Direktur Radar Banten Mashudi melakukan praktik pijat jantung yang dibimbing oleh instruktur.

SERANG – Radar Banten bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Serang menggelar penyuluhan dan pelatihan pertolongan pertama pada orang yang terkena serangan jantung, Kamis (15/3).

Peserta pelatihan mulai dari pimpinan, wartawan, hingga karyawan Radar Banten Grup, seperti Direktur Radar Banten Mashudi,  Pimpinan Perusahaan Dian Yuliantini, Kepala Litbang Radar Banten Group M  Widodo,  GM Tangerang Ekspres Rudi Susanto,  Pimred Radar Banten Ahmad Lutfi, dan Pimred Radar Banten Online Aas Ahmad Arbi S.

Direktur Radar Banten Mashudi mengatakan, pelatihan dan penyuluhan pertolongan pertama pada orang serangan jantung ini sangat baik untuk memberikan pemahaman, yang diikuti praktik langsung.

“Kami ingin seluruh karyawan, bisa memberikan pertolongan ketika ada orang yang terjadi serangan jantung. Serangan jantung kan sangat mendadak, bisa sampai berhenti bernapas. Mereka diharapkan bisa memberikan pertolongan, misalkan pada teman sekantor, keluarga atau di lingkungannya,” kata Mashudi di Graha Pena Radar Banten, Kota Serang, Kamis (15/3).

Menurutnya, jantung merupakan organ vital. Ketika terjadi kasus serangan jantung,  karyawan bisa memulainya dengan memberikan pertolongan pertama. Supaya  bisa mengurangi risiko meninggal terhadap orang terkena serangan jantung.

“Serangan jantung ini kan mendadak. Beda dengan penyakit yang lain. Harus ditangani sendiri dengan pertolongan pertama. Dokter kan terbatas. Rumah sakit jaraknya pasti jauh. Ketika serangan jantung, terjadinya bukan di rumah sakit. Maka kita harus memberikan pertolongan pertama ini,” ujarnya.

Menurutnya, selama ini banyak yang keliru dalam mengatasi pertolongan pertama terhadap orang yang terkena serangan jantung. “Ada yang melakukan pertolongan yang tidak tepat. Ada yang mijit tangan, terus kaki,” terangnya.

Dokter Spesialis Emergency Rumah Sakit dr Drajat Prawiranegara Atep Supriatna mengungkapkan, Bantuan Hidup Dasar (BHD) sangat penting untuk karyawan, dan masyarakat umum. Serangan jantung bila tidak segera ditangani dengan baik, risiko meninggal cukup tinggi.

Di Banten, kata dia, penyakit serangan jantung ini sangat tinggi. Kasus serangan jantung sering terjadi di luar rumah sakit. “Jadi sebelum nyampe ke rumah sakit, ketika tidak sadar diri, tidak napas harus dilakukan pijat jantung,” ujarnya.

Untuk itu, pelatihan pertolongan pertama serangan jantung ini harus dipraktikkan agar ketika terjadi dikemudian hari masyarakat bisa melakukannya dengan benar dan dapat mengurangi risiko meninggal dunia.

Kata Atep, serangan jantung memiliki tiga kriteria. Ringan, sedang, dan berat. “Namanya henti jantung, tidak sadar dan tidak napas. Kena serangan jantung sedang biasanya, sakit dada yang menjalar ke belakang bahu, mual muntah, keringet dingin dan faktor risiko darah tinggi, kencing manis, merokok,” ungkapnya.

Pijat jantung ini, harus dengan frekuensi 100-120 kali per menit dengan kedalaman 5-6 sentimeter. Teori tersebut, sambungnya, harus dipraktikkan agar ketika mendapati orang yang terkena serangan jantung bisa melakukannya dengan benar.

“Jika sudah melewati pertolongan pertama, dibawa segera ke rumah sakit,” sarannya. (Anton Sutompul/antonsutompul1504@gmail.com)