Kapasitas RLC Ditambah

0
2090

SERPONG – Dalam menangani kasus Covid-19 dalam hal tempat isolasi, Pemkot Tangsel memiliki Rumah Lawan Covid-19 (RLC) di Kawasan Tandon Ciater Serpong. Dari 150 tempat tidur yang ada, kapasitasnya sudah hampir penuh, padahal kasus Covid-19 masih tinggi.

Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany mengatakan, untuk mengatasi hal tersebut pihaknya akan menambah kapasitas RLC. “Dari kapasitas saat ini mencapai 150 tempat tidur, kita akan menambahkannya menjadi 170 tempat tidur,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (25/12).

Airin menambahkan, dari 150 kasur di tempat karantina pasien Covid-19 itu, 100 di antaranya sudah terisi. “RLC ini maksimal penuh sekitar 100-an. Padahal kapasitasnya sekitar 150. Masih ada okupansi sekitar 40. Nanti kita akan tambah 20 bed,” tambahnya.

Airin tidak ingin ada cerita warganya yang terjangkit Covid-19 kesulitan isolasi. “On process sekarang menggunakan program BTT lagi dalam tahapan dan proses perencanaan dan sesegera mungkin dalam pelaksanaan,” jelasnya.

Ibu dua anak ini menganggap penting adanya isolasi terpusat dengan pengawasan tenaga medis yang maksimal. Apalagi, berdasarkan data yang dimilikinya, banyaknya pasien Covid-19 yang meninggal dunia karena terlambat ke rumah sakit.

“Ini bisa terjadi karena kurangnya pengawasan saat menjalani isolasi mandiri,” tuturnya.

Berdasarkan data per Jumat (25/12), pasien Covid-19 yang meninggal dunia bertambah dua orang, sehingga totalnya menjadi 168 orang. Sementara pasien Covid-19 yang masih dirawat di rumah sakit, isolasi mandiri atau di RLC jumlahnya mencapai 391 orang. 

Selain akan menambah kapasitas RLC, Airin juga mewacanakan akan memberdayakan indekos menjadi tempat isolasi pasien Covid-19. Pengelola hotel yang juga sempat dimintakan untuk menjadi tempat karantina, menolak karena jumlah okupansi tengah bertumbuh.

“Indekos menjadi tempat ideal untuk karantina terpusat karena kondisinya saat ini sedang sepi,” ungkapnya.

Menurutnya, indekos yang karib dengan mahasiswa sebagai penghuninya, sedang menjalani kuliah secara online atau daring. Kebanyakan mahasiswa meninggalkan indekosnya dan kuliah dari rumah atau kampung halamannya.

“Sekarang kan kos-kosan sepi, ini bisa dimasukkan ke kita karena program isolasi mandiri tersentral itu kan biayanya dari pemerintah pusat,” tuturnya.

Airin berpendapat, dengan pembiayaan dari pemerintah pusat, indekos yang beralih fungsi menjadi tempat isolasi pasien Covid-19 bisa menghidupkan perekonomian.

“Ini sebenernya progran pemerintah pusat untuk mendorong supaya timbul ekonomi pulih di hotel. Saya minta indekos dijadikan untuk tempat guest house atau yang lainnya yang bisa dikerjasamakan dengan program yang dikerjakan pemerintah pusat melalui kita pemerintah daerah,” tutupnya. (bud/air)