Kalah Sama Istri Memang Ngeri

SUARA azan menggema di salah satu kampung di Kota Serang. Orang-orang saling pandang. Merdunya suara lelaki muda itu membuat hati berdenyut. Bagai mendengar irama paling indah, seketika semua merasa tenang dan damai.

“Itu suara si Agil, keponakan saya,” kata Koer (41) bukan nama sebenarnya, menyombongkan diri.

Agil (37) nama samaran, memang menjadi pemuda panutan orang kampung sekitar. Selain pandai azan, ia juga memiliki wajah tampan berbadan tegap layaknya artis-artis sinetron luar negeri. Sorot mata nan tajam bak mata elang, membuat Agil dipuja gadis-gadis desa.

Bahkan tak jarang, beberapa ibu-ibu pengajian sering membincangkan. Bagai menawarkan barang dagangan, mereka saling berlomba mengenalkan putrinya kepada Agil. Meski selalu ditanggapi dengan senyum penolakan, mereka tak mau menyerah. Sampai akhirnya, ibu-ibu pengajian mengalami patah hati tingkat kecamatan karena Agil akan menggelar pernikahan. Oalah.

Meski sebenarnya kedua orangtua sudah memilihkan calon istri, namun Agil tak mau menuruti. Menjadi pemuda yang dipandang baik dan agamais, nyatanya tak membuat Agil setuju begitu saja dengan keputusan ayahnya. Ditawarkan menikah dengan gadis lulusan pesantren, ia malah memilih wanita modis mantannya saat SMA. Waduh.

“Saya enggak nyangka dia bisa membantah kemauan bapaknya. Padahal sudah saya nasihatin juga, tapi ya namanya juga anak muda. Kalau sudah kenal cinta, enggak mandang orangtua atau saudara,” curhat Koer kepada Radar Banten.

Berpakaian modis dengan rambut tergerai indah, sang wanita, sebut saja namanya Mona (32) membuat Agil tak lagi dipandang hormat oleh beberapa warga. Maklumlah, namanya juga tinggal di kampung dengan nuansa keagamaan yang kental, ketika ada hal yang tak sesuai kebiasaan masyarakat setempat, pasti jadi perbincangan hangat.

“Orang-orang menyangka Agil bakal nikah sama wanita berkerudung, salehah, dan lulusan pesantren. Eh ternyata sama cewek begitu,” tukas Koer. Cewek begitu maksudnya gimana, Kang?

“Ya enggak berkerudung, pakaian semaunya. Cantik sih cantik, tapi kan enggak menarik kalau enggak sesuai sama kita-kita mah,” kata Koer.

Seperti diceritakan Koer, Mona sebenarnya wanita baik. Murah senyum ketika bertemu, dan sangat santun pada mertua maupun saudara. Terlahir dari keluarga sederhana namun tinggal di lingkungan orang-orang borjuis, beberapa perilakunya ikut terbawa.

Suka bangun kesiangan, belanja pakaian, dan pergi ke salon setiap minggu, tentu membuat orang-orang seperti Koer berpikir dua kali. Anak terakhir dari lima bersaudara itu tak peduli pada lingkungan di rumah Agil. Menerapkan konsep loe-loe, gue-gue, Mona hidup semaunya.

Singkat cerita, menikahlah keduanya. Menggelar pesta perikahan sederhana tapi meriah, Agil dan Mona tampak berbahagia. Senyum merekah yang dilayangkan ke setiap tamu undangan, menjadi bukti Agil tidak salah memilih pasangan. Hebatnya, meski dalam hati tidak merestui, kedua orangtua Agil tabah dan tetap menunjukkan wajah ceria.

Di awal pernikahan, Agil bersikap sangat baik. Tak pernah marah dan semakin rajin beribadah, ia sosok imam pujaan wanita. Tapi, bagai langit dan bumi, sikap baik Agil tak sejalan dengan tingkah sang istri. Mona masih asyik dengan dunianya, tak peduli pada orang sekitar yang sering mengingatkan.

Setahun kemudian, mereka dikaruniai anak pertama, membuat hubungan semakin mesra. Meski sejak awal sang mertua tak bersikap baik pada Mona, namun ketika melihat sang cucu, hatinya luluh juga. Maklumlah ya, namanya juga sudah tua, pasti bahagia kalau diberi cucu nan lucu.

Hingga suatu hari, musibah itu datang tak terduga. Ayah Agil meninggal lantaran salah memakan makanan yang dipantangnya bertahun-tahun. Lantaran penyakit sudah kronis, meski sudah dirawat dan ditangani dokter spesialis, nyawanya tak tertolong juga.

Agil stres luar biasa. antara menyesal dan kecewa, ia sering melamun meratapi kepergian sang ayah. Seluruh keluarga berduka-cita. Butuh waktu lama bagi Agil untuk bisa kembali seperti biasa. Sampai setahun kemudian, perekonomian keluarga mulai sulit.

Agil yang awalnya masih bisa bersantai sambil megajar mengaji anak-anak, kini tak mampu lagi mengontrol keuangan. Terlebih kebiasaan sang istri yang kerap belanja menghabiskan uang, membuat beban semakin berat. Sayangnya, bagai prajurit yang patuh pada rajanya, ia tak berani membantah kemauan sang istri. Oalah.

“Saya juga baru tahu sejak kejadian di pasar waktu itu. Uh, pokoknya mah bikin kesal sekaligus kasihan sama Si Agil,” ungkap Koer. Memangnya kenapa, Kang?

Ketika ditanya, Koer menghembuskan napas panjang. Ditatapnya langit sambil menengadahkan kepala. Sampai sepersekian detik kemudian, ia mulai bercerita.

Di suatu malam ketika mengantar Mona berbelanja pakaian, Agil tampak lelah dan tak bersemangat. Raut wajahnya menyimpan tekanan yang sulit disembunyikan. Hingga sampai di depan pintu sebuah pusat perbelanjaan, Koer tak sengaja melihatnya dan langsung menyapa.

Sambil memegang peci yang masih bersegel beserta perlengkapan ibadah lainnya, Agil menjabat lengan Koer dan bertegur sapa. Tak lama kemudian keluarlah Mona dengan belanjaan di kedua tangannya. Bukannya menyapa Koer, ia malah mengamuk memarahi Agil yang tidak membawakan barang belanjaan.

Tak hanya itu, ketika sudah dibawakan, Mona merebut barang di tangan Agil dan kembali memarahinya di depan Koer.

“Ngapain sih beli beginian? Di rumah juga kan banyak,” amuknya.

Mungkin karena tak tahan dengan tingkah istrinya, Agil berontak, keributan pun terjadi di depan umum. Hingga akhirnya Koer menenangkan, Agil tampak masih bisa menahan kesabaran, tidak dengan Mona. Mereka pulang dengan raut wajah bak binatang jalang. Dua bulan kemudian, terdengarlah berita perceraian. (daru-zetizen/zee/ags/RBG)