memudar kepada Imah. Wah,,,wah,,,ada apa ya?. Cueng cenderung acuh dan cuek. Situas berbalik 180 derajat. Perubahan sikap Cueng pun membuat Imah penasaran karena seolah sudah hilang rasa terhadap Imah. Usut punya usut, Imah mendengar dari gosip tetangga kalau Cueng pindah ke lain hati alias punya wanita idaman lain. Mungkin terlalu lama dicueki kali ya. Kabarnya, Cueng sedang dekat dengan perempuan pegawai salon langganannya tak jauh dari rumah. Merasa kehilangan perhatian suami yang diberikan selama berumah tangga, Imah mulai sadar bahwa dia salah atas sikapnya. Imah mulai rindu akan kasih sayang Cueng hingga mencari tahu kebenarannya. Ceritanya Imah cemburu buta. Imah pun meminta kejelasan kepada sang suami atas perubahan sikapnya dan merebaknya gosip tetangga.

“Memangnya selama ini saya nyaman dicueki terus? Di depan saja saya senyum, di belakang mah nangis. Sekarang giliran ada wanita yang bikin saya nyaman, kamu malah marah-marah,” cerita Imah meniru ucapan suaminya saat itu. Makanya, jangan suka jual mahal Mbak Imah, menyesal kan!

Imah pun menyadari kesalahannya dan meminta maaf kepada suami. Namun, apa daya, suami sepertinya sudah capek menerima perbuatan Imah. Kata maaf Imah pun untuk suami sudah tidak ada artinya. Cueng tetap pada pendiriannya memilih wanita lain yang dinilainya lebih membuatnya nyaman. Sejak itu, Cueng memalingkan muka dan menceraikan Imah. Kini, Imah pun menerima nasibnya pisah dengan suami dan mengurus anak sendiri penuh penyesalan. Ya nasibmu Imah. Semoga ini menjadi pelajaran berharga agar ke depan bisa melangkah lebih baik. Yassalam. (Daru/zai/ira)