Karantina Tenaga Medis RSUD Banten Pindah ke Hotel

Sekretaris Komisi V DPRD Banten Fitron Nur Ikhsan saat meninjau tempat karantina tenaga medis di Pendopo Lama belum lama ini.

MENDAPAT kritikan dari DPRD Banten terkait lokasi karantina tenaga medis di Pendopo Lama Gubernur yang tidak standar penanganan Covid-19, Pemprov Banten langsung memindahkan lokasi karantina ke hotel.

Sejak Senin (6/4), semua tenaga medis yang bekerja di rumah sakit pusat rujukan Covid-19 atau RSUD Banten dipindah ke Hotel Le Dian dan Hotel Le Semar, Kota Serang.

Pemprov Banten melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) telah bekerja sama dengan manajemen hotel, untuk menyewa lebih dari 150 kamar untuk dijadikan lokasi karantina tenaga medis yang bertugas di RSUD Banten.

Menurut Kepala Dinkes Banten dr Ati Pramudji Hastuti, lokasi karantina tenaga medis RSUD Banten mulai kemarin dipindah, dari sebelumnya di Pendopo Lama Gubernur ke Hotel Le Dian dan Le Semar, Kota Serang. “Hari ini (kemarin-red), semua tenaga medis RSUD Banten dipindah ke hotel. Lantaran di pendopo lama kapasitasnya terbatas, dan sulit menerapkan physical distancing,” kata Ati saat rapat koordinasi dengan Komisi V di ruang rapat paripurna DPRD Banten, kemarin.

Ia memaparkan, pihaknya sudah menyiapkan sekira 154 kamar hotel untuk ditempati tenaga medis selama menjalani karantina. “Setiap kamar diisi oleh dua tenaga medis, 80 kamar di Le Dian, dan 74 kamar di Le Semar,” paparnya.

Dengan kepindahan lokasi karantina, lanjut Ati, diharapkan tenaga medis RSUD Banten bisa lebih terjamin keselamatannya, meskipun selama bertugas di RSUD Banten telah dilengkapi APD sesuai standar Covid-19. “Total ada 594 tenaga medis dan paramedis di RSUD Banten yang bertugas melayani pasien covid. Namun yang kami karantina hanya tenaga medis yang bersedia dikarantina,” ungkapnya.

Menanggapi keputusan Pemprov Banten memindahkan lokasi karantina tenaga medis, Sekretaris Komisi V Fitron Nur Ikhsan mengapresiasi langkah tersebut. Menurutnya, keputusan tersebut sudah tepat karena di Pendopo Lama Gubernur, para tenaga medis rentan terpapar covid akibat tempat karantina tidak sesuai standar.

“Di hotel kan tidak ada lagi tenaga medis yang tidur berkerumun seperti tinggal di pendopo lama. Petugas medis DKI sejak awal dikarantina di hotel, dan sekarang Banten pun melakukannya,” ungkapnya.

Kendati mengapresiasi keputusan Pemprov, Fitron meminta manajemen RSUD Banten tidak diskriminatif terhadap petugas medis honorer. “Kita tahu tenaga medis ini tidak semuanya berstatus ASN, perlakukan pada mereka yang honorer juga harus sama saat dikarantina di hotel,” ujarnya.

Fitron mengaku, dirinya mendapatkan informasi bila semua tenaga medis di RSUD Banten diminta mengisi surat pernyataan setuju atau tidak setuju untuk dikarantina. “Ini yang kita sayangkan, tenaga medis RSUD Banten itu memang harus dikarantina oleh pemerintah daerah, bukan urusan mau atau tidak mau dikarantina,” tuturnya.

Ia berharap, Pemprov Banten tidak lagi gagap dalam membuat kebijakan penanganan dan pencegahan Covid-19 di Banten. “Kalau tenaga medis sebagai garda terdepan dijamin keselamatannya maka kita berharap wabah ini cepat berlalu, karena masyarakat yang terpapar Covid-19 diurus dan dilayani dengan optimal sebagaimana mestinya. Nanti kita sidak lagi ke hotel untuk memastikan karantina sesuai standar covid,” pungkas Fitron.

Pada bagian lain, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Provinsi Banten sejak ditetapkannya RSUD Banten sebagai rumah sakit khusus Covid-19, tidak menerima permintaan dari Pemprov Banten untuk hotel bagi tenaga medis. Ini diungkapkan Ketua PHRI Banten Achmad Sari Alam saat dihubungi Senin (6/4). “Sejauh ini belum ada permintaan dari Pemprov,” katanya.

Ia mengatakan, PHRI sejak awal siap membantu Pemprov Banten jika diminta bantu untuk mencarikan hotel sebagai tempat tinggal sementara bagi tenaga medis. Saat ini, ada beberapa tenaga medis khususnya di Kota Serang yang meminta disiapkan hotel sebagai tempat tinggal sementara selama penanganan virus corona. “Jika ada permintaan nanti dikomunikasikan dengan hotel yang di Kota Serang,” katanya.

Ia memberikan apresiasi kepada Hotel Permata Mulia di Kota Tangerang yang menjadikan hotel sebagai tempat peginapan bagi tenaga medis. Di tengah merosotnya tingkat hunian hotel dan beratnya beban operasional, hotel tersebut mau menjadi hotel tempat paramedis. “Rencananya ada 24 kamar yang akan dijadikan tempat menginap para medis,” katanya. (den-skn/air/ags)