Kampus STIKES IMC Serahkan Ijazah Disaksikan Asda I

TANGERANG – Perseteruan antara Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Ichsan Medical Center (STIKES IMC) Bintaro dengan mahasiswinya Siti Nurkhairani alias Rani berakhir manis. STIKES IMC akhirnya menyerahkan ijazah Siti Nurkhairani di Kompleks Rumah Sakit IMC, Kelurahan Jombang, Kecamatan Ciputat, Jumat (18/10).

Pemberian ijazah tersebut disaksikan kuasa hukum Siti Nurkhairani, Abdul Hamim Jauzi, Asisten Daerah Satu Rahmat Salam, Wakil Ketua II Bidang Non-Akademik Daelami Ahmad dan Wakil Ketua I Bidang Akademik Royani.     “Sesuai janji kami, menyerahkan ijazah paling lambat tiga hari setelah somasi dilayangkan,” kata Wakil Ketua II Bidang Non-Akademik Daelami Ahmad saat membacakan hak jawab atas pemberitaan dan somasi LBH Keadilan.

Seperti diketahui, Siti Nurkhairani melayangkan somasi kepada kampusnya, Rabu (16/10) lalu. Gara-garanya, wanita yang akrab disapa Rani ini merasa pihak kampus menggagalkan wisudanya. Rani dinilai tidak melaporkan hasil studinya kepada pihak yayasan yang telah memberikan beasiswa. 

Daelami Ahmad menegaskan, pihak kampus tidak pernah ada niatan membatalkan wisuda. Hanya menunda memberikannya, agar Rani dinasehati dahulu. Karena sikapnya selama ini yang tidak memiliki rasa terimakasih sedikitpun kepada Yayasan Ichtiar Kasih Anak Nusantara (Ichsan) yang membiayai kuliahnya.

“Tadinya kami ingin memanggil untuk memberikan nasehat. Tetapi ananda Siti Nurkhairani sudah duluan mengadu ke LBH Keadilan dan menekan yayasan,” jelasnya

“Maka, kami menganggap tidak perlu lagi memberi nasehat dan sejak saat ini melepas yang bersangkutan dari segala tuntutan dan tanggungjawab, baik sikap, perilaku, dan tindak-tanduknya menjadi tanggungjawab pribadi bersangkutan,” tukasnya.

Dalam pertemuan tersebut, Asisten Daerah I Rahmat Salam menjadi penengah dan saksi dari pemerintah, supaya setelah penyerahan ijazah tak ada berbuntut panjang. “Saya di sini memediasi. Persoalan ini, bisa diselesaikan secara bijak dan damai. Dengan penyerahan ijazah yang dilakukan pihak kampus, tuntutan Siti Nurkhairani terpenuhi dan selesai,” singkatnya.

Sementara, Kuasa Hukum Siti Nurkhairani Abdul Hamim Jauzi mengaku kecewa dengan hak jawab yang dibacakan di depan kliennya. “Kurang etis, kalau hak jawab dibacakan dalam pertemuan ini,” katanya.

Meskipun begitu, sambungnya, pihaknya menganggap persoalan sudah selesai. “Tuntutan kami meminta ijazah sudah dipenuhi. Jadi, sudah selesai,” tutupnya.

Mahasiswi Siti Nurkhairani menyatakan lega setelah ijazah diterima. “Perasaan lega. Meskipun memang kecewa dengan pembatalan wisuda pada 12 Oktober lalu,” ucapnya.

Dirinya mengaku akan tetap bersilaturahmi ke pimpinan Yayasan Ichsan. “Saya tahu etika dan bukan kacang lupa kulitnya. Setelah ini, saya akan berupaya menemui pimpinan yayasan,” tukasnya. (you/asp)