Indra Gunawan.

Kopi bukan hanya sekadar minuman harian. Seduhan biji hitam itu, kini menjadi gaya hidup masyarakat di banyak perkotaan. Tak terkecuali di Kota Serang.

Banyak orang yang meluangkan waktu paginya dengan secangkir kopi. Apalagi, saat kongkow santai dengan para kerabat. Bahkan, di sela-sela waktu istirahat kerja, tidak sedikit yang meluangkan waktu untuk ngopi.
Tak heran, peluang bisnis kopi di Kota Serang semakin menggeliat. Kedai atau kafe kopi semakin menjamur di ibukota Banten itu. Sekarang di setiap sudut kota, sangat mudah dijumpai kafe kopi.

Membaca peluang bisnis kopi yang semakin diminati masyarakat, Indra Gunawan memulai bisnis kopi. Hanya saja, warga Ciracas, Kota Serang ini tidak membuka seperti kebanyakan orang. Di mobil minivan, ia menjajakan seduhan kopinya.

Mobil yang dibelinya seharga Rp6,5 juta bersama tiga rekannya, Indra merombaknya menjadi kafe kopi. Kafe kopi mobilnya, diberi nama Kopi Jenggo. “Ide awal ngobrol dengan teman. Sepertinya menarik jual kopi pakai mobil, seperti di luar negeri atau kota-kota besar lain,” katanya saat ditemui Radar Banten di tempat mangkalnya, di pojok kawasan Pusat Pemerintahan Kota (Puspemkot) Serang, kemarin.

Bisnis barunya itu sudah berjalan enam bulan. Awalnya, pria berusia 45 tahun ini memilih mangkal di depan Islamic Center Kota Serang. Belakangan, ia memilih lokasi di kawasan Puspemkot Serang. Tepat di bawah pohon, tak jauh dari Masjid Al Bantani Puspemkot Serang. “Kalau siang di sini. Kalau malam minggu baru kemana yang ramai. Atau kalau ada acara saya datang,” kata Indra.

Untuk memulai bisnis kopi, Indra harus berkeliling lebih dahulu. Kota Bandung, Jogjakarta jadi tempatnya menggali ide bisnis kopinya. Termasuk, menggali ide dari sumber-sumber yang tersaji melimpah di situs internet.

Bapak anak satu ini mengaku, memulai bisnisnya kopinya setelah memilih berhenti dari tempat kerja sebagai distributor di salah satu perusahaan swasta. Kata dia, bisnis kopi dipilihnya untuk mengisi waktunya sambil baca buku. “Ingin santai saja sambil baca-baca buku inovasi,” ujar pria kelahiran Palembang 45 silam ini.

Mobil kedai kopi Indra memang masih cukup sederhana. Bodinya masih bawaan aslinya berwarna merah kecokelatan. Hanya saja, ia merombak bagian dalamnya untuk meletakan koleksi kopi dan alat-alat penyeduh kopi.

Namun, jangan ditanya soal koleksi kopinya. Gayo Aceh, Sindikalang Medan, Kintamani Bali, Papua Wamena, Lanang Sulawesi, Bajawa Flores. Lalu Gunung Halu Bandung, Malabar, Robusta Lampung menjadi beberapa pilihan kopi yang bisa dinikmati. “Teh tubruk dan cokelat juga saya sediakan,” ujar Indra sembari menyeduh kopi pesanan pengunjung.

Untuk urusan harga, anda tak perlu khawatir bakal merogoh kocek dalam-dalam. Secangkir kopi, dijualnya dengan harga Rp15 ribu saja. “Harganya standar saja, tapi soal rasa bolehlah dicoba,” katanya tersenyum.

Di bawah pohon yang rindang, sedang ada beberapa pelanggan Indra yang kebanyakan aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkot Serang. Pengakuan Indra, dari pagi hingga sore hari, bisa menjual kopi antara 10 hingga 20 cangkir. “Papua Wanena yang banyak dipesan,” ujarnya.

Pegawai Pemkot Serang Ajat Sudrat yang saat itu sedang menikmati kopi racikan Indra, mengaku sering meluangkan waktunya untuk ngopi. Sembari istirahat dan berteduh di bawah pohon, ia memesan secangkir robusta Lampung. “Santai saja sambi istirahat,” ujarnya

Ajat mengaku biasa minum kopi sebelum berangkat kerja. Sehari-hari, ia lebih menyukai Kopi Cap Kupu-Kupu. “Kebetulan di sini lagi kosong, jadi ngopi lainnya. Yang penting diseduh enak tanpa gula,” candanya. (Supriyono/Aas)