Kasus DBD di Banten Masih Tinggi

0
1.366 views
Petugas melakukan fogging di kawasan Alun-alun Timur Kota Serang, beberapa waktu lalu. Penyemprotan tersebut guna membasmi nyamuk aedes aegypti.

SERANG – Demam berdarah dengue (DBD) masih mengancam Provinsi Banten. Terhitung sejak bulan Januari hingga Mei 2020, kasus DBD masih tinggi. Bahkan beberapa pasien meninggal dunia.

Di Kabupaten Pandeglang, warga yang terjangkit DBD hingga tembus 459 orang. Terbanyak pada Januari yang mencapai 238 kasus, Februari 106 kasus, Maret 50 kasus, April 36 kasus, dan Mei 29 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pandeglang Raden Dewi Setiani mengatakan, tidak ada korban yang meninggal dunia. “Kita akan terus berusaha agar warga Pandeglang tidak terjangkit DBD,” katanya kepada Radar Banten, Selasa (23/6).

Dewi mengaku, instansinya akan terus memberikan pemahaman kepada masyarakat agar dapat menjaga kebersihan lingkungan dan menghilangkan genangan air di lingkungan rumah. Kata dia, nyamuk aedes aegypti pembawa DBD selalu berkembang biak di genangan air. “Kita akan terus menyampaikan agar masyarakat menjaga kebersihan dengan cara 4M plus. Tetapi alhamdulillah, belum ada warga yang meninggal karena DBD,” katanya.

Pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan 4M Plus yakni menguras yakni membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air; menutup yaitu menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air; memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas; dan  memantau wadah penampungan air dan bak sampah.

Di Kabupaten Serang, jumlah pasien DBD juga masih tinggi  yakni mencapai 223 kasus. Dari jumlah itu, empat orang di antaranya meninggal dunia. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Kabupaten Serang Agus Sukmayadi mengatakan, data yang diterima dari 31 puskesmas di Kabupaten Serang, kasus DBD paling banyak terjadi di Kecamatan Kramatwatu sebanyak 22 kasus,  lalu Kecamatan Anyar dan Kecamatan Jawilan masing-masing 15 kasus.

Sementara pasien DBD yang meninggal dunia yakni di Kecamatan Tanara, Tirtayasa, Cikande, dan Kecamatan Petir. “Data terakhir DBD di Kabupaten Serang ada 223 penderita dan empat meninggal dunia,” katanya.

Agus mengatakan, sudah melakukan beberapa upaya untuk menekan angka kasus penderita DBD. Mulai dari pencegahan hingga penanganan. “Sesuai dengan Protap (prosedur tetap-red) melakukan sosialisasi PHBS dan melakukan pemberantasan sarang nyamuk di rumah dan lingkungan,” ujarnya.

Sementara di Kota Serang,  jumlah kasus DBD terhitung Januari hingga awal Juni mencapai 226 kasus dari 16 pusat kesehatan masyarakat (PKM). “Total kasusnya ada 226 kasus. Tiga di antaranya meninggal dunia,” ujar Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Serang, Ratu Ani Nuraeni

Perempuan yang akrab disapa Ani itu mengatakan, kasus tertinggi pada bulan Februari yaitu mencapai 68 kasus, Januari dan April mencapai 47 kasus, bulan Mei 34 kasus, dan terkecil pada Maret dan Juni hanya 15 kasus. “Tiga kasus meninggal berada di PKM Taktakan, Banjar Agung dan Banten Girang,” katanya.

Ia mengatakan, penanggulangan yang dilakukan melalui fogging dan  PSN. Kata Ani, angka penemuan kasus DBD selalu ada karena masyarakat mengabaikan PSN. “Itu menjadi kendala, masyarakat kita sering kali mengabaikan PSN,” katanya.

Terpisah, Kepala Dinkes Provinsi Banten dr Ati Pramudji Hastuti mengatakan, apabila di-breakdown per kabupaten kota, ada peningkatan kasus pada bulan April sampai Mei di Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan. Berdasarkan laporan yang masuk sampai dengan bulan Mei 2020, kasus DBD di Provinsi Banten  menurun jika dibandingkan data sampai dengan Mei 2018.

Ia mengatakan, langkah-langkah yang telah dilakukan Dinkes Provinsi dan kabupaten kota, yakni memberikan insektisida ke kabupaten kota untuk pelaksanaan fogging dengan tetap menekankan pelaksanaan PSN melalui  3M Plus. “Dinkes kabupaten kota memberikan abate dan melakukan PSN bersama warga dengan 3M Plus,” terangnya. (nna-dib-jek/alt)