Kasus Curanmor di Banten Masih Tinggi

0
434 views
Kapolda Banten Irjen Pol Fiandar (keempat dari kanan) bersama Direktur Reskrimum Polda Banten Kombes Pol Martri Sonny (ketiga dari kanan) mengangkat barang bukti kasus curanmor saat ekspos di Mapolda Banten, Rabu (18/11)

1,5 Bulan 214 Kendaraan Diamankan Polisi

SERANG – Kasus pencurian kendaraan bermotor atau curanmor di wilayah hukum Polda Banten masih terbilang tinggi. Sejak awal Oktober hingga 16 November 2020 Polda Banten dan jajaran berhasil mengungkap 56 kasus dengan barang bukti kendaraan 214 unit.

Kapolda Banten Inspektur Jenderal Polisi (Irjen Pol) Fiandar mengatakan, 56 kasus yang terungkap tersebut merupakan hasil operasi kejahatan kendaraan atau jaran yang dilaksanakan belum lama ini. “Ada 56 kasus (curanmor-red) dengan tersangka 47 orang dengan barang bukti kendaraan 214 unit,” ujar Fiandar saat ekspose di Mapolda Banten, Rabu (18/11).

Ratusan kendaraan yang diamankan tersebut mayoritas kendaraan roda dua. Jumlahnya sebanyak 185 unit. Sedangkan sisanya 29 unit merupakan kendaraan roda empat. “Kendaraan roda empat ini ada 29 unit,” ujar Fiandar didampingi Direktur Reskrimum Polda Banten Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Martri Sonny dan Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Edy Sumardi Priadinata.

Pengungkapan kasus terbanyak oleh Ditreskrimum Polda Banten. Jumlah yang terungkap sebanyak 13 kasus dengan barang bukti 22 unit sepeda motor dan 11 unit mobil. Kemudian Polres Cilegon dengan 11 kasus dengan rincian barang bukti motor 37 unit dan mobil dua unit.

“Untuk tersangka Ditreskrimum Polda Banten ada 11 tersangka, Polresta Tangerang delapan tersangka, Polres Serang lima tersangka, Polres Pandeglang delapan tersangka, Polres Cilegon dua tersangka, Polres Lebak lima tersangka dan Polres Serang Kota tiga tersangka,” kata mantan Gubernur Akpol tersebut.

Para tersangka tersebut lanjut Fiandar ditangkap sesuai dengan target operasi (TO) yang telah ditentukan dalam Operasi Jaran. “Dan terungkap juga dari hasil informasi masyarakat serta pengembangan kasus dari hasil pengungkapan kasus curanmor,” ucap Fiandar.

Motif para tersangka melakukan pencurian tersebut untuk mencari keuntungan dengan memperjualkannya kembali kepada penadah. Adapun modusnya dengan merusak pintu kendaraan dan tempat kunci kendaraan menggunakan kunci palsu atau pun leter T. “Mereka (tersangka-red) menggunakan kunci palsu,” ujar jenderal polisi bintang dua tersebut.

Fiandar mengatakan rencana tindaklanjut dari pengungkapan kasus tersebut adalah dengan melakukan pengembangan jaringan. Selain itu secara berkesinambungan tetap terus melaksanakan pemberantasan tindak pidana curanmor. “Kami akan melakukan monitoring terhadap waktu dan tempat rawan terjadi curanmor berdasarkan koordinasi dengan pihak terkait,” kata Fiandar.

Ia mengatakan kendaraan yang diamankan dari para tersangka tersebut dapat diambil korbannya. Pengembalian kendaraan dapat dilakukan di Polda Banten dan Polres jajaran. Syarat pengembalian kendaraan tersebut dengan membawa surat-surat tanda kepemilikan. “Silakan diambil bagi pemilik kendarannya,” ujar Fiandar.

Direktur Reskrimum Polda Banten, Kombes Pol Martri Sonny menambahkan, puluhan tersangka diamankan tersebut merupakan pencuri kambuhan yang menyasar kendaraan mulai dengan berbagai modus. “Ada yang pinjam lalu dibawa kabur, modus penyewaan, ada juga perampasan dan ada yang pakai senjata tajam,” kata Martri.   

Paling banyak, lanjut Martri, kendaraan khususnya roda dua dicuri dari perumahan, tempat parkir dan lokasi yang minim pemantauan pemilik. Oleh karena itu, ia meminta warga untuk menggunakan kunci ganda untuk pengamanan ekstra kendaraan pribadi. “Gunakan kunci ganda (untuk mengantisipasi pencurian-red),” kata perwira menengah Polri tersebut.

Dikatakan Martri, selama periode Maret-Mei 2020 kejahatan curanmor memang mengalami penurunan karena pandemi Corona. Tapi, di triwulan selanjutnya, justru ada peningkatan jumlah pencurian khususnya saat diterapkan new normal. “Seiring dengan waktu pada saat kembali new normal memang tindak pidana mulai meningkat kembali menuju ke arah normal,” kata Martri.

Martri menuturkan para tersangka tersebut disangkakan melanggar Pasal 363 KUH Pidana tentang Pencurian, Pasal 480 KUH Pidana tentang Penadahan dan Pasal 481 KUH Pidana tentang Penadahan. “Ancaman pidananya tujuh tahun penjara,” tutur Martri. (mg05/air)