Kasus Hoax Gempa Susulan, Delapan Saksi Diperiksa

SERANG – Penyidik Subdit II Fismondev dan Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Banten masih mendalami penyebar hoax (berita tidak benar) gempa susulan di Kabupaten Lebak. Delapan orang diperiksa sebagai terkait penyebar hoax gempa susulan berkekuatan 7,5 skala Richter (SR).

“Masih berlangsung (penyidikan-red). Ada delapan orang diperiksa (saksi-red). Rangkaiannya masih panjang,” kata Direktur Reskrimsus Polda Banten Komisaris Besar (Kombes) Abdul Karim, dihubungi melalui telepon seluler (ponsel)-nya, Jumat (9/2).

Pascagempa 6,4 SR pada 23 Januari 2018 di Kabupaten Lebak, beredar surat Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menyebutkan potensi gempa susulan berkekuatan 7,5 SR. Pemberitahuan tertulis itu merupakan catatan kaki pada surat resmi BMKG. Padahal, surat resmi BKMG itu merupakan pemberitahuan rutin mengenai cuaca di Banten.

Informasi yang dihimpun Radar Banten, hoax itu bermula dari group WhatsApp (WA) murid sekolah dasar (SD) di Kabupaten Pandeglang. Secara berantai, informasi itu disebarkan ke group WA lain. Sedikitnya, file dari tiga grup WA telah diamankan penyidik.

Delapan saksi itu terdiri dari berbagai latar belakang profesi, mulai dari mahasiswa, guru, hingga politisi. Terakhir, hoax tersebut diunggah ke salah satu akun Instagram (IG) milik salah satu saksi. “Tersangka belum ada. Sekarang kita mencari niatnya (motif penyebaran-red),” kata Abdul Karim.

Sebelumnya, Kepala BMKG Klas I Serang Sugarin resmi melaporkan penyebaran hoax gempa susulan di Kabupaten Lebak ke Polda Banten, Kamis (25/1). Penyebar hoax tersebut mencatut nama BMKG dengan menginformasikan gempa susulan 7,5 magnitude pada pukul 22.30-23.59 WIB.

Barang bukti berupa print out selebaran hoax dan rilis resmi dari BMKG diserahkan kepada polisi sebagai perbandingan. Dia juga sudah memberikan keterangan kepada polisi. (Merwanda/RBG)