Kadin PB Ajak Petani Kopi di Banten Penuhi Pasar Ekspor

Rd Deden Syaiful Achyar (kiri) saat uji coba kualitas kopi dari petani Banten bersama barista.



TANGERANG – Kadin Paradigma Baru (PB) Provinsi Banten mengajak para petani kopi dan pengusaha kopi di Banten untuk masuk dan memenuhi pasar ekspor. Kopi dari Banten memiliki potensi untuk bersaing di pasar internasional asalkan memenuhi standarnya.

“Permintaan tinggi dari Belgia, Rusia, Bahrain, Turki, Teheran (Iran), dan Belanda, baik untuk jenis arabika maupun robusta. Pangsa asar potensial tersebut selama ini diisi oleh India dan Vietnam. Padahal kualitas kopi Indonesia jauh lebih baik dibanding negara tersebut,” ungkap Wakil Ketua Kadin PB Provinsi Banten Rd Deden Syaiful Achyar usai pertemuan dengan petani kopi, eksportir, dan barista di Hotel Sheraton Bandara, Tangerang, Rabu (5/2).

Karena itu, kata Deden, melalui Kadin Khusus Percepatan Ekspor bekerja sama dengan barista perpengalaman, kopi arabika dan robusta dari UMKM di Lebak, Pandeglang, dan Serang akan ditingkatkan kualitasnya melalui metode dan formula cara petik, cara simpan, cara kemas, pengolahan, hingga cara penyajian, sebagaimana permintaan negara peminat kopi.

“Ekspor kopi sudah berjalan. Setiap bulan satu kontainer kopi olahan yang sudah memenuhi standar barista international. Ekspor ke Belgia, Bahrain, Belanda, Turki, dan Iran,” ungkap Deden.

Kemendag yang memiliki target untuk meningkatkan kontribusi ekspor produk UMKM menjadi 15 persen pada tahun ini, lanjut Deden, didukung oleh Kadin PB melalui percepatan ekspor.

Menurut Deden, Provinsi Banten memiliki potensi besar andil dalam peningkatan ekspor UMKM. Jejaring Kadin PB  Banten mendukung adanya Kadin Khusus Percepatan Ekspor yang diinisiasi oleh dirinya bekerja sama dengan Kadin PB melalui Kebijakan Ketua Umum Kadin PB Eddy Ganefo dan Wakil Ketua Umum Hasbi.

Deden menjelaskan, Kadin Khusus Percepatan Ekspor bergerak menata big data UMKM di Banten, Jawa Barat. DKI Jakarta,  Sumatera Utara, Makassar, dan Jawa Timur. Khusus Banten, produk UMKM unggulan yang sudah ekspor, seperti produk apparel dan intimate, produk fashion, aksesoris, handicfarft, dan sepatu yang hasilkan UMKM Pandeglang, Lebak, Tangerang, Serang dan Tangsel.

“Terlebih produk agro yang dihasilkan UMKM Lebak, Pandeglang dan Kota Serang seperti kopi, gula semut, dan cangkaleng,” ungkapnya.

Untuk serapan produk UMKM nonekspor, kata Deden, sebenarnya mudah. Tergantung niat dan kepedulian para pemangku kekuasaan, sepert gubernur, bupati, walikota dan ketua DPRD.

“Tinggal keluarkan peraturan di wilayah masing untuk mengonsumsi produk UMKM di setiap jamuan rapat dinas dan sajian tamu pemerintahan,” ungkapnya. (aas)