Kampung Batik Larangan Tampil di Festival Budaya Musim Semi Belanda

GAUNG Kampung Batik Kembang Mayang, Kelurahan Larangan Selatan, Kecamatan Larangan makin menggema. Tidak lama lagi, mereka siap go internasional dengan memamerkan batik buatan warga wilayah paling timur Kota Tangerang ini.

Kampung Batik Kembang Mayang kini menjadi salah satu destinasi wisata di Kota Tangerang. Pasca dibentuk pada tahun 2017 lalu kampung tematik ini ramai dikunjungi warga baik berasal dari Kota Tangerang maupun di luar Tangerang. Begitu memasuki sebuah gang dengan lebar sekira 4 meter tepatnya di Jalan Mayang, Kampung Kembang Mayang RT 02, RW 11, Kecamatan Larangan Selatan pengunjung langsung disuguhkan dengan tembok bermotif batik. Motif batik yang langsung dibuat oleh warga sekitar berwarna cerah sehingga menjadi magnet tersendiri untuk pengunjung berswafoto.

Sekretaris Kecamatan Larangan Samsul Karmala mengungkapkan, Kampung Batik digandeng salah satu universitas swasta yang di Jakarta Selatan untuk mengadakan pameran di negeri kincir angin. ”Kami difasilitasi oleh Universitas Budi Luhur untuk mengikuti pameran budaya di Belanda saat musim semi tahun ini,” katanya kepada Radar Banten, Rabu (13/3).

Karenanya, ia sedang intens menjalin komunikasi dengan berbagai pihak untuk mengembangkan Kampung Batik Kembang Mayang. Kata dia, kampung tersebut merupakan cerminan batik nusantara. ”Dari Sumatera dari Jawa juga ada. Dan perlu diketahui bahwa sekretariat membatik se-Indonesia juga ada di Larangan, yakni tepatnya di RW 11,” tuturnya.

Dengan keberadaan Kampung Batik, Samsul berharap masyarakat tidak cuma sekadar belajar membatik semata. Namun mampu mengundang pihak luar untuk belajar membatik dan sekaligus menghidupkan ekonomi masyarakat. ”Harapannya nantinya bukan saja Larangan Selatan mempunyai kreatifitas, tapi juga kelurahan lain juga harus dikembangkan,” harapnya.

Lebih lanjut, Samsul menyebutkan, sejauh ini respons positif sudah ditunjukkan oleh sejumlah sekolah di Kota Tangerang terhadap Kampung Batik ditandai dengan kedatangan mereka untuk menitipkan anak didiknya. Terkait perbedaan Batik Larangan dengan wilayah lain ada pada desain yang dipergunakan. ”Sebenarnya ada wilayah lain yang memulai membatik di Kota Tangerang namun masih dilatih oleh tutor dari luar Pulau Jawa. kalau di Larangan tutornya memang tersertifikasi, jadi mereka bukan cuma mencanting, tapi mempola juga,” ujarnya.

Selain itu, Larangan tidak hanya menerima pesanan batik, melainkan sekaligus memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang budaya membatik. ”Jadi bukan cuma memproduksi, tapi sekaligus mengenalkan bahkan kepada anak-anak sedini mungkin, kita juga membuka kelas untuk membatik,” tuturnya. Bahkan ia menambahkan, Kampung Batik siap bersinergi dengan Dinas Pendidikan untuk mengenalkan batik menjadi ekstrakurikuler di sekolah Kota Tangerang.

Sementara itu, Ketua RT 02 Budi Darmawan mengatakan, tembok dengan cat motif batik memang menjadi andalan Kampung Batik Kembang Mayang, namun hal tersebut tidak cukup untuk menjadikan Kampung Batik Kembang Mayang dikenal khalayak ramai.

Budi mengaku mengajak warganya untuk menekuni pembuatan batik, ia mengajak ibu-ibu untuk mengecat tembok rumahnya dengan motif batik. Bak gayung bersambut, ibu-ibu di sekitar tempat tinggalnya merespons positif usulannya. Bahkan warga sekitar sangat antusias mengikuti proses pembuatan batik. Pengetahuan tentang membatik oleh beberapa ibu-ibu itu langsung dituangkan ke Jalan Mayang. (Hairul Alwan)