Menpora, Imam Nahrawi.
Menpora, Imam Nahrawi. (Foto: Natalia Fatimah Laurens/JPNN.com)

JAKARTA Adanya kabar dicabutnya pembekuan pengurus organisasi PSSI yang datang dari broadcast dedengkot PSSI, La Nyalla Matalitti, sudah telanjur disambut riang gembira sejumlah pelaku sepak bola di Tanah Air.

Dilansir dari laman jpnn.com, pemilik klub, manajer, pelatih dan pemain ramai-ramai memasang status di akun media sosialnya dengan harapan-harapan senada: alhamdulillah pembekuan PSSI dicabut, atau pembekuan PSSI dicabut selamat datang masa depan bola yang lebih baik, atau..hore dapur berasap lagi (ini pasti status medsos pemain).

Namun yang terjadi sebenarnya, pembekuan PSSI itu belum dicabut! Itu baru bakal, baru akan…

Ya, persepakbolaan Indonesia akan kembali normal. Tim nasional (timnas) bisa berlaga di ajang internasional. Demikian pula liga yang akan berputar dalam berbagai jenjang.

Pencabutan pembekuan tersebut merupakan instruksi Presiden Joko Widodo setelah melakukan pertemuan dengan Wapres Jusuf Kalla, Menpora Imam Nahrawi, dan Ketua Komite Ad Hoc Reformasi PSSI Agum Gumelar, Rabu (24/2/2016). Menpora diberi waktu dua hari untuk menentukan langkah-langkah teknis demi normalisasi sepak bola tanah air.

PSSI dibekukan pemerintah pada 17 April 2015 setelah tidak menghiraukan tiga surat peringatan yang dikeluarkan Kemenpora. Tiga surat peringatan itu diberikan lantaran PSSI tidak mematuhi rekomendasi Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) soal status kompetisi serta status Persebaya dan Arema.

“Kami akan mengkaji segala aspek sebelum melakukan pencabutan pembekuan,’’ kata Menpora Imam Nahrawi di kompleks istana kepresidenan kemarin. ’’Pemerintah harus ada dalam bagian yang tidak terpisahkan, baik struktural maupun koordinasi dengan PSSI,’’ imbuhnya.

Kehadiran pemerintah dalam pengelolaan sepak bola tanah air itu merupakan satu di antara tiga syarat yang ditetapkan pemerintah kepada PSSI agar pembekuan dicabut. Syarat kedua adalah tranparansi dan akuntabilitas keuangan kepada pemerintah serta masyarakat. Yang ketiga adalah menggelar kongres luar biasa (KLB) untuk menyusun kepengurusan baru paling lambat enam bulan setelah surat pencabutan pembekuan PSSI diterbitkan Menpora.

Pencabutan pembekuan PSSI selambatnya dilakukan Jumat besok. Dengan demikian, PSSI di bawah kepemimpinan La Nyalla Mattalitti bisa menjalankan organisasi, termasuk mempersiapkan timnas dan memutar liga. “Itu semua sudah otomatis (La Nyalla akan memimpin PSSI),’’ kata Gatot S. Dewa Broto, juru bicara Kemenpora.

PT Liga Indonesia selaku pengelola liga juga bisa memutar kompetisi. Kebetulan, mereka sudah berancang-ancang menyelenggarakan Indonesia Super Competition pada April mendatang. Namun, karena pembekuan PSSI sudah dicabut, mereka tetap bisa menggelar Indonesia Super League (ISL) seperti sebelumnya.

Menurut Gatot, saat ini kemungkinan pencabutan sanksi lebih besar daripada mempertahankan pembekuan. “Persentasenya 51 persen dicabut sanksi pembekuannya. 49 persen tidak,” kata Gatot, Kamis (25/2/2016) melalui pesan singkat. (jawa pos/dkk/adk/jpnn)