Jual Mahal, Ujungnya Banting Harga

Sok jual mahal, begitulah kalimat yang tepat untuk mengawali kisah Mona (41), bukan nama sebenarnya. Banyak menolak pria karena ingin mahar yang mahal, Mona akhirnya banting harga dengan memilih Udin (44), nama samaran, sebagai suaminya yang orang biasa saja dan tidak bisa memberikan mahar sesuai yang Mona harapkan.

Ditemui Radar Banten di salah satu rumah makan di Kecamatan Serang, siang itu Mona baru selesai makan dengan temannya. Saat diajak mengobrol, ibu satu anak ini tak keberatan menceritakan pengalaman asmaranya. Dulu, prinsip Mona, kebahagiaan itu datang ketika ditunjang materi. Mona berkaca pada teman-temannya yang merasakan demikian. “Makanya saya tuh hati-hati banget milih suami,” ujar Mona. sudah kayak mau nyebrang aja hati-hati.

Wajar Mona berkata demikian. Orangnya memang cantik, tubuhnya juga ideal bak model kaos kaki, eh model iklan. Apalagi Mona di kampungnya dikenal sebagai kembang desa. Tak sedikit rekan ayahnya yang sering datang ke rumahnya hanya sekadar untuk mengajak besanan. Beruntung, orangtua menyerahkan semua keputusan ada di tangan Mona. Tidak sedikit pria yang datang untuk melamar ditolak Mona mentah-mentah. “Untungnya bapak tuh enggak ngatur-ngatur soal jodoh,” ucapnya. Iyalah, yang ngatur cukup pemerintah, orangtua ikut aja.

Setelah Mona lulus SMA, tamu teman ayahnya yang datang ke rumahnya semakin ramai. Setiap bulan pasti ada saja yang ingin meminang Mona. Awalnya silaturahmi. Ujung-ujungnya menanyakan kapan Mona menikah dan berharap bisa dijodohkan dengan anak lelakinya. Seiring waktu, Mona ditinggalkan teman-temannya yang membangun keluarga duluan. Tentu saja Mona iri dengan situasi itu. Bahkan, sampai teman-temannya mempunyai anak, Mona tak kunjung menikah karena terlalu memilih. Mona asik sendiri dan fokus bekerja sebagai karyawan pabrik di daerah Cilegon. Mona tak punya teman dekat lelaki. Satu-satunya lelaki yang dekat dengannya dan sering antar pulang pergi kerja hanya saudaranya sendiri. “Di tempat kerja juga banyak yang deketin, tapi sayanya biasa aja,” ujarnya dengan nada angkuh. Siapa tahu yang deketin cuman mau minjem duit.

Namun, Mona tetap keukeuh pada pendiriannya mencari pria mapan dan tampan untuk melamarnya. Pernah ada yang sesuai dengan kriteria Mona, sayangnya pria itu sudah berkeluarga. “Banyak yang punya anak istri ngedeketin. Tapi, masa iya saya harus ngerusak rumah tangga orang,” tukasnya. Ya jangan. Apalagi rumah tangga yang sudah rusak, makin berabe.

Mona tak menyadari kalau usianya sudah menginjak kepala tiga dengan tetap memegang prinsipnya itu. Omongan tak sedap pun mulai merebak di masyarakat. Ada yang bilang perawan tua sampai bilang Mona tak suka dengan laki-laki atau lesbian. “Parah banget omongannya pada nyakitin,” kesalnya. Makanya, jangan jual mahal dong.

Sampai akhirnya, tak ada satu pun lelaki yang datang melamar ke rumah Mona. Kedua orangtua dan keluarga pun mulai was-was melihat Mona yang sampai usia mapan belum juga mempunyai gandengan. “Bapak sama ibu mulai bawel. Setiap hari nanyain terus kapan nikah,” ketusnya. Ya sudah sama saya saja. “Yey maunya,” tepisnya. Namanya juga usaha.

Akhirnya ayahnya mengundang seorang lelaki bersama keluarganya. Lelaki itu adalah Udin yang berperawakan tinggi. Wajahnya biasa saja, tidak ada yang istimewa. Udin juga hanya anak dari seorang buruh tani dan hanya siap memberikan mahar seadanya. “Karena enggak ada lagi, jadi ya Sudahlah,” ujarnya. Kepaksa gitu? “Enggak ada pilihan,” timpalnya.

Namun, Mona terbilang beruntung. Berkat kerja keras Udin setelah menikah dengan Mona. Kini keduanya sudah mempunyai usaha membuka toko beras. Ekonomi keluarga juga dibantu Mona yang masih bekerja di pabrik, kehidupan ekonomi mereka tercukupilah. “Sekarang saya enggak mau neko-neko, bersyukur aja sama Kang Udin,” ucapnya. Harus gitu dong. (mg06/zai)