Hasil produksi gerabah berjejer di halaman sentra produksi gerabah Banten di Desa Bumijaya, Kecamatan Ciruas, Jumat (2/3).

SERANG – Hasil produksi gerabah berjejer di halaman sentra produksi gerabah Banten di Desa Bumijaya, Kecamatan Ciruas, Kiprah produk gerabah Banten produksi perajin di Desa Bumijaya, Kecamatan Ciruas yang menjadi salah satu produk lokal Kabupaten Serang dan mulai dikenal di berbagai daerah terancam. Hal itu dipicu semakin menyusutnya jumlah perajin gerabah karena banyak yang beralih profesi.

Koordinator Perajin Gerabah Banten Desa Bumijaya Ahmad Suhaemi mengeluhkan, jumlah perajin gerabah di wilayahnya yang terus berkurang. Sebelumnya, Ahmad mencatat, jumlah perajin gerabah di desanya mencapai 500 orang. “Jumlah perajin gerabah terus mengalami penurunan. Saat ini hanya ada 150 orang,” keluhnya yang ditemui Radar Banten di Sentra Produksi Gerabah Desa Bumijaya, Kecamatan Ciruas, Jumat (2/3).

Penyusutan jumlah perajin gerabah, dijelaskan Ahmad, dipicu banyaknya perajin yang beralih profesi menjadi tenaga kerja di industri. Belum lagi, banyak perajin muda yang berniat mengadu nasib mencari nafkah dengan merantau di luar daerah. “Padahal, kerajinan gerabah ini turun-temurun dari nenek moyang kami,” tukasnya.

Semakin menyusutnya jumlah perajin, kata Ahmad, berdampak pada penurunan produksi gerabah. Kondisi itu berimbas pada pemasaran gerabah. Padahal, pemasaran gerabah Banten, kata Ahmad, merambah hingga ke luar daerah seperti Jakarta, Bogor, Sulawesi. Bahkan, sampai mancanegara seperti negara Singapura. Selain itu, lanjutnya, gerabah Banten juga banyak diproduksi di provinsi lain, seperti di Pulau Dewata Bali.

“Banyak turis mancanegara yang tertarik membeli gerabah di Bali. Mereka sudah produksi sendiri, dulu diproduksi di sini (Ciruas-red). Mungkin itu juga menjadi salah satu faktor menurunnya perajin,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Serang Abdul Wahid tidak menampik, terjadi penurunan jumlah perajin gerabah di Kecamatan Ciruas. Penyebabnya, menurut Wahid, produksi gerabah Banten kalah saing dengan produksi gerabah dari daerah lain. “Kita kalah saing dengan Jogjakarta dan Purwakarta,” jelasnya melalui sambungan telepon seluler.

Belum lagi, kata Wahid, harga gerabah Banten yang dinilai masih relatif tinggi. Sementara motif gerabah monoton dan tidak ada perkembangan. “Perlu ada motif lain seperti asbak rokok atau pot bunga. Kalau yang besar-besar itu kan harganya juga lumayan, hanya bisa dibeli oleh orang-orang pecinta seni saja,” terangnya.

Lantaran itu, pihaknya mencanangkan program pelatihan-pelatihan untuk mengembangkan produksi gerabah Banten, khususnya di Desa Bumijaya. Wahid berencana, mengajak beberapa perajin gerabah untuk studi banding ke daerah lain. “Saya sudah ngobrol bersama Ibu Bupati (menyebut Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah-red), Ibu juga menginginkan ada pengembangan produksi gerabah,” tandasnya. (mg06/zai/ags/RBG)