Kakak Beradik Positif Covid-19 di Tangerang, Inilah Faktanya

Sejak Sabtu (25/4) hingga kemarin masih beredar video evakuasi dua bersaudara kakak-beradik positif Covid-19. Video itu beredar di media percakapan WhatsApp dan menyebutkan  kejadiannya di Tangerang. Berikut narasinya:

Di’Tangerang, dua bersaudara kakak beradik terjangkit Covid-19, setelah pulang dari bermain diluar rumah.

Saat ini sdg dijemput oleh Team Medis utk dibawa ke’Rumah Sakit.

Pengalaman berharga bagi para orang tua yg msh mempunyai anak atau cucu, yg suka bermain diluar rumah.

Apbl sdh plg rmh, lgsg cuci tangan, cuci kaki & dianjurkan skln utk mandi.

Klr rmh hrs memakai masker !!!

Benarkah bahwa kejadian itu ada di Tangerang. Berikut penelusuran Cek Fakta Radar Banten.

PENJELASAN

Cek Fakta Radar Banten mengecek kebenaran itu dengan searching di mesin pencarian.  Ternyata, ada dua versi cerita yang menyertai beredarnya video tersebut. Cerita pertama menyebutkan kakak-adik yang tinggal di Tangerang tersebut tertular Covid-19 setelah bermain di luar. Sedangkan cerita kedua menyebutkan kakak-adik tersebut tinggal di  Cileungsi, Kabupaten Bogor. Keduanya diduga tertular Covid-19 karena ayahnya yang masih bekerja di Jakarta.

Dinas Kesehatan Tangerang saat dikonfirmasi membantah. “Itu bukan di sini, coba baca lagi, itu (kejadian di) Cileungsi,” kata Dinkes Tangerang seperti dikutip portal berita detik.com, Sabtu (25/4).

Sementara Bupati Bogor Ade Yasin saat dikonfirmasi  membenarkan dan mengatakan dua anak yang dievakuasi itu merupakan kakak-adik. Evakuasi itu dilakukan pada Rabu (22/4) di daerah Cileungsi, Kabupaten Bogor. “Usianya kalau nggak salah 4 dan 8 tahun, itu sudah hari Rabu, ya kejadiannya hari Rabu kan saya nggak boleh kasih alamatnya juga, itu sudah ada kode etik dari dinkesnya,” ujar Ade, Sabtu (25/4).

Ade mengungkapkan kronologi kejadian. Kata dia, ayah dari anak tersebut menjalani rapid test di tempat kerjanya, yakni Rumah Sakit (RS) Darurat Wisma Atlet, pada 11-12 April 2020. Hasil pemeriksaan tes cepat, sang ayah negatif terpapar corona.

Dia melanjutkan ayah dari keluarga tersebut pulang ke rumah pada Selasa (14/4). Sang ayah membersihkan diri. Sehabis Isya, sambung Ade, sang ayah berkomunikasi dengan istri dan anak-anaknya. Namun 3 jam kemudian, anak-anaknya mulai demam dan mengeluhkan sakit.

“Akhirnya diberikan parasetamol dan disuruh istirahat. Ternyata demamnya berkelanjutan, si abang (demamnya) 39,7°C, (suhu tubuh anak ketiga) 40,1°C dedeknya, dan yang tengah (anak kedua) 38°C, sampai badannya gemetaran,” kata Ade Yasin, dalam keterangannya, Minggu (26/4).

Ade menambahkan tiga anak tersebut dibawa ke RS untuk dilakukan pemeriksaan pada Rabu (15/4). Hasil dari rontgen menunjukkan ada peradangan di paru-paru. Ketika dilakukan tes darah, limfosit anak menurun dan menunjukkan terpapar COVID-19. Anak ayah tersebut diduga pasien dalam pengawasan (PDP).

Dia mengatakan pihak RS menawarkan agar sang anak diisolasi di RS rujukan sambil menunggu hasil pemeriksaan selanjutnya, apakah positif terinfeksi virus corona atau tidak. Namun pihak orang tua memilih melakukan isolasi mandiri di rumah karena melihat kondisi psikis dan mental anaknya. (dtc/alt)