Kak Seto: Kekerasan Psikis Sudah Menjalar ke Kurikulum Pendidikan

SERANG – Untuk mengedukasi tentang bagaimana cara mendidik dan mengasuh anak dengan benar, Jawa Pos yang bekerja sama dengan Radar Banten menggelar kegiatan Parents Gathering (Parenting) Indonesia Scout Challenge (ISC) tingkat Kabupaten Serang. Kegiatan tersebut digelar di gedung Graha Pena Radar Banten, Rabu (24/8).

Menghadirkan Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi atau Kak Seto selaku pembicara. Turut serta Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah, Wakil Ketua DPRD Banten Adde Rosi Khoerunnisa, Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), dan General Manager Radar Banten Mashudi. Acara tersebut juga diikuti oleh seluruh BKOW di Provinsi Banten dan Himpaudi Provinsi Banten, yang sangat antusias sekali dengan acara tersebut.

Saat menyampaikan sambutan di depan para peserta, Kak Seto mengatakan, kekerasan pada anak dibagi menjadi dua macam yaitu kekerasan fisik dan kekerasan psikis. Saat ini kekerasan psikis terhadap anak sudah menjalar pada kurikulum pendidikan, di mana kurikulum pendidikan saat ini cenderung kurikulum yang padat.

“Kurikulum pendidikan yang saat ini terjadi, hak anak yang mutlak karena dengan media pembelajaran yang tepat akan menciptakan karakter yang sopan jujur dan tidak mudah putus asa. Maka fungsikan keluarga dan sekolah sebagai pranata sosial terhadap anak,” kata Kak Seto.

Kak Seto memperingatkan kepada para orang tua agar memberikan arahan secara demokratis terhadap pola asuh anak. Arahan demokratis dimaksudkan agar anak dapat memilih dan mengungkapkan alasannya akan kebutuhannya. Di mana anak dapat menjalankan semua dengan semangat tidak dengan tekanan.

“Dengan pola asuh yang baik, anak dapat memperoleh kemerdekaannya. Di mana anak dapat mengungkapkan segala bentuk kebutuhannya bukan hanya keinginannya saja. Yang termasuk kebutuhan anak di antaranya kebutuhan untuk didengar, kebutuhan perlu dihargai, dan kebutuhan contoh keteladanan. Dan untuk memperoleh bimbingan yang benar,” jelasnya.

Selain itu pihaknya akan bekerja keras mendukung dan memberantas kekerasan terhadap anak, dengan melakukan cara-cara edukasi kepada para orang tua melalui pelatihan-pelatihan. Agar dapat menjadikan orang tua yang efektif, komunikatif dan bersahabat bagi para putra-putrinya.

Ia menambahkan, dengan adanya peran Pramuka sebagai wadah para anak-anak Indonesia menyalurkan kegiatan non formal, diharapkan anak-anak Indonesia agar dapat mulai kembali memupuk nilai-nilai nasionalisme, persahabatan dan kreatifitas anak.

Acara ini juga dihibur dengan berbagai lagu anak-anak yang semakin menghibur para peserta.

“Masa sekarang anak TK mulai bernyanyi dengan nyanyian orang dewasa? Maka dari itu, kita mulai sekarang harus siap untuk menciptakan lagu anak-anak,” ujarnya. (Wirda)