Kasus Klinik Aborsi di Pandeglang: Sekali Aborsi Rp1,2 Juta

0
459 views
Klinik Bidan Sejahtera di Kampung Cipacing, Desa Ciputri, Kecamatan Kaduhejo sepi, Senin (2/11).

SERANG – Klinik aborsi milik NN ternyata dikenal tidak hanya di Kabupaten Pandeglang saja. Informasi klinik aborsi tersebut sampai ke wilayah kabupaten kota di Banten. Seperti di Kota Serang. Seorang perempuan muda pada 2009 lalu pernah mengaborsi janinnya di klinik NN. “Dulu saya pernah nganter temen perempuan saya Bunga (bukan nama sebenarnya-red) ke sana (klinik NN-red),” ujar AD, warga Kota Serang kepada Radar Banten.

AD mengaku awalnya tidak tahu alasan Bunga mengajaknya ke klinik NN. Bunga kata dia hanya minta untuk diantarkan ke klinik di daerah Pandeglang. Saat itu, Bunga mengaku sedang sakit perut. “Saya nganter dia karena sebelumnya ditelepon untuk diantar ke klinik di Pandeglang. Waktu itu Bunga ini ngakunya sakit perut,” kata pria yang berdomisili di Dalung, Kecamatan Cipocokjaya, Kota Serang ini, kemarin.

Setibanya di klinik milik NN, barulah AD mengetahui persoalan sakit yang diderita Bunga. Gadis pemandu lagu di Kota Serang tersebut ternyata hamil dengan usia kandungan kira-kira dua bulan. “Saya sempat ketemu dengan bidan NN itu, dia waktu itu ngomong kepada saya kalau Bunga ini ternyata hamil dan janinnya sudah meninggal. Disitu saya kaget dan baru tahu kalau Bunga ini mau aborsi,” kata AD.

Setelah aborsi tersebut, Bunga diminta NN untuk tidak langsung pulang dan beristirahat di klinik. Namun saran tersebut ditolak Bunga dan meminta untuk langsung pulang. “Pas pulang itu dia masih ngerasain sakit. Jalan di tanjakan dia teriak, makanya saya bawa motor jalan kira-kira 20 KM per jam, sampai ke Serang kira-kira tiga jam perjalanan,” kenang AD.

Diakui AD, Bunga merupakan perempuan nakal. Bunga tidak ingat siapa ayah biologis dari janinnya tersebut. “Hamil itu karena hubungan gelap. Dia (Bunga-red) sudah enggak ingat lagi siapa orang yang ngehamilinnya, dia ngakunya beberapa kali (ditidurin pria hidung belang-red). Namanya juga perempuan di tempat hiburan malam,” ucap AD.

Kata AD, biaya yang dikeluarkan Bunga untuk membayar aborsi waktu itu tersebut sebesar Rp1,2 juta. “Kalau dulu Rp1,2 juta. Bayarnya dulu enggak punya uang cukup jadi Bunga ngasih ponselnya yang masih baru ditambah uang saya Rp200 ribu,” tutur bapak tiga anak ini.

Warga Tak Tahu Praktik Aborsi

Pasca penggerebekan Klinik Bidan Sejahtera di Kampung Cipacing, Desa Ciputri, Kecamatan Kaduhejo, Senin (26/10) sore lalu. Sejumlah warga sekitar lokasi tidak mengetahui tempat tersebut melakukan praktik aborsi.

Pantauan di lapangan, klinik yang ada di Jalan Raya Wisata, Sukamanah, Kecamatan Kaduhejo itu tampak sepi, dan hanya ada dua orang pembantu rumah tangga. Dua ruangan yakni ruangan pengobatan dan resepsionis klinik tersebut dipasang garis polisi atau police line.

Bangunan dua lantai yang berada di samping jalan raya itu tidak memiliki plang atau papan nama sebagai identitas klinik dan tertutup. Suasana di areal klinik tidak terlalu rapih dan sesekali tercium bau bangkai dari dalam ruang praktik.

Salah seorang pegawai rumah tangga yang menolak namanya dikorankan mengaku tidak mengetahui mengenai kejadian tersebut. Kata dia,  pemilik klinik sedang berada di luar kota sejak satu minggu lalu dan belum kembali. “Lagi di luar kota. Udah ada satu mingguan enggak pulang,” katanya seraya kembali masuk ke dalam rumah di samping klinik tersebut.

Faisal warga setempat mengaku tidak mengetahui mengenai adanya praktik aborsi yang dilakukan bidan berinisal NN (47). Soalnya, kata dia, selama lebih dari sepuluh tahun klinik tersebut hanya melayani pengobatan biasa dan melahirkan. “Enggak tahu, soalnya biasanya hanya menangani yang lahiran saja. Saya juga pernah beberapa kali berobat ke klinik,” katanya di depan klinik.

Dia mengaku kaget ketika banyak anggota polisi melakukan penyelidikan dan pemeriksaan di lokasi kejadian, karena selama ini tidak ada kegiatan mencurigakan yang dilakukan pemilik dan petugas klinik. “Enggak tahu beneran. Makanya waktu kemarin banyak polisi kita kaget juga, enggak nyangka aja kalau ada kegiatan aborsi,” katanya.

Rangga warga setempat lainnya mengaku, selama ini warga banyak mendengar mengenai kabar praktik aborsi tersebut. Namun, kata dia, kabar tersebut belum bisa dibuktikan sehingga warga tidak bisa berbuat banyak. “Kabar itu ada, tetapi kan enggak ada buktinya. Kalau saja ada buktinya, mungkin warga juga udah bertindak, tapi kan kita enggak boleh langsung percaya sama kabar-kabar kaya gitu,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, sebuah klinik yang juga dijadikan tempat praktik bidan digerebek anggota Subdit IV Tipiter Ditreskrimsus Polda Banten, Senin (26/10) sore. Klinik dengan nama Klinik Bidan Sejahtera yang berlokasi di Kampung Cipacing, Desa Ciputri, Kecamatan Kaduhejo, Kabupaten Pandeglang tersebut dijadikan tempat aborsi.

Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dir Krimsus) Polda Banten, Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Nunung Syaifuddin mengatakan, penyidik telah menetapkan tiga orang tersangka terhadap klinik aborsi tersebut. Mereka, bidan berinisial NN (47), perawat ER (38) dan seorang perempuan yang mengaborsi janinnya RY (23). “Kaitan dengan klinik aborsi kemarin kami mengamankan tiga pelaku, ketiganya telah kami tetapkan sebagai tersangka. Ketiga tersangka tersebut, satu bidan, satu perawat dan perempuan yang menggugurkan kandungannya,” kata Nunung saat dikonfirmasi Radar Banten, Minggu (1/11). (mg05-dib/air)