Kalimat Ajaib Penyelamat Pernikahan

Love Story

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

Drajat (42), nama samaran, wara-wiri di kantor Pengadilan Agama. Ekspresi wajahnya cerah, seperti karyawan yang baru saja menerima bonus Tunjangan Hari Raya (THR). Saat itu, Drajat tengah memproses pencabutan gugatan cerai yang dilayangkan Isti (37), nama samaran istrinya. Pasangan ini berhasil lolos dari jebakan perpecahan rumah tangga. Alhamdulillah.

Di sudut ruang tunggu Pengadilan Agama, Isti duduk dengan santai. Sesekali dia mengibaskan selembar map ke arah wajahnya. Ia tengah menggunakan gaun hijab bermotif bunga-bunga. Sepertinya ia kurang nyaman dengan suhu udara di ruang tunggu itu.

Tapi tidak dengan suasana hatinya, Isti sedang merasa bahagia. Apalagi melihat suami yang begitu bersemangat mencabut gugatan cerai yang sempat ia layangkan pertengahan 2015 lalu. “Lihat tuh, suami tersenyum terus. Senang melihat dia bersemangat seperti itu,” ujarnya.

Isti mengakui jika dirinya yang menginginkan perceraian. Namun keinginan itu telah terkikis bahkan runtuh, berkat upaya yang telah dilakukan Drajat. “Mas Drajat menyelesaikan persoalan kami dengan hebat. Dibuktikan cintanya kepada saya, itulah yang membuat keyakinan menceraikannya berakhir,” ujar ibu tiga anak ini.

Memang apa yang dia perbuat Bu? Isti mengatakan jika Drajat mau mengubah diri. Namun hal paling inti yang telah menyelamatkan rumah tangga mereka, yakni kalimat ajaib yang selalu Drajat katakan setiap hari. Wih, kalimat ajaib apa tuh, pelet maksudnya? “Pelet mah ke dukun dong. Ini kalimat ajaib, bedakan itu,” jawab Isti dengan nada meninggi.

Waduh, Bu Isti ini ternyata tipikal wanita sensitif. Oke deh, lalu kalimat ajaib apa yang sering dikatakan Drajat. Kata Isti, suaminya selalu menanyakan hal yang sama setiap hari kepadanya. “Mas Drajat sering bertanya, apa yang harus saya lakukan agar kamu bisa tersenyum. Dia tanya itu setiap hari kepada saya, itulah yang membuat saya luluh dan kembali cinta kepadanya,” aku Isti.

Hmmmmmm, kayanya biasa saja tuh kalimatnya. Sepertinya tidak ada yang istimewa dari kalimat itu. Namun menurut Isti, kalimat itu betul-betul ajaib. Karena berawal dari kalimat itulah Drajat jadi berubah. “Selain mengubah Mas Drajat, lambat laun juga mengubah sikap saya,” jelas Isti.

Pengakuan Isti, persoalan rumah tangga pasangan ini muncul sejak 2007. Ada sejumlah persoalan, di antaranya tentang keyakinan cara mendidik anak. Drajat yang ditempa dengan keras oleh orangtua, ingin menerapkan pola sama kepada anaknya. Namun Isti tidak ingin ada kekerasan dalam mendidik anak. “Masa anak-anak mau dipukul pakai sabuk kalau nakal. Saya kan tidak mau, itu kekerasan namanya,” ujarnya.

Selain itu, Isti tidak menyukai pergaulan Drajat bersama teman-teman kantor. Menurut Isti, sang suami kerap bermain biliard atau karaoke sepulang kerja. “Jadi kalau sudah main, pulangnya larut malam. Saya kan takut ditinggal sendirian, kalau ada rampok gimana?” katanya.

Hal lain yang tidak disukai Isti, yakni kebiasaan Drajat yang terlalu ketat dengan kebersihan. Sementara Isti lebih suka fleksibel, persoalan ini pun sering kali menimbulkan perdebatan. “Sewaktu kami ikut sesi mediasi, Pak Hakim bilang persoalan kami terletak pada prinsip. Hal ini perlu diselaraskan dulu, jika tidak maka rumah tangga kami tidak akan bisa terselamatkan,” jelasnya.

Sejak 2007 hingga 2014, pertengkaran demi pertengkaran terus terjadi. Tampaknya dalam kehidupan berumah tangga, semakin lama menikah akan semakin terlihat perbedaan-perbedaan di antara pasangan. “Iya Mas, yang kami rasakan semakin lama usia rumah tangga, kok semakin seperti sendiri-sendiri. Dia punya prinsip sendiri, saya juga begitu. Lalu kami saling memaksakan kehendak, agar mau mengikuti prinsip kami masing-masing. Padahal itu kan tidak mungkin, makanya kami saling bertengkar,” tuturnya.

Sampai akhirnya pada pertengahan 2015, Isti jengah dan melayangkan gugatan cerai. Sejak saat itu, Isti dan Drajat sering memenuhi panggilan pihak Pengadilan Agama. “Selama memenuhi panggilan, kami lebih banyak dinasihati Pak Hakim,” aku Isti.

Namun di luar proses perceraian, diam-diam Drajat mendatangi sebuah lembaga konsultasi pernikahan. Di sanalah dia belajar kalimat ajaib itu. “Kata suami sih, ada istri teman yang jadi konsultan di lembaga itu. Makanya dia curhat, terus dapat ilmu itu,” katanya.

Drajat membenarkan hal tersebut. Dari sang konsultan, ia diberitahu jika hal pertama yang harus dilakukan untuk menyelamatkan rumah tangga, adalah membuat dirinya lebih baik di mata lawan pasangan. “Lalu saya bertanya, bagaimana saya tahu tentang hal-hal yang membuat saya lebih baik. Kata istri teman saya itu, tanya saja ke istri. Makanya saya tanya hal itu tiap hari. Apa saja yang harus saya lakukan agar kamu tersenyum,” katanya.

Awalnya, kata Drajat, Isti selalu menjawab dengan sinis. Namun Drajat menuruti semua jawaban sinis Isti, di situlah letak keajaibannya. “Saya ingat sekali jawaban Isti pertama kali, dia minta saya menyuapi si bungsu. Lalu saya suapi, memandikan, memakaikan baju, bahkan antar yang lain pergi ke sekolah,” ujarnya.

Sejak saat itu, Drajat selalu mengerjakan apa yang menjadi jawaban Isti. Tanpa disadari, sikap Drajat yang awalnya keras terhadap anak lambat laun menjadi berubah. “Ini semua terdorong dari pertanyaan saya sendiri yang saya dilontarkan setiap hari,” akunya.

Drajat pun tidak lagi terlalu ketat dengan aturan, juga tidak lagi sering pulang larut malam. Inilah yang membuat luluh Isti dan mau mencabut gugatan cerainya.

Lalu, apa pengaruh kalimat ajaib itu sendiri kepada Drajat sendiri? Rupanya, Drajat tidak sadar ketika dirinya telah berubah menjadi pria lebih baik. “Awalnya kan, niat saya hanya berkomitmen untuk mengerjakan apa pun yang menjadi jawaban istri. Setelah saya berhasil membuat Isti tersenyum, saya sadar akan sesuatu. Pertanyaan itu ternyata membuat saya mau berubah tanpa ego dalam diri. Saya jadi tidak merasa terpaksa, terjadi begitu saja,” katanya.

Ooo, berarti main karakter nih konsultan. Tahu prinsip hidup Drajat adalah disiplin tinggi, dia minta Drajat berkomitmen untuk mengerjakan semua jawaban Isti. Untung Bu Isti orang baik Mas, coba kalau di suruh nyemplung ke got, kan malu. Namun begitu, selamat yaa atas utuhnya kembali rumah tangga Mas Drajat dan Bu Isti. Semoga langgeng dan tidak bertengkar lagi. Amin. (Sigit/Radar Banten)