Kasus Dokter Gadungan, RS Hermina: Tidak Ada Karyawan Bernama Faridah

0
4.072 views
Manajer Marketing dan Mutu RS Hermina Yuli Vitri

1. POLISI BURU REKAN DOKTER GADUNGAN

SERANG – Faridah (21), diduga kuat tidak bekerja sendiri. Dokter bedah gadungan itu menyebut sosok lelaki berinisial Mu berperan dalam kasus dugaan penipuan puluhan calon tenaga kerja di salah satu rumah sakit di Kabupaten Serang. Hingga kemarin, polisi masih melacak keberadan Mu.

“Saya ketemu Mu di RSUD Serang (RS dr Dradjat Prawiranegara-red). Kenalnya sudah lama, cuma baru ketemu bulan Juni 2017. Dia minta aku (menyebut dirinya-red) cariin orang yang mau masuk kerja di RS Hermina,” kata Faridah kepada Radar Banten saat ditemui di Mapolsek Serang, Senin (31/7).

Setiap calon tenaga kerja, kata Faridah, diminta menyerahkan sejumlah uang sebagai persyaratan. Nilainya bervariasi, tergantung jenis pekerjaan yang diinginkan. “OB (office boy-red) Rp 300 ribu. Operator dan apoteker Rp 1,2 juta. Tapi, ada juga satu orang sampai Rp 2,3 juta,” kata Faridah.

Seusai bertemu Mu, Faridah langsung mencari sasaran. Faridah membidik para lulusan SMA atau sederajat. Selain di Kota Serang, Faridah mencari korban di Cikande, Kabupaten Serang.

“Saya diminta Mu tetap mengaku jadi dokter. Karena kenalan sama suami, aku mengaku dokter magang. Biar dipercaya saja (sama korban-red). Iya, tahu kalau menipu,” kata Faridah.

Faridah berhasil mengelabui beberapa korban. Para korbannya itu juga diminta mencari calon tenaga kerja lain. “Pertama itu ketemu sama Iin (korban-red). Kalau di Cikande Usep (korban-red). Aku bilang kerja jadi dokter bedah,” kata Faridah.

Supaya korban lebih yakin, Faridah membeli alat-alat medis dan mengenakan jas putih. Dia juga mengiming-imingi korban dengan gaji setiap bulan Rp 4 juta. Dia juga mengunduh sebuah aplikasi pengetahuan di bidang kedokteran. “Dalam waktu setengah bulan sudah ada 20 orang,” kata Faridah.

Setelah menyerahkan surat lamaran dan uang pendaftaran, Faridah meminta para korbannya mengikuti training di Alun-alun Serang. Para korban diminta menghafalkan jenis obat-obatan.

“Yang training enggak semuanya. Ada yang jam delapan pagi dan ada yang jam sepuluh. Mereka disuruh ngapalin aja jenis obat-obatan,” ungkap Faridah.

Sementara, uang sebesar Rp 44 juta yang diperoleh dari puluhan calon tenaga kerja itu sebagian besar diserahkan Faridah kepada Mu. Sisanya, digunakan Faridah untuk kebutuhan sehari-hari.

“Total ada Rp 44 juta lebih. Rp 30 jutaan dikasihkan ke Mu. Rp 8 juta saya belikan buat keperluan rumah tangga. Tabung gas, kompor gas merek Rinai,” kata Faridah.

Kanitreskrim Polsek Serang Inspektur Polisi Dua (Ipda) Juwandi mengaku masih melacak sosok Mu, yang disebut berperan dalam penipuan calon tenaga kerja itu. “Kita masih cari orang yang disebut tersangka. Benar ada atau hanya sosok fiktif,” kata Juwandi.

Kata Juwandi, Faridah bukanlah dokter. Perempuan asal Kelurahan Gelam, Kecamatan Cipocokjaya, itu hanya lulusan SMA. “Uang hasil penipuan itu dibelikan kompor gas, tabung gas, dispenser, lemari plastik, dan lain-lain,” kata Juwandi.

Polisi berencana meminta keterangan dari pihak RS Hermina di Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang, terkait kasus penipuan tersebut. “Kita akan tanyakan juga ke pihak rumah sakit. Betul atau tidak ada lowongan pekerjaan dan lain-lain,” jelas Juwandi.

2. KETERANGAN RS HERMINA

Sementara itu, manajemen RS Hermina membantah memiliki karyawan bernama Faridah. Manajer Marketing dan Mutu RS Hermina Yuli Vitri mengatakan, Faridah tidak terdaftar sebagai karyawan di RS Hermina. “Dokter bedah kita laki-laki semua, tidak ada itu dokter Faridah,” katanya kepada Radar Banten saat ditemui di RS Hermina Jalan Raya Serang-Jakarta, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang, Senin (31/7).

Yuli mengatakan, pengakuan yang diungkapkan oleh Faridah sebagai dokter di RS Hermina itu merupakan status palsu. Bahkan, ia baru mengetahui kasus penipuan yang dilakukan Faridah melalui media massa. “Saya baru lihat tadi pagi (kemarin-red) di koran Radar Banten,” ujarnya.

Kabar pencatutan institusi itu juga telah menjadi perbincangan di manajemen RS Hermina. Namun, pihaknya belum melakukan klarifikasi kepada kepolisian. “Saya rasa kita belum memerlukan untuk klarifikasi. Semuanya sudah terungkap, kita juga tidak mendapatkan panggilan dari kepolisian,” terangnya.

Yuli juga membantah jika rumah sakitnya merekrut karyawan dengan memungut biaya dari pelamar kerja. “Kita juga sudah memasang pengumuman di depan rumah sakit bahwa dalam merekrut tenaga kerja tidak memungut biaya,” jelasnya.

“Saya rasa masyarakat juga harus kritis, seharusnya dihubungi dulu pihak rumah sakitnya,” tambahnya.

Hal senada dikatakan Manajer Penunjang Medis pada RS Hermina Stefanus. Menurutnya, proses perekrutan karyawan di RS Hermina melalui tahapan-tahapan yang jelas. “Dari mulai lamaran, test interview, cek kesehatan, hingga perjanjian kontrak kerja,” katanya.

Dikatakan Stefanus, calon karyawan juga akan dilakukan training di RS Hermina. Beda halnya dengan yang diungkapkan Faridah untuk training di luar rumah sakit. “Yang jelas, proses manajemen kita seperti itu,” terangnya.

Stefanus memastikan tidak ada karyawannya yang melakukan pungutan biaya kepada pelamar kerja. Pihaknya akan melakukan tindakan tegas bila ada praktik pungutan dalam lamaran di RS Hermina. (Merwanda-Rozak/RBG)