Berbagai cara ditempuh Pemkab Banyuwangi untuk mengembangkan sektor pariwisata. Salah satu cara yang ditempuh adalah mengoptimalkan aset miliknya. Contohnya mengembangkan hotel berkonsep tradisional yang unik dan hijau.

Hotel unik itu dinamakan Hotel Blambangan. Untuk diketahui, sebelum direnovasi, aset ini dulu bernama Wisma Blambangan. Pengelolaannya kurang profesional, sehingga tidak pernah memberi keuntungan signifikan bagi daerah. Bahkan, tempat itu dicitrakan sebagai tempat berbuat mesum.

Setelah direnovasi, namanya diubah jadi Hotel Blambangan. Pengelolaannya profesional dengan melibatkan pihak-pihak yang mengetahui dan berpengalaman di bidang manajemen hotel.

“Ada sekitar 25 lulusan jurusan perhotelan SMK Negeri Banyuwangi yang ikut mengelola. Jadi ini sekaligus sebagai transformasi ilmu dan pengalaman anak-anak muda Banyuwangi,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Dia mengatakan, Hotel Blambangan menjadi contoh bagaimana Pemkab mengelola asetnya secara profesional sehingga menjadi produktif dan menguntungkan bagi daerah. Produktif, kata Anas, bisa mendukung pengembangan daerah di sektor pariwisata. Menguntungkan karena aset yang dulu menjadi beban dan pengelolaannya merugi, kini memberi keuntungan ke daerah.

“Menurut BPK, apa yang kita lakukan bersama-sama di Banyuwangi ini bisa dijadikan model bagi kabupaten/kota lainnya tentang bagaimana hotel atau aset pemda dikelola dengan jelas,” lanjut Anas.

Hotel Blambangan didesain oleh arsitek kenamaan Andra Matin, terletak tepat di jantung kota Banyuwangi. Terdapat 24 kamar dengan 2 lantai di hotel yang berkonsep klasik dengan arsitektur gaya Belanda yang didesain minimalis dan artistik ini.

Ke-24 kamar tersebut terbagi atas 8 deluxe room dan 16 superior room. Di hampir setiap sudut terdapat tanaman hijau. Dari atas, ada tanaman yang menjuntai ke bawah. Sehingga, hotel

Juga ada fasilitas berupa 2 meeting rooms, 1 swimming pool restoran, dan hotspot area. Bangunan yang pernah dijadikan tempat menginap presiden pertama RI, Soekarno, juga dipertahankan.

Kesan Banyuwangi juga ditampilkan dengan lukisan besar penari gandrung yang menghiasi hotel, musik lokal di lobi dan restoran, serta makanan lokal. “Kami berharap hotel ini bisa menunjang pengembangan pariwisata Banyuwangi,” pungkas Anas. (mas)