Jusuf Kalla: Masjid Harus Makmurkan Jamaah

0
102
Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla didampingi Gubernur Banten Wahidin Halim menyalami para pengurus DMI Banten usai pelantikan di Pendopo Gubernur, KP3B, Curug, Kota Serang, Rabu (26/2).

SERANG – Mantan Wakil Presiden RI M Jusuf Kalla melantik dan mengukuhkan Pimpinan Wilayah Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Banten masa khidmat 2019-2024, kemarin. Pada kesempatan itu, pria yang merupakan Ketua Umum Pengurus Pusat DMI itu berpesan agar jamaah bisa memakmurkan masjid begitu pun sebaliknya, masjid memakmurkan jamaah.

“Bagaimana masjid kita makmurkan dan masjid memakmurkan jamaahnya,” ujar JK saat sambutan di Pendopo Gubernur Banten, KP3B, Rabu (26/2).

Kata dia, Indonesia memiliki masjid dan musala terbanyak di dunia karena umat Islamnya terbesar. Diperkirakan 900 ribu masjid dan musala. “Saya juga kurang hafal berapa karena tiap hari bertambah,” tutur pria kelahiran Sulawesi Selatan 77 tahun silam.

JK menerangkan, ada tiga tahap memakmurkan masjid yakni membangun, mengurus, dan memelihara. Ketiga hal itu harus dilakukan untuk memakmurkan masjid.

Selain itu, ia juga menekankan agar masjid tak hanya sekedar dibangun, tetapi juga harus memenuhi syarat-syarat karena masjid berfungsi bukan hanya untuk tempat salat. “Tapi juga untuk tempat berdiskusi tentang apa saja seperti pendidikan, kesehatan, bahkan pengembangan ekonomi masyarakat,” tuturnya.

Mantan ketua umum Partai Golkar ini mengatakan, dakwah di dalam masjid setidaknya 60 persen untuk keagamaan dan sisanya untuk memakmurkan masyarakat. Ia mencontohkan, di daerah pertanian, saat salat Jumat, bisa juga mendatangkan ahli pertanian. “Karena di saat itulah semua jamaah berkumpul di waktu yang sama,” ujar JK.

Ia berharap, ustaz dan kiai bukan hanya berdakwah. “Karena di sinilah kekurangan kita. Gedung tinggi siapa yang punya. Kita hanya menjadi konsumen saja. Padahal kita diajarkan untuk meneladani kehidupan Rasulullah dengan berdagang,” ujar JK.

Apabila mengikuti Rasulullah dengan berdagang maka ia mengatakan umat Islam akan sejahtera. Dengan kesejahteraan itu maka umat Islam bisa memakmurkan masjid.

Apalagi, lanjutnya, Banten mempunyai sejarah dan itu digambarkan dengan adanya masjid-masjid dibangun ratusan tahun yang lalu. Daerah ini juga menjadi pusat Islam dan dakwah, tetapi tidak cukup dibangun dengan masjid yang megah.

Kata dia, di dalam masjid tidak hanya berbicara tentang ibadah, tetapi bagaimana caranya membuat masyarakat maju dengan keimanan dengan menumbuhkan ekonomi masyarakat. “Banyak yang mengatakan masjid banyak radikalisme. Saya bilang bedakan antara radikalisme dengan amar ma’ruf nahi munkar.  Radikalisme merencanakan teror. Kita lihat di berita-berita, radikalisme dilakukan di rumah kontrakan bukan di masjid. Jadi yang diperiksa bukan masjid tapi rumah kontrakan,” tutur JK.

Pada kesempatan itu, wakil presiden pertama yang menjabat dua kali ini mengatakan, masjid harus memberikan kesyahduan. Makanya ia meminta speaker masjid jangan sampai melampaui. Di Banten misalnya ada delapan ribu masjid dan musala yang semuanya mempunyai speaker. “Kadang-kadang semua speaker keras sehingga tidak jelas apa yang didengar, bahkan cenderung mengganggu karena tidak ada kesyahduan,” tuturnya.

Untuk itu, ia meminta speaker masjid jangan saling melampui. Suara yang keluar dari speaker masjid jangan sampai ke masjid yang satunya sehingga dapat terdengar jelas pengajian dan azannya. “Itu penting agar ada kesyahduan satu suara dengan wajar,” ujar pria yang juga merupakan seorang pengusaha ini.

Sementara itu, Gubernur Banten Wahidin Halim mengatakan, selama ini Pemprov Banten telah mendukung dan membantu pembangunan masjid yang ada di Banten. Setiap tahun, Pemprov menganggarkan pembangunan tiga masjid dengan anggaran masing-masing sekira Rp2,5 miliar. Selain itu, Pemprov juga melakukan penataan masjid-masjid di kawasan wisata religi.

Dengan visi misi membangun masyarakat Banten yang berakhlakul karimah, WH mengatakan, pihaknya juga menciptakan pemerintahan yang bersih.

Terpisah, Ketua Pimpinan Wilayah DMI Provinsi Banten Rasna Dahlan mengatakan, jumlah masjid di Banten mencapai 8.722 unit. Sedangkan jumlah musala sebanyak tiga kali lipat dibandingkan masjid sekira 15 ribu lebih. “Mayoritas dibangun oleh masyarakat. Sedangkan pemerintah hanya stimulan saja, bantuan ala kadarnya,” ujar Rasna.

Kata dia, di Banten dakwah berupa pemakmuran untuk jamaahnya sudah berjalan meskipun belum komprehensif. “Tapi semua kita arahkan ke sana. Bahwa kalimat memakmurkan masjid dan dimakmurkan masjid,” tuturnya.

Ke depan, ia mengatakan, masjid akan menjadi sumber inspirasi. “Jamaah masjid bagaimana ingin supaya makmur, sejahtera ekonominya, pendidikannya, mentalnya bagus, maka dibangun dari masjid,” ujar Rasna. (nna/air/ags)